Nalar Fikih Trading Indeks Sektoral

0
613

BincangSyariah.Com – Ada 4 jenis indeks dalam Pasar Bursa Efek Indonesia. Keempatnya adalah Indeks Headline, Indeks Sektor, Indeks Tematik, dan Indeks Faktor. Indeks headline, merupakan indeks yang dipergunakan untuk menggambarkan kinerja pasar modal. Karena yang digambarkan adalah “kinerja pasar”, maka fokus informasi yang dapat ditemui lewat kode indeks headline, adalah berupa gambaran kinerja suatu produk di pasaran tradisional atau pasar langsung. Seberapa cepat lakunya barang dan seberapa besar barang tersebut diterima oleh masyarakat? Informasi inilah yang didapatkan oleh para pialang / broker atau juga pelaku pasar modal lainnya, saat melihat kode indeks headline tersebut.

Suatu misal, pabrikan laptop Lenovo, atau Samsung, atau Hawlett Packard. Seberapa cepat laku mereka di pasaran, dapat diketahui berdasar indeks headline yang dimiliki oleh mereka. Namun, dibutuhkan pengetahuan statistik untuk mengetahui artinya.

Selain indeks headline, ada indeks yang dikenal dengan istilah indeks sektoral. Apa itu indeks sektoral?

Indeks sektoral merupakan indeks yang memberi  informasi mengenai hasil pengukuran secara statistic terhadap pergerakan harga saham-saham di suatu kelompok industri. Ada 10 sektor industri yang tercatat di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Masing-masing sektor itu dikelompokkan berdasar kode urutannya, antara lain:

Sektor 1, terdiri atas sektor pertanian, dengan kode indeks AGRI.

Sektor 2, merupakan sektor pertambangan, dengan kode indeks MINING.

Sektor 3, terdiri atas sektor industri dasar dan kimia, dengan kode indeks BASIC-IND.

Sektor 4, merupakan sektor aneka industri, dengan kode indeks MISC-IND.

Sektor 5, merupakan sektor industri barang konsumsi, dengan kode indeks CONSUMER.

Sektor 6, merupakan sektor properti, dengan kode indeks PROPERTY.

Sektor 7, merupakan sektor infrastruktur, utilitas dan moda transportasi, dengan kode indeks INFRASTRUC.

Sektor 8, merupakan sektor keuangan, dengan kode indeks FINANCE

Sektor 9, merupakan sektor perdagangan, jasa dan investasi, dengan kode indeks TRADE

Sektor 10, merupakan sektor gabungan antara sektor 3, 4 dan 5, dengan kode indeks khusus yaitu MANUFACTUR·

Jadi, kalau misalkan ada broker yang hendak terjun di dunia trading properti, maka informasi yang diperlukannya adalah berkaitan langsung dengan sektor 6. Demikian juga, bagi broker yang hendak terjun di dunia trading industri pangan, maka informasi yang dianalisisnya adalah berkaitan dengan sektor 5, dan sejenisnya. Perbankan masuk dalam sektor 8, dan industri jasa keuangan dan investasi adalah masuk dalam sektor 9. Jadi, masing-masing memiliki pintu sendiri-sendiri dan kode terpisah.

Baca Juga :  Jokowi Luncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia

Ada catatan penting mengenai indeks sektoral ini, yaitu bahwa setiap sektor selalu memiliki keterkaitan hubungan dengan sektor lainnya. Kesalinghubungan ini bermakna saling keterpengaruhan. Suatu misal sektor PROPERTY, ia dipengaruhi oleh bahan dasar industri berupa semen, ketersediaan batu bata, pabrikan batako, air, harga besi dan sejenisnya. Semen dimiliki oleh sektor MINING. Batu bata dan batako, dimiliki oleh sektor INFRASTRUC, termasuk di dalamnya alat transportasi, tol, pengapalan, bahan bakar dan lain-lain tergantung lokasi daerah. Kebutuhan barang mebelair, seperti harga papan triplek, dan keberadaan jasa industri alat berat juga dikuasai oleh MANUFACTUR. Itu artinya, indeks sektor PROPERTY akan senantiasa dipengaruhi oleh sektor MINING, INFRASTRUC dan MANUFACTUR. Sebenarnya masih banyak sektor lain yang turut mempengaruhinya, namun tidak akan kita bahas daam forum singkat ini.

Selain dipengaruhi oleh sektor lainnya dalam satu indeks sektoral, keberadaan indeks sektoral ini juga dapat mempengaruhi indeks lain, semisal indeks headline. Kita ambil contoh sederhana dari hasil sebuah analisis. Seorang pengamat pasar menyebutkan bahwa telah terjadi pergerakan saham sektor pertambangan sebesar 12,83%. Sektor ini dikabarkan menjadi penjegal utama bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (Composite) (IHSG). IHSG adalah bagian dari indeks headline. Alhasil, headline dipengaruhi oleh sektoral. Nah, sekarang, apa yang terlintas dalam benak anda, ketika memperoleh informasi semacam ini?

Suatu informasi akan menjadi hal yang sangat berharga, tatkala informasi itu bisa digunakan. Seperti layaknya, anda mendapati informasi bahwa harga cabe pada bulan Desember, Januari, Februari dan Maret akan melonjak. Pada bulan April, dan Mei, harga itu akan turun. Kemudian, pada bulan Juni, Juli dan Agustus, harga itu kembali melonjak. Kelak di Bulan September, Oktober dan Nopember, harga kembali berangsur turun dan bergerak naik di penghujung. Lantas, apa yang akan anda lakukan bila mendapati informasi seperti ini?

