Kritik Hadis Keutamaan Negeri Syam

8
3094

BincangSyariah.Com- Semangat beragama adalah suatu keniscayaan yang akhir-akhir ini menggejala. Beberapa istilah semisal hijrah, hijab, akhi, ukhti, halaqah, atau istilah-istilah lain dalam bahasa Arab dianggap menjadi suatu hal yang sangat Islami. Lebih-lebih ketika mendengar hadis Nabi, logika kritis kita akan dikalahkan oleh semangat beragama yang berlebihan. Mungkin benar apa yang dikatakan Charles Sander Pierce dalam semiotiknya yang mengatakan bahwa manusia berinteraksi dengan logika dan logika dilakukan melalui tanda atau simbol (sign). Hadis, dan istilah-istilah dalam bahasa Arab sebagai simbol lebih mencirikan Islam dibandingkan dengan yang lainnya, itu mengapa beberapa kalangan lebih tertarik menggunakan simbol-simbol tersebut. (Al-Syami; Jangan Suriahkan Indonesia)

Berbicara tentang hadis Nabi, terdapat banyak sekali hadis Nabi yang membincang persoalan keberkahan Syam.Saking banyaknya hadis-hadis tersebut, seakan-akan wilayah Islam lain atau bahkan wilayah-wilayah lain di seluruh dunia tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan Syam, termasuk Mekah dan Madinah. Hal inilah yang memotivasi nalar kritis Syekh al-Idlibi untuk meneliti hadis-hadis tersebut, yang pada akhirnya hasil penelitian tersebut ia tuangkan dalam karyanya, “Ahadits Fadhail al-Syam: Dirasah Naqdiyyah”. Di antara hadis-hadis keberkahan Syam adalah hadis yang menyebutkan bahwa orang-orang munafik tidak akan mampu mengalahkan penduduk syam yang beriman? Apakah demikian?Bagaimanakah kualitas hadis tersebut dan bagaimana pemaknaannya yang pas?

Hadis yang  kami maksud di atas adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Khuraim bin Fatik al-Asady, sebagai berikut:

أَهْلُ الشَّامِ سَوْطُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، يَنْتَقِمُ بِهِمْ مِمَّنْ يَشَاءُ، كَيْفَ يَشَاءُ، وَحَرَامٌ عَلَى مُنَافِقِيهِمْ أَنْ يَظْهَرُوا عَلَى مُؤْمِنِيهِمْ، وَلَنْ يَمُوتُوا إِلَّا هَمًّا أَوْ غَيْظًا أَوْ حُزْنًا

“Penduduk Syam adalah cemeti Allah di dunia, melalui mereka, (Allah) membinasakan setiap orang yang Ia kehendaki dan dengan cara yang Ia kehendaki. Diharamkan bagi orang-orang munafik untuk mengalahkan orang-orang Syam yang beriman, dan mereka (orang-orang munafik) tidak akan mati kecuali dalam keadaan gelisah, marah dan sedih.”

Kritik Hadis Keutamaan Syam

Hadis dengan redaksi di atas dapat ditemukan dalam “Musnad Ahmad”, melalui jalur Khuraim bin Fatik. Sayangnya Syu’aib Arnauth(w. 1438 H) menilai hadis ini dhaif, demikian pula dengan Syekh al-Albani (w. 1420 H) yang juga menilai hadis ini dhaif. Studi yang lebih jauh sudah dilakukan oleh Syekh Shalahuddin al-Idlibi mengenai hadis ini.Beliau menyimpulkan bahwa hadis ini bukan merupakan hadis Nabi yang riwayatnya sampai kepada Rasulullah SAW, akan tetapi riwayat hadis ini terputus hanya sampai kepada sahabat Nabi SAW yang bernama Khuraim bin Fatik al-Asady, atau yang dalam istilah ilmu hadis disebut dengan hadis mauquf. Kesimpulan ini dapat dirujuk dalam karya beliau “AhaditsFadhail al-Syam.” Adapun hasil kesimpulan Syekh al-Idlibi didapatkan dari upayanya mengumpulkan seluruh jalur periwayatan dan menganalisisnya sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu hadis.

Baca Juga :  Mengenal Ragam Aliran Mu'tazilah

Perlu diperhatikan bahwa dalam menilai sebuah hadis, hadis dinamakan shahih apabila bersambung sanad atau periwayatnya, periwayat-periwayat tersebut juga harus memiliki kriteria adil dan kredibel, dan yang terakhir, hadis tersebut juga diharuskan untuk tidak terindikasi syadz atau pun ilat (cacat). Setelah seluruh jalur periwayatan dikumpulkan olehSyekh al-Idlibi, hadis di atas dipilah menjadi dua. Pertama adalah riwayat yang marfu’ (hadis yang jalur sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW), ini dapat ditemukan dalam “al-Mu’jam al-Kabir” karya al-Thabrani dan dalam riwayat Ibn ‘Asakir. Dari keduanya, ditemukan tiga jalur periwayatan yang masing-masing melalui perawi yang bernama al-Walid bin Muslim dari Muhammad bin Ayyub bin Maisarah dan seterusnya hingga sahabat Khuraim dan Nabi Muhammad SAW. Dari tiga jalur ini semuanya marfu’ kepada Nabi SAW.

