Musyawarah, Salah Satu Kegemaran Rasulullah  

0
5

BincangSyariah.Com – Salah satu kegemaran Rasulullah Saw. adalah bermusyawarah dengan para sahabat. Musyawarah tersebut biasanya membahas tentang hal-hal yang penting, terutama dalam masalah peperangan.

Karena itulah kaum Muslimin kemudian menjadi patuh terhadap keputusan yang diperoleh. Sebab, keputusan tersebut disahkan bersama dengan Rasulullah Saw. Para sahabat tetap berjuang dengan tekad yang bulat di jalan Allah Swt.

Keluhuran budi dalam kegemaran Rasulullah Saw. bermusyawarah inilah yang kemudian menarik simpati orang lain. Keputusan tersebut tidak hanya untuk kawan, bahkan lawan pun menjadi tertarik sehingga bersedia masuk Islam.

Apabila semua peserta musyawarah menyatakan sikap memaafkan, maka yang terjadi adalah saling memaafkan. Setelah musyawarah selesai, diharapkan tidak ada lagi sakit hati atau dendam yang berkelanjutan di luar musyawarah. Entah karena pendapatnya tidak diakomodasi atau karena sebab yang lain.

Dalam al-Qur’an, ada banyak ayat yang berbicara tentang nilai-nilai dalam musyawarah dalam demokrasi. Hal tersebut ada dalam Q.S. al- Isra’(17):70, Q.S. al-Baqarah(2):30, Q.S. alHujurat (49):13, Q.S. asy-Syura’ (42):38 dan berbagai surat dalam Al-Qur’an lainnya.

Inti dari semua ayat di atas adalah membicarakan bagaimana menghargai perbedaan, kebebasan berkehendak, mengatur musyawarah dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut adalah unsur-unsur dalam demokrasi. (Baca: Nilai-nilai Demokrasi dalam Islam)

Selain ayat- ayat tersebut, ada juga hadits-hadits Rasulullah Saw. yang mengisyaratkan pentingnya demokrasi. Rasulullah Saw. adalah sosok pemimpin yang paling demokratis. Salah satu hadits yang menegaskan bahwa beliau adalah orang yang paling suka bermusyawarah dalam banyak hal adalah hadits berikut:

“Dari Abu Hurairah, ia berkata, Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih sering bermusyawarah dengan para sahabat dari pada Rasulullah Saw.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa dalam pandangan para sahabat, Rasulullah Saw. adalah orang yang paling suka bermusyawarah. Dalam banyak urusan yang penting, beliau selalu melibatkan para sahabat untuk dimintai pendapat, salah satunya dalam urusan strategi perang.

Baca Juga :  Makna Kemerdekaan dalam Pandangan Sufi

Sikap tersebut menunjukkan bahwa salah satu bentuk kebesaran jiwa beliau dan kerendahan hatinya yaitu tawadhu’nya. Meski mempunyai status sosial paling tinggi dibandingkan dengan seluruh umat manusia yakni sebagai utusan Allah Swt.

Meski demikian, kedudukan Rasulullah Saw. yang begitu mulia di sisi Allah Swt. sama sekali tidak membuat beliau merasa menjadi “paling benar”, termasuk dalam urusan kemanusiaan dan yang terkait dengan masalah ijtihad.

Sikap rendah hati Rasulullah Saw. hanya salah satu dari akhlak mulia yang ada dalam diri beliau selain kesabaran dan lapang dada untuk memberi maaf kepada semua orang yang bersalah, baik diminta atau pun tidak. Begitulah kepribadian Rasulullah Saw., suri teladan terbaik dalam akhlakul karimah.

Dari ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Saw. di atas bisa dipahami bahwa musyawarah adalah salah satu kebiasaan orang yang beriman. Hal tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim, terutama dalam hal-hal yang memang memerlukan proses musyawarah.

Sebagai misal, ada hal yang sangat penting, suatu hal yang ada hubungannya dengan orang banyak atau masyarakat dalam pengambilan keputusan dan lain-lain. Atas hal tersebut, dalam kehidupan bermasyarakat, musyawarah menjadi hal yang sangat penting.

Musyawarah membuat permasalahan yang sulit menjadi mudah sebab dipecahkan oleh orang banyak. Apalagi jika yang membahas adalah orang yang ahli di bidangnya. Selain itu, dalam musyawarah juga akan terjadi kesepahaman dalam bertindak.

Musyawarah juga mampu menghindari prasangka yang negatif, terutama dalam masalah yang ada hubungannya dengan orang banyak. Terakhir, musyawarah juga mampu melatih diri dalam menerima saran dan kritik dari orang lain.

Salah satu kegemaran Rasulullah Saw. yakni bermusyawarah juga membuat seorang manusia bisa berlatih dalam menghargai pendapat orang lain.[]

Baca Juga :  Enam Hal Tidak Disyariatkan Diawali dengan Basmalah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here