Nasihat untuk Ustadz yang Belum Mumpuni Ilmu Agama, Tapi Sudah Berani Ceramah Kemana-mana

0
1395

BincangSyariah.Com – Salah satu tradisi kenabian yang masih terus dilestarikan hingga sekarang oleh kiai-kiai kampung adalah mendidik generasi Muslim sejak dini agar bisa membaca al-Qur’an secara benar dan baik sesuai aturan ilmu Tajwid. Hal serupa juga dilakukan oleh para ulama di pesantren-pesantren yang tersebar di pelosok Nusantara.

Di kampung penulis (Batukerbuy, Pasean, Pamekasan, Madura), misalnya, beberapa kiai kampung dengan tekun dan sabar mendidik anak-anak Muslim membaca al-Qur’an dari tahun ke tahun. Mereka melakukan semua itu dengan ikhlas, tanpa pamrih, dan tidak digaji sepeserpun. Biasanya anak-anak di sana belajar mengaji di langgar-langgar dari Magrib sampai Isya’. Hal ini dilakukan bukan hanya sekadar bulanan, tetapi tahunan: minimal sejak kelas I Sekolah Dasar (SD) sampai lulus. Bahkan rata-rata mereka belajar mengaji di langgar sejak Taman Kanak-Kanak (TK). Selain itu, mereka juga belajar ilmu Tajwid di Madrasah Diniyah (MD). Setelah lulus SD dan MD, mereka rata-rata melanjutkan rihlah keilmuannya ke pondok pesantren.

Sebab, al-Qur’an merupakan kalam Allah yang menjadi pedoman hidup umat Islam dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, al-Qur’an tidak hanya semata-mata dibaca, tetapi juga harus diteliti dan dipahami kandungan-kandungannya agar mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Volume 1, 2002: v-vi). Selain itu, membaca al-Qur’an juga merupakan ibadah utama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah (Habib Zein bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2018: 183-188).

Menurut Buya Hamka, keistimewaan al-Qur’an menjadi kurang sempurna apabila belum dibaca. Artinya, meskipun al-Qur’an sudah ditulis dan dibukukan dalam satu mushaf serta dicetak berjuta-juta, tetapi keistimewaannya tidak akan tercapai apabila belum dibaca. Cara membaca al-Qur’an ini sudah diatur dalam ilmu Tajwid. Hal ini dilakukan agar bacaan al-Qur’an, baik mengenai cara mengucapkannya maupun mengenai tempat keluarnya huruf (makharij al-khuruf), senantiasa terjaga (Tafsir al-Azhar, jilid 1: 10).

Apalagi secara bahasa makna al-Qur’an adalah “sesuatu yang dibaca.” Buya Hamka menjelaskan bahwa meskipun kata al-Qur’an merupakan mashdar (kata benda) yang berarti “bacaan”, tetapi ia lebih dekat diartikan kepada isim maf‘ul (sesuatu yang dikerjakan), sehingga bermakna “yang dibaca” (hlm. 7). Oleh karena itu, aneh dan ironis apabila al-Qur’an tidak dibaca dan hanya dijadikan jimat, pajangan, atau hiasan di rumah-rumah.

Adapun mendidik generasi Muslim membaca al-Qur’an sejak dini ini merupakan ajaran Islam yang sangat ditekankan. Sebuah hadis menyebutkan: “didiklah anak-anak kalian semua dengan tiga perkara: mencintai nabi kalian, mencintai keluarga nabi, dan membaca al-Qur’an.” Hadis lain menyebutkan bahwa orang tua yang mendidik anaknya membaca al-Qur’an sampai bisa akan mendapatkan pahala yang sangat besar (Imam al-Gazali, Minhaj al-Muta‘allim, 2010: 77).

Menurut Imam al-Gazali, seorang bapak wajib mendidik anaknya dan mengirimnya kepada seorang guru (yang akan mengajari dan mendidiknya ilmu-ilmu agama) apabila sudah berumur empat tahun lebih. Sebab, apabila seorang bapak tidak mendidik anaknya dan tidak mengirimnya kepada seorang guru (sehingga perilaku anak tersebut menjadi rusak dan berada dalam kebodohan, kedurhakaan, dan perbuatan-perbuatan maksiat), maka dia akan memperoleh dosa-dosa dari perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh anaknya. Selain itu, dia juga akan mendapatkan siksa sebagaimana siksa yang didapatkan oleh anaknya (hlm. 76).

