Nahdlatul Ulama dan Kontroversi Kata Kafir

0
265

BincangSyariah.Com – Munas Nahdlatul Ulama (NU) 2019 menghasilkan beberapa rekomendasi, yang salah satunya menjadi kontroversi di kalangan masyarakat, yakni penghapusan sebutan kafir dalam konteks bernegara.

Usulan terkait istilah kafir tesebut ditanggapi beragam oleh banyak pihak. Banyak yang memuji dan mendukung. Ada juga yang menolak, bahkan sampai menuduh NU mengubah firman Allah.

Catatan di bawah ini adalah salah satu upaya untuk mendudukkan persoalan secara terang, agar kita tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Yang mau “ditunda pemakaiannya” oleh Nahdlatul Ulama adalah pemakaian kata kafir sehari hari sebagai salah satu kata dalam bahasa Indonesia, bukan mau menghapus kata itu dari ingatan kita terhadap konsep kafir di dalam wahyu.

Kata kafir dalam bahasa Indonesia itu maknanya tidak lagi persis sama dengan kata kafir dalam bahasa Arab dan bahasa Alquran, dan memang tidak akan pernah akan sama, baik secara denotatif maupun konotatif. Ini lumrah dan bahkan hampir pasti terjadi dalam semua kata serapan dalam bahasa apapun juga di dunia.

Orang yang membabi buta menganggap NU akan menghapus konsep kafir dari kitab suci dan ajaran agama itu sepertinya membutakan diri dari fakta bahwa kata kafir di Indonesia punya sejarahnya sendiri, yang berbeda dari sejarah kata kafir di tempat kata itu berasal. Sebaik apa pun konotasi kafir dalam konsep akidah Islam dan atau dalam bahasa Arab, itu sama sekali tidak mengubah kenyataan bahwa kata kafir itu berkonotasi negatif di sini.

Jadi, dalam konteks interaksi dengan sesama warga negara, kata kafir itu memang sebaiknya dihindari. Kata itu terlalu kasar. Lagipula, memaksa semua orang Indonesia belajar memahami kata kafir sebagaimana orang Arab memahaminya di masa awal Islam dan, atau memaksa setiap orang di sini menerima nilai rasa positifnya, adalah jalan keluar yang bisa dibilang hampir mustahil.

Baca Juga :  Sabda Nabi Tentang Pentingnya Persatuan

Mengandaikan semua orang Indonesia belajar memahami kata kafir seperti intensi awalnya di Arab, adalah sia-sia karena tidak mungkin secara linguistik. Kalau bukan mustahil, setidaknya butuh waktu yang sama panjangnya, atau bahkan lebih lama dari sosialisasi kata kafir saat pertama masuk leksikon bahasa Indonesia dulu. Sebab, kepatuhan kita terhadap norma bahasa ditentukan dengan cara yang berbeda dari kepatuhan kita terhadap hukum positif.

Oleh karena itu, sekali lagi yang paling mudah adalah menghindarinya.

Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here