Neno Warisman Serukan Takbir di Luar Hari Raya, Bagaimana Hukumnya?

6
6351

BincangSyariah.Com – Sejumlah pendukung calon presiden menyatakan kepercayaan mereka bahwa mereka telah menang dengan pemilu, dengan bersama-sama mengumandangkan takbir. Takbir yang dikumandangkan dengan dipimpin oleh Ibu Neno Warisman, adalah takbir yang biasa dikumandangkan saat idul fitri dan idul adha. Pertanyaannya adalah bolehkah takbir idul fitri atau idul adha (takbir al-‘iidayn) dikumandangkan di luar shalat?

Mengucapkan Kalimah takbir pada prinsipnya adalah diantara zikir yang paling utama setelah bacaan Alquran. Nabi Saw. sendiri bersabda seperti diriwayatkan dalam Musnad Ahmad,

 أفضل الكلام بعد القرآن: سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر

 perkataan yang paling utama setelah Alquran, adalah Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar 

Namun apakah takbir tersebut boleh dibacakan untuk situasi-situasi diluar untuk tujuan ibadah. Ibn ‘Abidin dalam kitab Radd al-Mukhtar mengatakan,

التكبير جهرا في غير أيام التشريق، لا يسن إلا بإزاء العدو، أو اللصوص، وقاس عليه بعضهم الحريق، والمخاوف كلها  

Takbir dengan suara keras (jahri) di luar hari-hari tasyriq (tiga hari setelah idul adha) tidak disunnahkan, kecuali ketika sedang berhadap-hadapan dengan musuh atau penyamun. Sebagian ulama mengkiaskan dengan saat kebakaran, atau sedang ketakutan.

Imam al-Haramain, seperti dikutip Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menyatakan bahwa takbir yang bisa disebut sebagai syiar hanya digunakan untuk takbir-takbir yang diucapkan saat proses ibadah tertentu,

جميع ما ذكرناه هو في التكبير الذي يرفع به صوته، ولجعله شعارا. أما إذا استغرق عمره بالتكبير في نفسه، فلا منع منه

semua yang sudah kami sebutkan adalah untuk takbir yang boleh dikeraskan suaranya, dan untuk dijadikan syiar (terhadap ibadah). Adapun jika seseorang menghabiskan sepanjang umurnya dengan bertakbir di dalam hati/atau hanya terdengar oleh dirinya sendiri, maka itu tidak ada larangan.

Dari ibarat ini, kita bisa merenungi apakah takbir yang diucapkan ibu Neno Warisman masuk kategori sunnah atau tidak? Terkait dengan makna takbir – kita perlu mengingat petuah Gus Mus, salah seorang ulama besar di Indonesia – yang pernah menyatakan bahwa ketika seseorang mengucapkan takbir, sejatinya ia sedang (dan seharusnya) menyadari bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa di alam semesta ini. Kita manusia, yang tinggal di muka bumi ini, mungkin sangat sulit dikiaskan jika dibandingkan dengan besarnya bumi. Begitu kecil sekali.

Baca Juga :  Dua Pembagian Bid'ah Menurut Imam Suyūṭī

Apalagi Allah sebagai Tuhan yang Maha Besar, yang melampaui segala ukuran yang besar, karena Dialah pencipta ukuran besar itu sendiri. Sebesar apapun sesuatu di alam raya ini, tidak akan pernah sebesar Allah Sang Pencipta. Sehingga hemat penulis, kondisi tersebut bisa dikatakan mengucapkan takbir tidak pada tempatnya.

Takbir tersebut jelas diluar shalat, namun apakah itu sedang menunjukkan sejumlah orang yang dipimpin Ibu Neno sedang menghadapi musuh (dalam artian perang)? Kita bisa berbeda pendapat soal itu. Mungkin saja ibu Neno beserta sejumlah pendukung calon mengatakan kalau pemilu ini setara dengan peperangan. Dan, dari yang terkesan, Ibu Neno sedang menunjukkan ekspresi keyakinan kalau calon yang didukungnya selama ini menurutnya menang. Itu berarti, secara zahir takbir diucapkan untuk menunjukkan ekspresi “kemenangan politik”, terlepas dari bagaimana nanti hasil akhirnya karena masih ada mekanisme untuk menghitung jumlah suara se-Indonesia.

Demikian, semoga ini bisa menjadi pelajaran kita bersama. Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

6 KOMENTAR

  1. Artikel yg dibuat sdh cukup informatif. Sayang di paragraf terakhir ada unsur tendensius kpd ibu Neno. Harusnya ada kesimpulan yg menjadi pegangan utk peristiwa serupa di masa yg akan datang. Tetapi di paragraf terakhir justru mempertanyakan kembali hal yg dilakukan ibu Neno. Bukan sebuah kesimpulan. Pada prinsipnya dari dalil yg dikemukakan tidak ada larangan meneriakkan takbir. Dan jgn bersuudzon bahwa ibu Neno menganggap lawan politik sebagai musuh. Takbir hanya pernyataan bahwa Allah Maha Besar sehingga bisa berbuat apa2 saja yg dikehendakiNya yg secara logika tdk mungkin dilakukan. Bagaimana pula pengucapan takbir di saat gerhana di jawa barat? Penyuaraan adzan saat mengantar orang ke kubur atau saat mo betangkat haji? Sementara mereka tidak sedang berencana melaksanakan sholat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here