Salah satu pendidikan yang wajib diajarkan seorang bapak kepada anaknya adalah membaca al-Qur’an secara benar dan baik sampai bisa. Namun, apabila sang bapak tersebut tidak bisa mengajari dan mendidik anaknya membaca al-Qur’an secara benar dan baik, maka dia wajib mengirimnya kepada seorang guru yang sudah fasih dan mahir membaca al-Qur’an.

Baca Juga :  Tiga Tips Agar Ilmu Tidak Sia-sia  di Sisi Allah

Apalagi belajar al-Qur’an dan mengajarkan al-Qur’an merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” Hal ini penting diperhatikan karena (hadis lain menyebutkan) “banyak orang yang membaca al-Qur’an, sedang al-Qur’an (yang dibacanya) melaknatnya” (lihat dalam Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an yang merupakan terjemahan dari kitab Fath al-Mannan karya H. Maftuh Basthul birri).

Dengan demikian, Syekh Syamsuddin al-Jazari mewajibkan setiap Muslim yang hendak membaca al-Qur’an mempelajari terlebih dahulu bagaimana cara membaca al-Qur’an yang benar. Sebab, seseorang yang membaca al-Qur’an tanpa menggunakan ilmu Tajwid―sehingga bacaannya salah dan merubah makna dan i‘rab al-Qur’an, maka dia berdosa dan durhaka kepada Allah (Matn al-Jazariyyah, diterjemahkan dan dijelaskan ke dalam bahasa Madura oleh Ustaz Umar Faruq, hlm. 3-4 & 13).

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Mahmud. Menurutnya, hukum belajar ilmu Tajwid adalah fardu kifayah. Sedangkan hukum mengamalkan ilmu Tajwid ketika membaca al-Qur’an adalah fardu ‘ain (Hidayah al-Mustafid, hlm. 5). H. Maftuh Basthul birri menyebutkan bahwa hukum menggunakan Tajwid ketika membaca al-Qur’an adalah fardu ‘ain berdasarkan dalil al-Qur’an (seperti al-Muzzammil (73): 4), hadis (seperti telah disebutkan sebelumnya), dan ijmak sahabat dan ulama. Beliau menegaskan bahwa tidak ada seorangpun (baik dari kalangan para sahabat maupun para ulama masa sekarang) yang memperbolehkan seseorang membaca al-Qur’an semaunya sendiri tanpa Tajwid (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an, 2000: 23-24).

Oleh karena itu, para ulama membahas secara sistematis aturan-aturan membaca al-Qur’an yang benar dan baik dalam ilmu Tajwid. Hal ini dilakukan agar umat Islam terhindar dari kesalahan ketika membaca kalam Allah yang mulia dan suci. Sebab, menurut ijmak (kesepakatan) para ulama, seseorang yang membaca al-Qur’an tanpa Tajwid, maka bacaan tersebut bukan al-Qur’an lagi (hlm. 124).

Menurut H. Maftuh, minimal terdapat tiga langkah yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin belajar membaca al-Qur’an secara benar dan baik. Pertama, dia harus belajar mengaji (berguru) secara sungguh-sungguh kepada guru yang sudah fasih dan mahir membaca al-Qur’an. Sehingga dia bisa mempraktikkan ilmu Tajwid secara benar dan baik. Kedua, dia harus senantiasa melatih lisannya membaca al-Qur’an agar terbiasa baik, lancar, dan teliti ketika membaca al-Qur’an. Ketiga, dia harus memahami ilmu Tajwid sebagai pedoman dan pegangan ketika membaca al-Qur’an, baik mengenai tempat keluarnya huruf (makhraj), sifat-sifat huruf, waqaf, maupun macam-macam bacaan (hlm. 28).

Seharusnya Ustaz Evie Effendi Mengamalkan Sabda Rasulullah saw.

Beberapa waktu lalu sempat viral video ustaz Evie membaca al-Qur’an di majelis dakwahnya. Sebab, dia membaca al-Qur’an secara tidak benar dan fatalnya dia membimbing para jemaahnya untuk mengikuti bacaannya yang salah tersebut. Oleh karena itu, tulisan ini mengkritik Evie dalam posisinya sebagai ustaz yang membimbing para jemaah di muka umum, bukan sebagai orang biasa yang sedang belajar membaca al-Qur’an. (Baca: Ustadz Ahong Perbaiki Tajwid dan Waqaf Al-Qur’an Bacaan Ustadz Evie Effendi)

Padahal apabila ustaz Evie betul-betul berguru kepada Rasulullah saw. dan para sahabat, maka otomatis dia akan mengamalkan sabda Rasulullah saw. yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya (hadis riwayat al-Bukhari). Artinya, dia akan belajar terlebih dahulu membaca al-Qur’an secara benar dan baik sesuai ilmu Tajwid dan baru kemudian mengajarkannya kepada orang lain (para jemaah).

