Nasihat Sejuk Gus Mus di Tahun Politik yang Panas

0
472

BincangSyariah.Com – Tahun politik memang sangat riskan dengan saling adu kekuatan antara satu pendukung paslon dengan yang lainnya. Bahkan mirisnya mereka tak jarang terlihat adu mulut dan saling melontarkan ucapan yang tidak pantas didengar. Oleh karena itu, marilah kita renungkan nasihat dari Gus Mus yang beliau sampaikan kepada jamaah pengajian rutin tafsir Al-Ibriz sebagaimana berikut.

Pada kajian tersebut Gus Mus membaca, kemudian mengartikan dan menerangkan surah Al-Baqarah ayat 112 dengan menggunakan bahasa Jawa yang fasih.

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Iya! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Saat menerangkan ayat ini, Gus Mus mengingatkan kepada para jamaah bahwa semua orang, entah dari partai atau organisasi manapun harus memasrahkan dirinya kepada Allah swt. “Apa itu, yang nentukan bukan partai, bukan organisasi, bukan kumpulan-kumpulan kayak gitu, yang menentukan (seseorang itu baik) adalah pasrahnya kepada gusti Allah swt. makanya dijuluki Islam.” kata Gus Mus dengan menggunakan bahasa Jawa yang fasih.

Mulai dari Nabi Ibrahim a.s. agama itu namanya Islam. Nabi Ibrahim a.s. bersabda, “Wa ana awwalul muslimin, dan sayalah orang yang pertama kali Islam.”  Sayangnya, kata Gus Mus, orang sekarang hanya mengira Islam itu syariat saja. Tidak. Islam itu justru pasrah kepada Allah swt.

Sampai Nabi Musa a.s. Nabi Isa a.s., hingga yang terakhir Nabi Muhammad saw. itu Islam semuanya. Karena menyerahkan semuanya kepada Allah. Oleh karena itu, ketika Allah swt. perintah shalat, ya dia shalat. Lah, dia kan masrahkan dirinya kepada Gusti Allah swt., koq nggak sembahyang?”

Baca Juga :  Hukum Makan Telur yang Berdarah

Kalau semuanya diserahkan kepada Allah, dan Allah melarang tidak boleh bertengkar dengan saudaranya, maka dia tidak akan bertengkar dengan saudaranya. Kamu pasrah sama mertua apa pasrah sama gusti Allah?

Gusti Allah berfirman kalau kalian semua itu saudara. “Innamal mukminuna ikhwah.” Tapi, mengapa kalian musuhan?. “Kalian masrahkan diri kalian ke gusti Allah atau ke Jokowi dan Prabowo? Gregetan aku. Dikasih tahu koq tetep gitu aja.” Kata Gus Mus menyinggung pendukung Jokowi dan Prabowo.

Selanjutnya Gus Mus mengatakan bahwa ketika seseorang itu benar-benar pasrah, maka dia adalah orang yang muhsin. Dan ini adalah hal yang berat. Karena kenyataannya banyak orang hanya pasrah kepada Allah cuman bisa di mulut saja.

“Iya ya Allah, saya pasrah kepadaMu, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin. Mati hidup saya itu kepada Engkau ya Allah.” “Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Hanya kepadamu aku menyembah hanya kepadamu kami meminta.” Tapi koq tiap hari bikin proposal terus aja.

Memang berat berkata aslama wajhahu, pasrah yang benar-benar pasrah kepada gusti Allah. Apalagi jika ditambahin wahuwa muhsin. Muhsin itu sudah saya bilang berkali-kali kedudukannya di atas adil. Kita sendiri adil aja keberatan koq. Kamu dukung Jokowi bisa adil sama yang dukung Prabowo? Dan kamu yang dukung Prabowo bisa adil sama yang dukung Jokowi?

Coba kalian rasakan sendiri. Adil itu artinya tegak. Dua kali dua empat, jika kalian benarkan, maka kalian termasuk adil. Baik yang bicara siapa saja. Kamu dukung jokowi, dia dukung prabowo. Dia bilang dua kali dua empat, kamu salahkan, maka kamu tidak adil. Demikian juga sebaliknya.

Setelah seseorang dapat berbuat adil, maka barulah ia dapat berlaku ihsan. Kalian jika tidak ngantuk ketika shalat jum’at, khutbah kedua pas waktu ngantuk-ngantuknya dibacakan inna Allaha ya’muru bil adli wal ihsan. Itu penting didengarkan tapi jarang didengarkan. Salahnya khutbahnya panjang-panjang.

Baca Juga :  Tiga Sebab Nabi Melarang Tidur Tengkurap

Inna Allaha ya’muru bil adli wal ihsan. “Allah memerintahkan adil dan ihsan.” Kamu ditampar “plak”, terus kamu balas “plak”, maka itulah adil. Tetapi jika kamu ditampar “plak”, tapi kamu balas “plak, plak, plak, plak.” itu zalim. Kamu ditampar “plak”, kemudian kamu maklumi. “Orang ini tidak  tahu fungsinya tangan sama pipi. Dia kira tangan buat nampar, dia kira pipi buat tampar-tamparan. Semoga dia diberikan petunjuk oleh Allah.” Ketika dia memaafkan, maka itulah ihsan. Ihsan di atas adil.

Makanya dikatakan dalam ayat “Wal aafiina anin nas Wa Allahu yuhibbul muhsinin.” Gusti Allah ketika menyifati orang-orang yang taqwa, Dia berfirman, “Wal aafiina anin nas.” Sebelumnya wal kadhiminal ghaidha.” Orang itu ketika marah-marah, ditahan. Sebenarnya dia ingin balik menampar. Tetapi ditahan, dia memaafkan. “Iya yah, anak muda koq nggak ngerti (adab kepada) orang tua, Orang tua koq ditampar, anak ini tidak mengerti fungsi tangan dan pipi. Orang tua yang ditampar ini kasihan, “Ya udah, nggak papa nak, saya maafkan.” Maka dia termasuk dalam kategori ayat tersebut “wal afiina anin nas, dan dia memaafkan manusia.” Selanjutnya “Wa Allahu Yuhibbul muhsinin.” Gusti Allah suka kepada orang yang berbuat kebaikan (yang mampu menahan dirinya saat marah, bahkan mau memaafkan).”

Demikianlah nasihat sejuk Gus Mus di tahun politik ini. Dalam penjelasannya tersebut, beliau mengingatkan kepada pendukung Jokowi dan Prabowo agar dapat berbuat adil, tidak saling menyalahkan karena kita semua adalah saudara. Dan Allah memerintahkan untuk tidak saling bertengkar, maka jika kita mengaku Islam, pasrah kepada Allah, tentu sudah semestinya kita harus mengikuti perintah Allah untuk tidak saling bermusahan. Pasrah itu kepada Allah, bukan kepada pak Jokowi dan Prabowo. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Soal Pembelaan terhadap Ideologi Negara

(Untuk lebih lengkapnya, silahkan tonton videonya di link berikut ini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here