Negara-Negara Pengguna Mata Uang Dinar-Dirham dan Risiko Perdagangan Internasional

0
27

BincangSyariah.Com – Dinar merupakan mata uang yang memiliki bahan penyusun terdiri atas emas. Adapun dirham, merupakan mata uang yang memiliki bahan penyusun terdiri atas perak. Kedua mata uang ini, sering disebut dalam teks-teks fikih sebagai nuqud. Sampai saat ini masih ada negara pengguna mata uang dinar dan dirham.

Selain dari kedua mata uang tersebut, dalam tarikh Islam, juga dikenal adanya mata uang yang terbuat dari bahan tembaga, dan sering dikenal dengan istilah fulus.

Dinar merupakan mata uang untuk menyatakan satuan harga yang besar atau utama (aghlab). Sementara dirham, menempati derajat di bawahnya. Adapun fulus, merupakan satuan mata uang terkecil dalam alat tukar. Karena kecilnya nilai tukar fulus ini, maka seringkali keberadaannya dianggap sebagai tafih (remeh).

Sebagai mata uang yang utama, dan mengingat bahwa keduanya terbuat dari bahan baku emas dan perak, maka dinar dan dirham menempati derajat barang ribawi. Adapun untuk fulus, karena bahannya terbuat dari tembaga, maka fulus lebih sering dikenal tidak sebagai barang ribawi.

Berangkat dari sini, maka kita tidak heran bila dalam salah satu keputusan bahtsul masail waqi’iyah (Pembahasan Masalah Aktual) dinyatakan dua keputusan, bahwa:

Pertama, Pertukaran mata uang paling utama dengan mata uang utama lainnya, menjadi boleh untuk tidak sama dikarenakan mata uang utama menempati derajatnya dinar dengan bahan dasar pembuatan emas.

Sementara mata uang utama, namun ada di bawah derajat mata uang aghlab, ditempatkan menempati derajatnya dirham dengan bahan dasar perak. Pertukaran antara mata uang paling utama (aghlab) dengan mata uang utama (ghalib) lainnya, seolah menyerupai pertukaran emas dengan perak, sehingga boleh untuk tidak sama, dengan catatan nilai tukarnya langsung disepakati saat itu juga di majelis akad, dan tidak dengan setelah berpisah majelis tanpa adanya kesepakatan.

Kedua, Pertukaran antara mata uang aghlab (paling umum) dan ghalib (umum), dengan mata uang receh (fulus), diqiyaskan atau dianalogikan dengan pertukaran antara barang ribawi dengan barang non ribawi. Alhasil, pertukarannya boleh untuk tidak sama disebabkan karena menempati derajatnya jual beli.

Memang ada pandangan hukum lainnya yang dipertimbangkan oleh para ulama, yang menganggap ketidaksepadanan nilai pertukaran, menandakan adanya praktik riba al-fadhli atau riba qardli.

Semua perbedaan pandangan ini didasarkan pada pertimbangan fisik barang yang diqiyaskan dengan mata uang yang terbuat dengan bahan penyusun yang manshush dan terdapat dalam nushush al-syariah.

Alhasil, langkah solusi untuk keluar dari khilaf pendapat tersebut, adalah dengan melakukan pendekatan tarjihy sebagai bentuk kehati-hatian, yaitu:

  1. Yang paling hati-hati, adalah menempatkan ketidaksepadanan itu sebagai dilarang, meski obyek yang ditukar terdiri dari mata uang dengan kelas keutamaan yang berbeda.
  2. Adapun bila karena faktor hajah, maka dibolehkan untuk berbeda kuantitas antara mata uang yang ditukar dengan catatan adanya kesepakatan nilai tukarnya sebelum berpisah majelis akad.

