Benarkah Nabi Muhammad Menghendaki Berdirinya Negara Islam?

0
1864

BincangSyariah.Com – Pada era reformasi, Indonesia sebagai negara bangsa kembali dicoba oleh beragam gerakan yang menghendaki adanya negara Islam. Meskipun sebenarnya ini bukanlah hal yang baru dalam peta politik Islam di Indonesia. Misalnya kita sudah pernah mendengar gerakan DI/TII ala Kartosuwiryo. Hingga yang paling mutahkir dengan beragam modelnya, mulai dari kepemimpinan tunggal di bawah satu kekhilafahan ala Hizbut Tahrir atau model NKRI bersyariah yang digaungkan oleh FPI. (Negara Islam Menurut Habib Munzir al-Musawwa)

Meskipun berbeda bentuk, arah, tujuan dan metode gerakannya, akan tetapi ada kesamaan dalam hal kecenderungan untuk mewujudkan sebuah pemerintahan atau negara yang ideal menurut Islam. Dari sinilah penulis akan menguji secara historis, apakah Islam sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad di abad ke 7 M benar-benar menghendaki pendirian sebuah negara dan memiliki konsep negara yang baku?

Asghar Ali Engineer dalam bukunya yang berjudul Islamic State menjawab dengan jernih bagaimana konteks historis kemunculan Islam dan untuk apa Islam hadir dalam masyarakat Arab saat itu. Menurutnya, Muhammad dengan agama Islam hadir untuk menghindarkan masyarakat Arab dari kehancuran. Masyarakat Mekah dihuni oleh para suku badui pengambara (nomaden). Sehingga tradisi dan moralitas kesukuan cukup mengakar kuat dalam masyarakat Mekah.

Problem yang datang ialah semakin berkembangnya Mekah sebagai jalur penting perdagangan internasional. Perkembangan ini membuat kesenjangan dalam masyarakat Mekah. Pada satu sisi, mereka yang sukses di dalam perniagaan semakin sejahtera dan di sisi lain, para fakir miskin semakin sengsara. Penumpukan kekayaan semacam ini sangat bertentangan dengan tradisi kesukuan yang berlandaskan pada kepemilikan bersama. Jika hal ini diabaikan, maka akan timbul gejolak sosial yang akan membinasakan masyarakat Arab.

Baca Juga :  Ini Tiga Etika Menghadapi Bencana

Akan tetapi di sisi lain, perkembangan ekonomi Mekah juga merupakan hal yang penting bagi masyarakat Mekah. Sebagai orang yang pernah ikut dalam perjalanan dagang menuju Syiria, nabi Muhammad sangat memahami betapa pentingnya hubungan dagang antar bangsa bagi perekonomian masyarakat. Dalam konteks inilah, Islam hadir untuk menyelamatkan manusia (masyarakat) dari kehancuran yang disebabkan oleh distribusi kekayaan yang tidak merata dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Tidak mengherankan jika para penentang dakwah Nabi berasal dari golongan para saudagar yang terancam kemapanannya secara ekonomi dan politik. Sebaliknya, banyak pengikut Islam awal yang berasal dari kalangan mereka yang merasa mulai terpinggirkan karena perkembangan situasi ekonomi di Mekah. Oleh karenanya, Islam datang untuk lebih banyak memberikan perhatian pada persoalan sosial dibandingkan persoalan politik atau bahkan mendirikan sebuah negara Islam secara formal.

Hal ini senada dengan yang dipaparkan oleh Karen Amstrong dalam Islam; a Brief history. Menurut Karen, ada dua hal yang dirasa Nabi Muhammad akan menyebabkan krisis sosial dalam masyaraat Arab. Krisis ini yang kelak dijawab oleh Nabi dengan membawa ajaran-ajaran Islam.

Krisis pertama berkaitan dengan berkembangnya Mekah sebagai kota perniagaan yang menggerus nilai-nilai kesukuan seperti mengabaikan anggota suku yang lebih lemah. Krisis kedua, berkaitan dengan keresahan spiritual yang dirasakan masyarakat Arab. Kaum Yahudi dan Nasrani sering mengucilkan bangsa Arab sebagai bangsa yang diasingkan dan dilupakan oleh Tuhan karena belum ada satupun Nabi yang  berasal dari Arab.

Masih menurut Karen, keadilan sosial adalah hal yang paling utama dalam ajaran Islam. dalam hal inilah, misi Islam ialah membangun sebuah komunitas sosial (ummat) yang dilandaskan pada kasih sayang dan kesejahteraan sosial. Jika ummat sejahtera, maka manusia telah menjalankan ajaran Tuhan dengan baik dan benar.

Baca Juga :  Unduh Gratis Buku Saku Fikih Nasionalisme

Sebagaimana agama-agama di dunia, Islam lahir bukan untuk membangun sebuah negara, melainkan membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Adapaun negara adalah salah satu wasilah dalam mewujudkan apa yang disebut Karen Amstrong sebagai ummat. Meskipun dalam perkembangannya Nabi Muhammad menjadi pemimpin politik di Madinah, akan tetapi menurut Asghar Ali Engineer, hal itu ialah hasil perjalanan dan dialektika Islam dengan realitas sosialnya, bukan misi utama Islam itu sendiri.

Bahkan umat Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad mengalami berbagai fase perubahan model dan suksesi kepempimpinan. Seperti dipilihnya Abu Bakar sebagai hasil musyawarah umat Islam, penunjukan Umar, hingga munculnya dinasti Umayah dan Abasiyah yang secara postur konsep kekuasaan adalah hal yang baru dalam Islam. karena berbentuk kerajaan yang mewariskan tahtanya secara turun menurun.

Maka, Islam tidak memiliki konsep kepemimpinan politik yang baku. Adakah kita masih berpikir bahwa Islam hadir untuk menegakkan sebuah negara bukan masyarakat yang adil dan sejahtera?

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here