Baca Juga :  Benarkah Pelaku Homoseksual Harus Dihukum dengan Dibakar?

Hadis lain menyebutkan bahwa orang yang berilmu (‘alima) dan mengamalkan ilmunya (‘amila) serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain (‘allama) memiliki panggilan yang sangat agung di kerajaan langit (Minhaj al-Muta‘allim, hlm. 71). Menurut Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, salah satu bentuk jihad an-nafs (memerangi hawa nafsu) adalah mempelajari ajaran-ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, mengamalkannya, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Sebab, ilmu yang tidak diamalkan menjadi tidak berguna. Sementara apabila Muslim tidak mengajarkan ilmunya kepada orang lain, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang sangat tercela dalam Islam (Zad al-Ma‘ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, 2009: 333).

Oleh karena itu, apabila memahami hadis dan penjelasan Ibnu Qayyim tersebut dalam konteks dakwah, maka setidaknya ada tiga tahap yang harus dilalui oleh seorang Muslim yang ingin berdakwah, yaitu: ‘alima (belajar agama terlebih dahulu secara sungguh-sungguh), ‘amila (mengamalkan ilmu yang didapatkan), dan ‘allama (mengajarkan dan menyebarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain).

Baiklah, beberapa kesalahan bacaan al-Qur’an al-Baqarah (2): 221 ustaz Evie tersebut secara ilmu Tajwid adalah mengenai waqaf, makhraj, dan menghilangkan huruf al-Qur’an. Pertama, dia berhenti (waqaf) dan memulai (ibtida’) seenaknya sendiri tanpa memerhatikan makna ayat al-Baqarah (2): 221 tersebut. Padahal di ayat tersebut dalam mushaf al-Qur’an versi Indonesia, baik cetak maupun digital, sudah diberikan beberapa tanda waqaf.

Waqaf ala ustaz Evie ini termasuk waqaf qabih (waqaf jelek/tidak boleh), karena berhenti pada kalam yang belum sempurna dan belum bisa dipahami (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an, hlm. 152). Waqaf qabih adalah berhenti di akhir kalimat yang masih belum sempurna maknanya (sehingga tidak bisa dipahami), karena masih memiliki hubungan makna dengan kalimat berikutnya (Matn al-Jazariyyah, hlm. 36-37). Waqaf qabih tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat, seperti kehabisan napas atau karena gangguan perkara lain yang terjadi secara tiba-tiba. Ketika seseorang melakukan waqaf qabih karena darurat, maka cara memulai (ibtida’) bacaan tersebut adalah dengan mengulanginya lagi agar tidak merusak makna ayat tersebut (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an, hlm. 152).

Kedua, kalimat Yu’minna ketika diwaqaf harus dibaca Yu’minn, bukan Yu’minna sebagaimana dibaca oleh ustaz Evie. Sebab, ia termasuk bagian dari waqaf sukun/taskin, yaitu mematikan huruf akhir sebuah kalimat yang hidup. Waqaf sukun ini memiliki beberapa macam, seperti apabila huruf akhir dirangkapi tasydid, maka cara membacanya (ketika diwaqaf) adalah ditasydidkan dahulu dan baru kemudian disukunkan, seperti kalimat ujurahunna dibaca ujurahunn ketika diwaqaf dengan berdengung dan sejenisnya (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an, hlm. 133).

Ketiga, kata musyrikatin dibaca musyrikah ketika diwaqaf, bukan musyrikat sebagaimana dibaca oleh ustaz Evie. Sebab, huruf ta’ dalam kata musyrikatin adalah ta’ marbuthah (huruf ta’nya bulat), bukan ta’ maftuhah. Ta’ marbuthah ketika diwaqaf harus dibaca ha’, karena termasuk bagian waqaf ibdal (waqaf yang mengganti huruf), seperti kata thayyibatun ketika diwaqaf dibaca thayyibah dan sejenisnya (hlm. 135).

Keempat, kata yu’minna, mu’minatun, dan mu’minun huruf sukunnya adalah hamzah, bukan ‘ain. Sedangkan ustaz Evie membaca makhraj huruf hamzah tersebut dengan makhraj huruf ‘ain. Padahal makhraj huruf hamzah dan huruf ‘ain jelas berbeda. Hal ini akan diketahui secara jelas apabila mempelajari ilmu Tajwid kepada ustaz atau kiai yang sudah ahli.

