Nasihat Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Mengenai Ilmu dan Adab

0
262

BincangSyariah.Com- Mbah Manap atau yang biasa dikenal dengan KH. Abdul Karim adalah ulama karismatik asal Kediri Jawa Timur. Beliau adalah pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Nama beliau masyhur dikenal sebab kealiman dan ketawadhu’annya. Pondok yang beliau dirikan ini hingga sekarang masih eksis mengajarkan kitab-kitab salaf, sekarang alumninya tersebar di berbagai pelosok nusantara.

Dalam sebuah catatan ditemukan sebuah nasihat mengenai pentingnya ilmu dan adab yang beliau tulis menjadi sebuah sya’ir dalam Bahasa Arab. Isi daripada sya’ir tersebut mengandung tiga nasihat, sebagaimana berikut :

مَنْ كَانَ مُفْتَخِرًا بِالْمَالِ وَالنَّسَبِ   #   وَإِنَّمَا فَخَرْنَا بِالْعِلْمِ وَالأَدَبِ

(1), Jika ada orang yang membanggakan harta dan leluhur (nasab), maka kebanggaan kami adalah ilmu dan adab.

لَيْسَ الْيَتِيمَ مَنْ مَاتَ والِدُهُ  ….…#   إِنَّ الْيَتِيْمَ بِلاَ عِلْمٍ وَالأَدَبِ…

(2), Seorang yang disebut Yatim itu bukanlah orang yang ditinggal mati oleh Ayah-nya, sesungguhnya hakikat Yatim itu adalah orang yang tidak memiliki ilmu dan adab.

لَيْسَ الْجِمَال جِمَالُ الَّبْس والْبَدَنِ  #  إنَّ الْجِمَال جِمَالُ الْعِلْمِ وَالأَدَبِ

(3), Bukanlah suatu keindahan itu disebabkan indahnya baju dan bodi tubuh (badan), namun keindahan yang sesungguhnya itu disebabkan oleh ilmu dan adab.

Bait-bait syair di atas disusun dengan sangat indah dan rapih, isi pesan yang hendak disampaikan dapat diserap dengan sangat mudah. Inti daripada sya’ir ini, beliau ingin menyampaikan tiga hal yang berkaitan dengan ilmu dan adab :

  1. Hal yang patut dibanggakan adalah ilmu dan adab, bukan harta dan nasab.
  2. Hakikat seorang yang disebut Yatim adalah orang yang tidak memiliki ilmu dan adab, bukan orang yang tidak memiliki Ayah.
  3. Hal yang menyebabkan manusia terlihat indah itu hakikatnya disebabkan oleh ilmu dan adab, bukan sebab indahnya pakaian dan badan.
Baca Juga :  Benarkah Zara Zettira Menghina Pesantren terkait Tradisi Bisyarah?

Tiga hal inilah yang selalu dijadikan prinsip oleh KH. Abdul Karim, sehingga ketika beliau masih belajar di Madura, di Pondok Syekh Khalil Bangkalan, beliau dikenal sebagai santri yang sangat sederhana tidak membanggakan harta, nasab, pakaian, dan rupa. Hanya satu yang selalu beliau perhatikan betul yaitu ilmu dan adab. Oleh sebab itu, tiga nasihat ini kemudian selalu diamalkan oleh para santri beliau hingga sekarang.

Itulah Tiga nasihat KH. Abdul Karim yang ditulis dalam bait-bait syair bahasa Arab. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam Bisshawab…



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here