Yang kedua adalah riwayat mauquf. Riwayat ini ditemukan dalam empat tempat, di dalam “TarikhDimasyq” karya Ibn ‘Asakir, “al-Ahad” karya Ibn Abi ‘Ashim, “al-Ma’rifah wa al-Tarikh” karya Ya’qub bin Sufyan, dan “al-Tsiqat” karya Ibn Hibban. Kesemuanya meriwayatkan melalui jalur yang sama dengan riwayat marfu’ sebelumnya, yakni melalui al-Walid bin Muslim dari Muhammad bin Ayyub bin Maisarah dan seterusnya, akan tetapi tidak sampai kepada Rasulullah SAW.

Jalur riwayat marfu’ yang berasal dari al-Walid bin Muslim di atas sepertinya tidak terlihat bermasalah, namun jika dibandingkan dengan riwayat yang kedua, tampak jelas bahwa sebenarnya riwayat al-Walid bin Muslim dari Muhammad bin Ayyub ternyata mauquf. Dalam istilah ilmu hadis, fakta ini disebut dengan ilat (cacat) dalam hadis, yakni hadis yang kelihatannya shahih namun ternyata ditemukan suatu sebab yang samar dan tersembunyi (dalam hal ini terputus hanya sampai sahabat) yang menyebabkan rusaknya hadis tersebut. Ilat yang dimaksud adalah memarfu’kan hadis mauquf. Oleh sebab ituSyekh al-Idlibi menyimpulkan bahwa hadis dengan riwayat marfu’ di atas lemah atau dhaif.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Apakah Hari Akhir itu?

Cara Memahami Hadis Keutamaan Syam

Sebagai ulama yang berasal dari negeri Syam, suatu ketika Ibn Taimiyyah (w. 728 H) memberikan komentarnya terkait hadis di atas dalam Majmu’ Fatawanya, beliau bercerita bahwa ia pernah beradu argumen dengan beberapa qadhi yang suatu saat pernah mendebatnya tentang fitnah yang menimpa Syam. Menurutnya, fitnah tersebut disulut oleh orang-orang munafik yang fajir. Untuk menguatkan argumennya ia mengutip hadis tentang penduduk Syam yang merupakan cemeti Allah dan orang-orang munafik tidak akan memenangkan orang-orang beriman di negeri tersebut.

Saat itu, umat Islam tengah menghadapi peperangan melawan bangsa Mongol (Tartar) yang pada akhirnya dapat dimenangkan oleh umat Islam, bangsa Tartar akhirnya angkat kaki dari Damaskus. Menurut Ibn Taimiyyah, ini adalah bukti atau pembenaran bahwa benar Syam adalah tanah yang tidak akan dimenangkan oleh orang-orang munafik sekalipun.

Jika diamati, di sini terdapat pengagungan luar biasa terhadap Syam. Benar jika dikatakan bahwa Allah berhak mengagungkan siapapun yang Ia kehendaki, dan merendahkan siapapun yang Ia kehendaki. Persoalannya adalah jika ternyata berita itu tidak benar adanya? Atau jika pemaknaannya kurang tepat? Pengagungan tersebut bisa dilihat dalam diksi yang digunakan dalam redaksi hadis di atas. Dikutip dari kitab “Faidh al-Qadir”, al-Minawi menjelaskan bahwa “cemeti” dalam hadis di atas adalah bentuk kiasan atas siksaan yang sangat pedih, ini disebabkan karena justru rasa sakit yang diberikan oleh cemeti lebih menyiksa dibandingkan dengan yang lainnya.

Ditambah lagi dengan kondisi orang-orang munafik yang digambarkan dengan kata “ghaidhan” yang berarti kemarahan yang merongrong hati manusia. Sedangkan kata “ghumman” adalah kesusahan dan kelemahan, dan kata “huznan” yang berarti kesedihan. Hadis ini menunjukkan betapa penduduk Syam memiliki kelebihan dalam hal mempertahankan diri dan melawan kezaliman. Kalau hadis di atas diterjemahkan secara bebas, maka maknanya akan tampak sebagai berikut: “Jangankan orang yang jelas-jelas memusuhi Islam, musuh dalam selimut pun (munafik) akan binasa dalam keadaan yang sangat menyedihkan di tangan penduduk Syam.”