Negara Pengguna Mata Uang Dinar dan Dirham di era Modern

Setidaknya ada beberapa negara di Timur Tengah, yang masih menggunakan mata uang dinar dan dirham. Untuk negara pengguna mata uang dinar, antara lain adalah Aljazair, Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Libya, Tunisia, dan Serbia. Sementara itu, negara pengguna mata uang dirham antara lain ada Maroko, Uni Emirat Arab, dan Armenia. Arab Saudi sendiri menggunakan Real.

Amerika yang termasuk negara dengan basis mata uang Dolar, dalam sejarahnya juga menggunakan dinar, yang diubah nama menjadi dolar,. yang artinya sendiri adalah emas.

Standar Kalibrasi Dinar dan Dirham

Di Indonesia, ada 2 perusahaan produsen dinar dan dirham sebagai komoditas, yaitu Wakala yang dimotori oleh Zaim Saidi, dan PT Aneka Tambang.

Dinar (koin emas) yang diproduksi oleh Wakala, memiliki berat 4.25 gram berkadar 22 karat, yang berarti kadar kemurniannya adalah 91,74%. Sementara itu untuk dirham (koin perak) diproduksi dengan berat 2.975 gram, 24 karat dengan kadar kemurnian 99.9%.

Hal yang sama dengan Wakala, adalah PT Aneka Tambang juga merupakan salah satu produsen dinar di Indonesia, menerbitkan dengan kadar 22 karat, yang berarti tingkat kemurnian emasnya adalah 91,7%.

Secara tidak langsung, hal ini memberikan informasi bahwa koin produksi Wakala dan Antam, pada dasarnya memiliki derajat dan kadar kemurnian yang sama dan standar, khususnya di Indonesia.

Lantas, bagaimana bila dibandingka dengan standart fikih dan standart internasional dinar-dirham tersebut?

Berat 4.25 Gram untuk koin emas ini, rupanya memang sama dengan pandangan Syeikh Yusuf Qardhawi di dalam Fiqhu al-Zakat, yang menyebutkan bahwa 1 Dinar adalah setara 1 mitsqal, dengan berat 4.25 gram. Alhasil, secara fikih, setiap produk dinar-dirham tersebut sudah benar.

Selanjutnya, bagaiana bila kadar dinar-dirham tersebut dibandingkan dengan standart internasional? Di sini, kita menjumpai adanya 2 variasi standart kadar yang berlaku di dunia internasional terkait dengan ketetapan dinar dan dirham, yaitu:

  1. Islamic Mint Malaysia di Malaysia menetapkan standart ketentuan 22 karat
  2. Adapun Canadians Maples, menetapkan standart kadar emas adalah 24 karat.

Meskipun ada perbedaan mengenai besaran karat yang dikandung oleh bahan dinar, nampaknyya hal yang sama tidak terjadi pada berat. Kedua standart internasional tersebut, sama-sama mematok berat per 1 dinarnyya adalah memenuhi besar 4.35 gram emas.

Pertukaran Dinar-Dirham dengan Mata Uang Rupiah di Pasar Indonesia

Bagaimanapun juga, karena ada negara yang masih menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uangnya, maka ada kemungkinan bahwa dinar dan dirham tersebut untuk ditukar dengan mata uang lokal Indonesia. Pertukaran ini secara tidak langsung menempati derajatnya sharf, meskipun Indonesia tidak menggunakan dinar dan dirham. Alasannya, karen mata uang paling utama adalah menempati derajatnya emas. Mata uang utama menempati derajatnya perak.

Sudah barang tentu, bentuk pertukaran ini dihitung berdasarkan harga emas dan perak di pasaran. Alhasil, kadang naik, dan kadang turun.

Apakah hal ini termasuk yang menyalahi aturan keuangan di Indonesia? Pada tulisan terdahulu, penulis sudah menyampaikan bahwa produk mata uang lain adalah diperbolehkan penggunaannya untuk transaksi di Indonesia, apabila transaksi tersebut memiliki kaitan dengan APBD dan APBN. Wallahu a’lam bi al-shawab

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here