Nasib Itu di Akhir

0
711

BincangSyariah.Com- Jangan buru-buru memvonis seseorang pasti masuk surga hanya karena dia tampak sangat saleh atau berpenampilan bak seorang religius dan sering bersujud hingga jidatnya hitam.

Jangan pula memastikan seseorang masuk neraka hanya karena dia tampak bagai gembel, berwajah sangar dan sering melanggar hukum Tuhan. Sesungguhnya nasib seseorang di akhirat kelak tergantung beberapa saat sebelum ajal tiba. Begitu saran dan nasihat ulama dan para bijak bestari.

Nabi Saw. mengatakan,

فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُهَا.

Demi Yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya ada orang yang hari-harinya melakukan perbuatan baik (amalan yang akan mengantarkannya menuju surga) sehingga jarak antara dirinya dengan surga itu hanya tinggal sehasta tetapi catatan (takdir) mendahuluinya dan dia melakukan perbuatan ahli neraka, maka dengan itu ia akan memasukinya. Dan ada orang yang hari-harinya melakukan perbuatan buruk, (yang mengantarkannya ke neraka), sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya. (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Kisah Pembunuh

Pada masa lalu dikisahkan ada seorang penjahat besar. Dia sudah melakukan banyak kejahatan dan membunuh sembilan puluh sembilan orang. Pada suatu hari, dia sadar dirinya telah melakukan kesalahan besar. Dia sangat menyesal sambil menangis berhari-hari. Dia ingin tobat. Dia ragu apakah Tuhan menerimanya. Lalu dia bertanya kepada seorang ulama tentang kemungkinan tobatnya bisa diterima. Ulama itu menjawab, “Tidak bisa. Kamu terlalu banyak melakukan kejahatan dan membunuh orang.”

Baca Juga :  Belajar Persatuan dari Sepakbola Indonesia

Mendengar jawaban itu, dia sangat kecewa. Lalu dia membunuh ulama tadi, menggenapi menjadi seratus orang. Tapi hatinya masih galau. Dia masih penasaran. Dia bertanya lagi kepada ulama lain tentang hal yang sama. Ulama yang ini menjawab, “Tuhan Maha Pengampun. Dia menerima siapa saja hamba-Nya yang bertobat.” “Tinggalkan desamu yang buruk ini,” terus si ulama memberi saran, “dan pergilah ke suatu desa yang di sana banyak orang beribadah. Lalu temui orang pintar di sana dan bergabunglah.”

Ia pun pergi menuju tempat yang ditunjuk ulama tadi. Tetapi belum sampai di tempat tujuan, Malaikat Izrail, pencabut nyawa, menjemputnya dan mencabut nyawanya. Dua malaikat yang mencatat amal berdebat apakah orang tadi masuk surga atau neraka. Di tengah perdebatan itu malaikat lain (Jibril?) datang. Ia berkata, “Ukurlah jarak antara tempat yang buruk yang ditinggalkannya dan tempat yang akan dituju. Jika yang dituju lebih dekat, dia diampuni. Jika lebih dekat dari tempat buruknya, tidak diampuni.” Lalu kedua malaikat itu pun mengukurnya. Dan ternyata orang ini lebih dekat dari tempat yang dituju.

Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali dalam bukunya yang populer, Bidayah al-Hidayah, selalu berdoa agar mati dalam keadaan husnul khatimah.

وَإِنْ كَانَ كَافِراً، قُلْتَ: لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ وَيَخْتِمَ لَهُ بِخَيرِ الْعَمَلِ، وَيَنْسَلَّ بِإِسْلَامِهِ مِنَ الذُّنوُبِ كَمَا تَنْسَلَّ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَاجِينِ، وَأَمَّا أَنَا -وَالْعِيَاذُ بِاللهِ- فَعَسَى أَنْ يُضِلَّنِي اللهُ تَعَالى فَأَكْفُرُ فَيَخْتِمُ لِي بِشَرِّ الْعَمَلِ، فَيَكُونُ هُوَ غَداً مِنَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَكُونُ مِنَ الْمُبْعَدِينَ.

Jika kau melihat kafir, katakanlah, “Aku tidak tahu, bisa saja dia akan menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditutup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku–aku berlindung pada Allah dari hal ini–bisa saja Allah menyesatkanku hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat Allah, sedangkan aku termasuk orang yang jauh dari rahmat-Nya.[]

Baca Juga :  Pentingnya Kesalehan Sosial

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.