Nasihat Agar Tidak Mencaci Pemeluk Agama Lain

0
791

BincangSyariah.Com – Semacam sudah menjadi tren dakwah bagi seorang penceramah – yang nampaknya baru mulai berdakwah tanpa didasari ilmu yang cukup – untuk menjelek-jelekkan agamanya yang dulu atau mencaci agama lain jika bukan mualaf. Perilaku yang dilakukan–entah dengah penuh kesadaran atau tidak–itu memang sering kali menuai kritik di antara para pemeluk agama.

Jikalau cara dakwah dengan mencaci pemeluk agama lain semacam itu terus saja dilanggengkan, justru yang mendapat akibat bukan hanya pelakunya saja, tetapi Islam yang rahmatan lil ‘alamin juga bisa tercoreng karena ulah mereka. Ya, benar. Agama Islam memang dijaga langsung oleh Allah Swt., akan tetapi perilaku manusia yang tak sejalan dengan ajaran Islam itu dapat berpotensi memunculkan tuduhan yang merugikan Islam.

Karena tanpa adanya pengetahuan yang mumpuni menyangkut Islam, pemeluk agama lain pun bisa saja membalas cacian mereka. Bahkan dengan cacian yang lebih keji. Dan, Islamlah yang akan menjadi sasarannya.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-An’am [6]: 108;

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَیَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَیۡرِ عِلۡمࣲۗ كَذَ ٰ⁠لِكَ زَیَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَیُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

Jika ada seorang yang meragukan ayat tersebut, lantas menyampaikan pertanyaan, “Bukankan menghina berhala kaum musyrik dan sesembahan lainnya adalah sebuah pengakuan atas keesaan Allah? Bukankah hal itu termasuk bentuk ketaatan kepada-Nya? Mengapa Allah Swt. melarang umat Muhammad Saw. untuk melakukan demikian?”

Dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib, Syaikh Fakhruddin Ar-Razi memberikan jawaban terkait potensi pertanyaan tersebut. Beliau mengajukan argumen bahwa, meski pun memang benar bahwa memaki sesembahan orang musyrik itu termasuk ketaatan, akan tetapi melakukannya dapat menyebabkan datangnya bahaya yang lebih besar. Yaitu cacian yang akan semakin deras mengalir dan ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga :  Tiga Cara Menebus Dosa Ghibah Menurut Imam Nawawi

Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk tetap menjaga kehormatan Allah dan Rasul-Nya. Dengan menjaga diri dari perilaku saling mencaci, sama artinya dengan kita menutup pintu perdebatan tanpa faidah, mencegah masuknya kebencian dalam hati pemeluk agama lain, serta meminimalisir peluang bagi orang lain untuk lari menjauh dari ajaran islam. Karena berbagai alasan yang telah disebutkan, tak perlu diragukan lagi mengapa Allah melarang perilaku demikian.

Terkait mengapa tidak diperbolehkan untuk menghina sesembahan agama lain, Al-Jubba’i juga memberikan argumen, sebagaimana dikutip oleh Syekh Fakhruddin Ar-Razi. Bahwa, apabila hal tersebut diperbolehkan, maka akan membuat orang lain semakin menjauh dari ajaran Islam. Bukannya meninggalkan sesembahan mereka sebelumnya, tetapi menjauhi Allah dan agama Islam. Perilaku mencaci sesembahan agama lain seperti inilah yang justru menyalahi tujuan dakwah itu sendiri.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali juga memberikan uraian yang didasarkan pada surah An-An’am ayat 108. Menurut beliau, dalam ayat tersebut terkandung sebuah isyarat bahwa mencela perbuatan buruk orang lain adalah sebuah keburukan.

Jika mencaci dan memaki perilaku dan sesembahannya yang jelas keliru saja dianggap perbuatan tercela, apalagi jika menghina pelakunya yang tidak lain adalah makhluk Allah Swt. Hal itu lantaran agama Islam tidak lahir dan tersebar dengan dasar saling mencela. Tetapi karena ajaran kasih dan sayanglah, agama Islam mudah diterima oleh semua kalangan.

Perlu diingat bahwa perintah untuk mengingatkan orang lain atas perbuatannya, bukan berarti sebuah legalitas untuk mencacinya. Dahwah itu tujuannya untuk mendekatkan, bukan malah semakin menjauhkan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nahl [16]: 125;

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ

Baca Juga :  Mungkinkah Lailatul Qadar Terjadi pada Selain Ramadhan?

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here