Baca Juga :  Hukum Makan Belut, Halal atau Haram?

Kelima, ustaz Evie membaca kalimat a‘jabatkum dengan ajabtum dan diperbaiki menjadi ajabatkum, yang keduanya sama-sama salah dan sama-sama mengurangi huruf al-Qur’an. Selain itu, dia membaca wa la‘abdun dengan wal ‘abdun. Hal ini jelas merubah huruf al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah, yaitu dari huruf lam hidup berharkat fathah (wa la‘abdun) berubah menjadi huruf lam sukun (wal ‘abdun).

Komentar Beberapa Santri Habib Umar bin Hafiz

Salah satu netizen (barangkali follower atau hanya simpatisan ustaz Evie) berkomentar di media sosial agar orang-orang yang menghujat bacaan al-Qur’an ustaz Evie mendengarkan bacaan al-Qur’an Habib Umar bin Hafiz (Pengasuh Darul Musthofa, Tarim, Yaman). Sebab, menurutnya, orang yang mengerti Tajwid dan makharij al-khuruf akan kaget apabila mendengar bacaan al-Qur’an Habib Umar bin Hafiz.

Merespon komentar ini, penulis sengaja bertanya kepada beberapa kerabat dan sahabat yang pernah belajar di Tarim, Yaman, seperti Fahmi Saifuddin (alumni Darul Musthofa), Abdullah Fikri Fahmi (alumni Darul Musthofa dan pernah menashih bacaan al-Qur’annya kepada Sayyid ‘Ali Ba‘alawi), Ahmad Nizar Syamwil (alumni Al-Ahqaff University), dan Roehana Rofaidatun Umroh (alumni Al-Ahqaff University dan pernah wisuda tahfiz al-Qur’an bi al-gaib di Pesantren Ali Maksum, Krapyak). Keempat orang tersebut memberikan penilaian yang sama terhadap bacaan al-Qur’an (al-Baqarah (2): 221) ustaz Evie, yaitu salah secara ilmu Tajwid.

Menurut Roehana, apabila menempatkan Evie sebagai orang biasa yang sedang belajar al-Qur’an, maka hal itu tidak bermasalah. Sebab, orang belajar pastinya tidak akan luput dari kesalahan dan akan tetap mendapatkan pahala. Semakin giat dan bersusah payah dalam belajar, maka dia akan semakin mendapatkan pahala yang banyak dari Allah. Namun, apabila menempatkan Evie sebagai ustaz, maka hal itu tentu sangat bermasalah. Sebab, dia mengajarkan al-Qur’an di luar keahliannya. Mengingat bacaan al-Qur’annya masih banyak yang salah. Sehingga dia masih belum cakap dan pantas untuk mengajarkan al-Qur’an kepada para jemaahnya.

Di sisi lain, Ahmad Nizar menilai bahwa apabila ustaz Evie dalam hal dasar saja (membaca al-Qur’an) masih salah, maka bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan makna dan kandungannya―yang tentu membutuhkan ilmu-ilmu yang lebih berat, seperti memahami bahasa Arab, tafsir, ilmu tafsir, hadis, dan lainnya.

Adapun mengenai bacaan Habib Umar bin Hafiz, Fahmi Saifuddin menjelaskan bahwa beliau sama-sama mengamalkan tiga tingkatan dalam membaca al-Qur’an, yaitu tahqiq (pelan), tadwir (sedang), dan hadr (cepat) sesuai situasi dan kondisi yang menghendaki. Dalam hal ini, beliau tetap menjaga (menggunakan) Tajwid, baik ketika membaca al-Qur’an secara tahqiq, tadwir, maupun hadr. Menurut H. Maftuh, setiap orang boleh membaca al-Qur’an, baik secara tahqiq, tadwir, maupun hadr asalkan tetap menggunakan Tajwid (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an, hlm. 123-124).

Hal senada juga disampaikan oleh Abdullah Fikri. Menurutnya, bacaan al-Qur’an Habib Umar bin Hafiz adalah benar dan sesuai dengan ilmu Tajwid. Bahkan bacaan beliau termasuk salah satu bacaan al-Qur’an yang paling bagus. Cuman bedanya beliau tidak menggunakan nada atau lagu seperti yang biasa digunakan oleh imam-imam lain di Timur Tengah. Beliau memang sengaja meninggalkan (tidak menggunakan) lagu-lagu ketika membaca al-Qur’an, karena memang dalam masalah tersebut masih terdapat perbedaan pendapaat yang sangat besar di antara para ulama. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here