Baca Juga :  Ini Tiga Orang yang Dijauhi Rasulullah di Hari Kiamat

Bukankah fakta sejarah justru berkata lain? Palestina yang merupakan bagian dari Syam, telah banyak mengalami konflik dan perang yang tidak pernah berakhir sampai saat ini, yang kekuasaannya berganti-ganti sepanjang sejarah? Palestina dulunya dikuasai oleh Persia, dilanjutkan oleh Makedonia, Yehuda, Romawi, Bizantin, Persia, Khulafaur-Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyyah, Seljuk, Tentara Salibis, Ayyubiyah, Mamluk, Ottoman, Britania, dan Israel/Palestina. Atau Damaskus, bukankah telah mengalami banyak pergantian kekuasaan? Yang dulunya berada di tangan kekuasaan Romawi kemudian Khulafau Rasyidin, Bani Umayyah kemudian berganti menjadi di bawah kekuasaan Bani Abbasyiah, lalu kemudian Ottoman. Bukankan meraka sama-sama muslim? lantas di manakah peran penduduk Syam?

Saat ini, di Suriah (Syam) sebagaimana dilansir oleh www.warsintheworld.com tengah terlibat konflik yang tidak sederhana untuk dipetakan manakah munafik atau bukan? Siapakah yang harus dikatakan sebagai munafik, apakah ISIS? Ataukah Amerika dan beberapa sekutunya yang hendak berperang melawan ISIS? Di antara sekutu Amerika adalah Australia, Bahrain, Belgia, Kanada, Mesir, Jerman, Perancis, Iraq, Itali, Saudi Arabia, dan banyak lagi yang lainnya. Ataukah pemberontak yang tergabung dalam tentara pembebasan Suriah ataukah tentara dan beberapa kelompok yang pro presiden Assad?

Persoalan lain yang menganggu Syekh al-Idlibi dalam menelaah hadis-hadis Syam adalah keterlibatan Ka’ab al-Ahbar, seorang pemuka Yahudi yang masuk Islam di era khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Diduga sebagian hadis-hadis Syam bersumber dari Ka’ab al-Ahbar yang diulang-ulang dan akhirnya diceritakan oleh sahabat-sahabat Nabi lainnya. Hal ini dibuktikan oleh Syekh al-Idlibi dengan mengutip sebuah hadis yang hampir sama dengan hadis di atas yang bersumber dari Ibn ‘Asakir dari Ka’ab al-Ahbar sebagai berikut:

أَهْلُ الشَّامِ سَيْفٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ، يَنْتَقِمُ بِهِمْ مِمَّنْ عَصَاهُ فِي أَرْضِهِ.

“Penduduk Syam adalah salah satu pedang dari pedang-pedang Allah, dengan mereka Allah membinasakan orang-orang yang durhaka yang ada di tanah-Nya (Syam).”

Dengan demikian lebih tepat jika kita merujuk kepada Alquran surah al-Maidah ayat 40 yang mengatakan bahwa Allah sang pemilik langit  dan bumi, yang menyiksa siapapun yang dikehendakinya dan memberi ampun siapapun yang Ia kehendaki dan Dia adalah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Wallahu a’lam.

8 KOMENTAR

  1. Menyedihkan.. tulisan ini benar-benar gagal paham ttg keberkahan bumi syam, makna keberkahan disini tercampur dgn kecondongan kpd dunia, apakah ada satu baris saja ayat di Alquran yg memuji dunia ??

    makna keberhakan disini adalah dibukanya pasar jihad ! bumi syam yg bergejolak saat ini Allah SWT telah membuka lebar-lebar amalan dan pahala jihad yang melimpah. Apalah ada amalan yang paling tinggi dari ibadah Jidad wahai orang-orang yang berilmu.

    Di bumi Syam tercampur peperangan antara haq dan bathil.. beruntunglah mereka yang dijalan haq. Tapi sebagain manusia tertipu, mereka mengira keberkahan disini identik dgn kemakmuran kehidupan dunia ..

  2. Sabar saudara..itu cuma penafsiran..ayo kita sama istighfar kepada Allah Swt.smoga dgn ilmu yg kita sampai kan..bisa bermanfaat..bgi kita smua..dan jgan saling menghujat sesama huwaallahu a’lam..

  3. Bagaimana dengan ayat di bawah ini…???, apakah ayat ini dibawah ini juga palsu :

    وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
    wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn
    Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.
    al-anbiya : 71 .
    Kalau tidak mau pergi berjihad lebih baik diam saja tidak usah menghalangi orang yg hendak pergi berjihad ke sana…, dan tunjukkan keutamaan negeri nusantara ini bila memang ada ayat yang menyatakannya…dasar kalian Liberal & Wahabi…

  4. Bagaimana dengan ayat di bawah ini :
    وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
    wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn
    Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.
    al-anbiya : 71 ,
    Apakah ayat diatas palsu?. Kalau kalian tidak mau berjihad yah lebih baik diam saja, tidak usah mencaci maki mereka yang hendak berjihad ke sana. Janganlah telalu mengandalkan otak & akal kalian dalam memahami hadist & alquran…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here