Nama Arab Belum Tentu Islami

2
1334

BincangSyariah.Com – Semangat keberagamaan dari keringnya spiritualitas era post-modern kian menjamur di lintas generasi. Meminjam istilahnya Basam Tibi, dunia sedang mengalami return of the sacred (kesakralan agama yang kembali mendominasi), termasuk Indonesia.

Perwujudan dari semangat tersebut bisa dilihat dari kajian-kajian agama yang kolosal, gerakan taubat jama’i (hijrah) dan beragam acara muhasabah terstruktur secara sistematis dan masif. Tujuannya tentu untuk berubah ke arah lebih baik dengan menanggalkan berbagai atribut dan atau kelamnya masa lalu, mulai dari pakaian, komunitas, pekerjaan, kadang termasuk juga nama pribadi. (Haruskah Memberi Nama Anak dengan Nama Arab?)

Perlu digaris tebal, dalam kitab al-Asma’ wal Kunna, banyak nama para ulama (perawi hadis) yang ternyata –beberapa di antaranya bermakna kurang baik, karena tujuannya untuk memberikan distingsi. Misalnya, al-A’masy; artinya yang matanya merah dan selalu berair. Al-A’raj; yang jalannya agak pincang. Al-Khayyath; yang tinggal di samping pabrik kertas. Al-Khadzdza’; yang berdomisili di sebelah pengrajin sepatu, dan banyak contoh lain.

Jadi seyogianya, ketika ingin merubah nama atau memberikan nama kepada anak kita, agar menekuri dulu makna yang terkandung dari bahasa Arab tersebut dan harapan-harapan positif-nya. Maka bertanya ke seorang ustadz, kyai, alim ulama adalah sebuah keniscayaan. (Baca: Mengganti Nama Anak karena Sering Sakit-sakitan, Bolehkah?)

Memang semenatara hadis Nabi SAW menganjurkan nama-nama tertentu, seperti Muhammad, gabungan hamba cum asma’ul husna (abdurrahman, abdul malik, abdul rouf, dst), dan nama-nama orang saleh. (Baca: Keutamaan Memberikan Nama Anak dengan Nama Muhammad). Namun keumuman sabda beliau SAW berbunyi:

ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ

“Sesunggunya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” (HR. Abud Daud no. 4948)

Baca Juga :  Mungkinkah Hukuman Zina Diterapkan di Indonesia?

Jadi cukuplah sebuah nama itu dalam bahasa apapun, bilamana representatif dengan makna dan tujuan yang diniatkan oleh si pemberi nama. Sekedar menukil riwayat agar berimbang, nama Abdurrahman bin Muljam adalah yang membunuh khalifah Ali bin Abi Thalib, nama Abdullah Abul Abbas yang bergelar penumpah darah (as-safah), dan nama Dzul Khuwaisirah yang menuduh Rasulullah tidak adil dalam membagikan ghanimah, ketiganya merupakan nama Arab. Jadi belum tentu nama Arab itu Islami. Wallahua’lam.

2 KOMENTAR

  1. Sejujurnya sdh lama saya ingin mengganti nama menjadi Muhammad Al Falah. Saat almarhum ibu muallaf, nama kami diganti tapi ga ada berbau Arab. Jangan bully saya dgn kearab2an ya. Kata2 jelek akan kembali ke diri sendiri. Soalnya nama Muhammad Al Falah itu keren banget, menurut saya. Wallahua’lam.

  2. Yg dititikberatkan, supaya kita ndak merasa inferior dgn nama pemberian ortu kita yg padahal baik-baik aja, gan. Kalaupun mau mengganti nama monggo, dgn ttp memperhatikan makna dan spirit di balik perubahan tsb..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here