Neno Warisman Berdoa dengan Bentuk Puisi, Bagaimana Hukumnya?

0
560

BincangSyariah.Com – Di berbagai daerah di Indonesia, banyak dijumpai masyarakat yang berdoa kepada Allah dalam bentuk syair atau qasidah. Mereka biasanya memanjatkan doa dalam bentuk syair atau puisi tersebut ketika mereka berziarah ke kuburan para wali dan ulama, juga sebelum shalat berjemaah dilaksanakan.

Hal ini sudah menjadi tradisi yang sudah sejak lama dilakukan, terutama di kalangan masyarakat pesantren dan pedesaan. Yang terbaru, artis Neno Warisman juga berdoa dengan berbentuk puisi saat acara Munajat 212 beberapa waktu silam. Sebenaranya, bagaimana hukum berdoa dalam bentuk syair tersebut, apakah boleh?

Berdoa kepada Allah termasuk ibadah yang diperintahkan. Kita diperintah oleh Allah untuk senantiasa berdoa kepada-Nya dalam setiap hal yang kita inginkan. Allah berfirman dalam surah al-Ghafir ayat 60 berikut;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dengan meninggalkan ibadah kepada-Ku, mereka akan masuk neraka dalam keadaan kehinaan.”

Berdoa dalam bentuk syair, sebagaimana yang telah dipraktkkan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia ketika berziarah dan menjelang shalat berjemaah, hukumnya diperbolehkan. Bahkan hal tersebut pernah dilakukan oleh Nabi Saw. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa saat perang Ahzab dan perang Khandaq, Nabi Saw berdoa kepada Allah dalam bentuk syair.

Hadis dimaksud diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Bara’ bin ‘Azib, dia berkisah;

لَمَّا  كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ الْخَنْدَقِ حَتَّى  وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ الشَّعَرِ  فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ مِنْ  التُّرَابِ يَقُولُ: اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا# وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا# فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا #وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا #إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا# وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا. قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا

Baca Juga :  Menyamakan Munajat 212 Neno Warisman dengan Doa Nabi pada Perang Badar, Tepatkah?

“Pada waktu perang Ahzab dan Khandaq, aku  melihat Rasulullah Saw mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu  menutupi kulit beliau dari pandanganku, saat itu beliau bersenandung  dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawahah, sambil  mengangkat tanah beliau mengucapkan, ‘Ya Allah,  seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk,  tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami,  apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.’ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suara diakhir baitnya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here