Nasihat Nabi Untuk Orang yang Tertimpa Sakit

0
1089

BincangSyariah.Com – Semua manusia pasti pernah mengalami sakit secara fisik. Dan, agama biasanya mengarahkan kita untuk senantiasa bersabar dan berdoa agar diberikan kesembuhan. Karena, pada hakikatnya, penyakit ini adalah cara Allah meningkatkan kualitas hamba. Bahkan, Nabi Saw. sendiri mengkonfirmasi bahwa ujian dan cobaan seperti sakit, juga menjadi diantara sarana Allah Saw. meningkatkan kualitas para Nabi-Nya. Ini disebutkan dalam sebuah hadis yang dikutip oleh al-Qadhi ‘Iyadh dalam karyanya as-Syifa’, hadis ini diriwayatkan diantara oleh Ibn Majah, al-Hakim, dan at-Tirmidzi,

عن مصعب بن سعد، عن أبيه؛ قال: قلت : يا رسول الله ! أي الناس أشدّ بلاء ؟ قال : “الأنبياء ، ثم الأمثل ، فالأمثل ، يبتلى الرّجل على حسب دينه ، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض وما عليه خطيئة

Dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya beliau berkata: “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat bala’ ujiannya? Rasulullah Saw. menjawab: “Para Nabi, lalu yang setara dengannya, lalu yang setara lagi. Seseorang diuji berdasarkan agamanya. Maka ujian senantiasa bersama para hamba, sampai Allah sudah meninggalkannya (tidak mengujinya lagi) dan ia berjalan di muka bumi tanpa menanggung dosa apapun.

Faidah dari hadis ini adalah, siapa saja di dunia ini bisa ditimpa ujian kehidupan (bala’), diantaranya adalah sakit. Dan diantara manusia yang ujian kehidupannya paling berat adalah para Nabi Saw. Dalam riwayat at-Tirmidzi yang lain, disebutkan bahwa ketika Tuhan mencintai hambanya, Allah mengujinya karena Allah ingin mendengar rintihan doanya (H.R. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik).

Bagaimana dengan Sakit Nabi Saw. ?

Masih menurut al-Qadhi ‘Iyadh, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anha dan beberapa sahabat yang lain punya riwayat soal bagaimana kondisi sakit Nabi Saw. ketika menjelang beliau wafat. Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan seperti diriwayatkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim,

Baca Juga :  Zina, Prostitusi Online dan Hukum Menyebarluaskannya

رأيت النبي صلى الله عليه وسلّم في مرضه، يوعك وعكًا شديدًا، فقلت: “إنك لتوعك وعكًا شديدًا ! قال: “أجل، إنّي أوعك كما يوعك رجلان منكم”. قلت: ذلك أن لك الأجر مرّتين ؟ قال: “أجل، ذلك كذلك”

Aku melihat Nabi Saw. dalam keadaan sakit, sakitnya begitu parah. Lalu aku berkata: “sesungguhnya engkau sedang sakit parah sekali !” Nabi Saw. bersabda: “betul, aku sesungguhnya sedang sakit dan tingkatnya seperti dua orang yang sedang sakit diantara kalian (dijadikan satu bebannya kepadaku).” Aku berkata: “Itu bermakna bahwa engkau akan mendapatkan balasan dua kali lipat?” Nabi Saw. bersabda: “benar, seperti itu.”

Besarnya keutamaan sakit ini, bahkan diucapkan Nabi Saw. dalam redaksi yang berbeda-beda. Seluruhnya justru bernada positif dengan mengatakan bahwa semakin berat bala’ seperti sakit yang Allah berikan, jika seorang hamba ridha dengan takdir tersebut, Allah pun meridhainya.

Karenanya, menurut al-Qadhi ‘Iyadh, hikmah atau hakikat makna dari sakit yang berat bahkan sebagian silih berganti menimpa para Nabi Saw., tujuannya adalah kekuatan di dalam diri menjadi lemah, sehingga malaikat mudah dan ringan mencabut nyawanya. Dan, beratnya sakaratul maut itu sudah didahului atau diselesaikan lewat sakit terlebih dahulu sehingga badan dan jiwa menjadi lemah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here