Bagi petani yang kesehariannya ada di ladang, mereka pasti akan bersikap dengan cara mensiasati pola tanam. Nah, hal yang sama juga berlaku untuk mensikapi indeks tersebut oleh para broker / pialang indeks. Tujuannya, agar didapat cuan (untung). Dan ini adalah wajar sebab kerja pialang / broker dan trader adalah kerja ekonomi, sehingga gol utama adalah cuan.

Dalam hemat penulis, ketika kita mendapati informasi di atas, maka terlebih dulu penulis akan menganalisa bahwa sektor pertambangan merupakan sektor yang paling banyak berpengaruh terhadap kinerja industri. Jika hasil sektor pertambangan itu berupa batubara dan minyak bumi, maka itu artinya hal yang terpengaruh terhadap stok bahan bakar adalah sektor industri dan biaya produksinya. Kenaikan harga bahan bakar menjadi daya tarik dan sekaligus daya tolak para investor untuk memasuki ruang-ruang yang sedikit menghasilkan keuntungan berupa bagi hasil usaha disebabkan terkoreksi oleh kebutuhan bahan bakar. Jadi, tidak heran bila para investor lebih berusaha menghemat dana mereka untuk tidak menanamkan investasinya ke komponen Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca Juga :  Ayat Ahkam: Kewajiban Puasa Ramadhan, QS Al-Baqarah: 183

Sikap tidak memburu saham yang terkumpul dalam IHSG oleh para investor ini merupakan sikap yang berbekal “potensi”. Dan potensi ini lahir yang memiliki sebab dan akibat. Untuk itu, menolak andil dalam suatu industri karena potensi yang tidak baik yang akan terjadi pada industri itu, adalah sebuah tindakan saddu al-dzari’ah (antisipasi) bagi rusaknya harta. Dan sudah barang tentu, hal ini merupakan yang dibenarkan oleh syara’ dan tidak termasuk tindakan maisir (spekulatif), sebab ada unsur akal (rasional) yang menyertainya. Bahkan, sikap menjauhi rusaknya harta sebab potensi kerugian akan terjadi itu merupakan tindakan yang cukup rasional.

Tapi, ini masih sebatas analisa penulis, sih. Anda bisa menganalisanya lebih lanjut berbekal pengetahuan mengenai indeks headline. Namun, hal yang patut digarisbawahi adalah bahwa sikap para pialang, dan investor dalam memburu suatu saham atau obligasi atau indeks adalah berangkat dari sesuatu yang maklum.

Terminologi potensi ini juga kita temukan pada terminologinya para ulama madzahibu al-arba’ah, sebagai jah atau wujuh atau abdan. Jika indeks itu dimiliki oleh sektor industri tertentu, maka industri yang memiliki potensi baik sama artinya dengan memiliki reputasi (jah) yang mana oleh kalangan Malikiyah, reputasi (jah) ini bisa dianggap sebagai modal dalam akad kemitraan.

Selanjutnya, kita kembali ke tema pokok ekonomi syariah.

Dalam ekonomi, gol utama yang dikehendaki melalui pengetahuan ekonomi dan pergerakan pasar adalah untuk mendapatkan keuntungan (cuan/al-ribhu). Namun, keuntungan ini sudah pasti yang menghendaki bebas dari riba, maisir (spekulatif), ghabn (curang), gharar (menipu), transaksi fiktif. Satu catatan yang paling penting adalah bahwa keuntungan itu harus bisa dijamin, sebab keuntungan yang tidak bisa dijamin, baik oleh hukum atau perorangan, maka keuntungan itu merupakan yang dilarang oleh Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di pasar indeks, yang kita hadapi dan tidak kita ragukan adalah bahwa 1) barang fisik itu ada dan 2) keuntungan dari trading bersifat dijamin undang-undang atau peraturan yang berlaku sehingga 3) bisa diserahterimakan. Ketiganya adalah komponen keabsahan jual beli yang dibenarkan fikih.

Baca Juga :  Peran BI-7-Days Reverse Repo Rate pada Kebijakan Fiskal Kontraktif

Hanya saja, semua keuntungan itu tercatat dalam bentuk surat berharga (efek) sehingga penerimaannya bersifat penerimaan turunan (qabdlu hukmi). Yang sering dijadikan masalah adalah, langkah prediktif antisipatif dalam praktik menangkap “situasi pasar ke depan” sebagaimana dijelaskan di muka, apakah termasuk spekulatif (maisir)?

Jika membeli saham itu artinya sama dengan investasi dan keuntungannya diambil dalam beberapa waktu ke depan lewat pembagian sisa hasil usaha, maka menyimak “kecenderungan pasar” (ittijahat al-suqy) yang dipengaruhi oleh situasi sektoral (dalam hemat penulis), seharusnya hal itu merupakan yang dibolehkan secara fiqih sebab hal itu berkaitan dengan “sikap” terkini, dan kecenderungan yang akan datang itu merupakan yang diprediksi melalui hubungan “sebab-akibat”. Sesuatu yang masih bisa dikaitkan dengan sebab-akibat, menandakan bahwa sesuatu itu masih masuk akal (ta’aqquli) dan qabul al-‘aqli (rasional), sehingga jauh dari pengertian maisir (spekulatif).

Dalam hemat penulis, kita semua menyadari bahwa tidak ada pasar yang tidak dipengaruhi oleh situasi. Menyikapi situasi, dan memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di waktu mendatang, adalah sebuah tindakan antisipatif (sadd al-dzari’ah) menghindari kerugian, dan termasuk langkah inovatif (fath al-dzari’ah) untuk mendapatkan cuan (keuntungan). Bagaimana menurut anda? Anda sepakat? Mari kita tunggu kupasan para pakar fikih dalam konteks ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dalam membuka ruang kajian dalam dunia fikih ekonomi! Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here