Mungkinkah Ahli Maksiat Masuk Surga tanpa Hisab?

0
2068

BincangSyariah.Com – Surga dan neraka dengan segala persepsi yang menyertainya telah menjadi bahan diskusi dan perdebatan sejak dahulu kala diantara pemeluk agama dan keyakinan, dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Namun, meskipun terdapat perbedaan dalam mempersepsikan surga dan neraka, hampir semua umat beragama dan pemeluk keyakinan berada dalam satu konsensus yang sama yaitu surga adalah balasan Tuhan atas perbuatan baik hamba-Nya yang berupa kenikmatan. Sedangkan neraka adalah balasan Tuhan atas perbuatan buruk hamba-Nya yang berupa siksa.

Hati manusia apapun agama dan keyakinannnya, berwatak mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah atsar :

جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها

Hati memliki watak cenderung mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya.”  (HR. Baihaqi & Abu Nu’aim)

Kecintaan terhadap yang berbuat baik dan kebencian terhadap yang berbuat buruk mengindikasikan bahwa, pada dasarnya hati mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Oleh karena itu, mencintai surga sebagai representasi kebaikan dan membenci neraka sebagai representasi keburukan adalah bagian tidak terpisahkan dari watak manusia. Maka, tidak ada satupun manusia di dunia ini, apapun latar belakang agama dan keyakinannya, kecuali mereka mencintai surga dan berharap dapat memasukinya, dan membenci neraka dan berharap diselamatkan darinya.

Halnya dengan ahli maksiat, sebagai manusia yang memiliki hati tentulah mereka juga mencintai surga dengan segala kenikmatannya dan membenci neraka dengan segala siksa yang ada di dalamnya. Itu sebabnya, Allah tidak pernah menutup pintu surga dari mereka. Bukankah merupakan sebuah kezaliman ketika hati diwatakkan mencintai kebaikan kemudian kebaikan itu ditutup dari ahli maksiat sebagai pemilik hati? Dan mustahil bagi Allah berbuat zalim terhadap hamba-Nya walaupun mereka ahli maksiat. Maka, Allah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada ahli maksiat untuk memasuki surga-Nya dengan membuka pintu taubat selebar-lebarnya.

Baca Juga :  Surga dan Neraka itu Tidak Penting bagi Rabi’ah al-‘Adawiyah, Mengapa?

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasûlullâh Saw bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?’ Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga)” (HR. Bukhari, Ahmad & Hakim).

Seluruh umat Rasulullah Saw memiliki potensi masuk surga, karena di dalam diri mereka ada watak yaitu mencintai kebaikan, dan surga adalah wujud nyata dari kebaikan itu. Sehingga, Allah mengakomodasi watak tersebut dengan memberi mereka semua kesempatan untuk memasuki surga karena hal tersebut merupakan wujud dari keadilan Allah Swt. Oleh karena itu, dalam hadis diatas, tidak masuknya umat Nabi Muhammad Saw ke dalam surga, penyebabnya bukan dari Allah yang menutup kesempatan mereka, tetapi berasal dari diri mereka sendiri, yaitu keengganan mereka.

Lalu siapa mereka yang enggan masuk surga? Adalah mereka yang durhaka (tidak mau beriman) kepada Rasulullah Saw dari ummatud dakwah, yaitu umat manusia di bumi ini yang telah mendengar atau mengetahui keberadaan Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Mereka lah yang tidak akan pernah memasuki surga dan merasakan kenikmatan yang ada di dalamnya.

Adapun mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya namun bermaksiat, melakukan dosa selain syirik, maka menurut jumhur ulama mereka akan tetap masuk surga. Meskipun, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatnya selama di dunia dengan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana yang dapat dipahami dari hadist berikut :

Baca Juga :  Pudarnya Ketulusan Beragama

  يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Akan keluar dari neraka orang yang berkata, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah’, sedang di dalam hatinya ada seberat gandum kebaikan. Akan  keluar dari neraka orang yang berkata, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah’, sedang di dalam hatinya ada seberat gandum kebaikan. Akan keluar dari neraka orang yang berkata, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah’, sedang di dalam hatinya ada seberat jagung kebaikan”. (HR. Bukhari & Muslim)

Jadi, menurut hadist diatas, siapa pun yang mati dalam keadaan mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, maka pasti suatu saat ia akan masuk surga. Meskipun, ia telah bermaksiat kepada Allah, semisal berbuat zina, membunuh, mencuri, melakukan transaksi riba, kesaksian palsu dan kemaksiatan lainnya.

Bahkan, menurut Syaikh Abdul Wahab Sya’roni r.a, seperti dikutip dalam kitab at-Tadzkirah karya al-Qurthubi, seorang ahli maksiat yang telah bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha, maka ia berpotensi masuk surga tanpa hisab. Beliau berkata :

قال العلماء رضوان الله عليهم حساب العبد نفسه أن يتوب من كل معصية فعلها قبل موته ويرد جميع المظالم الى أهلها ويستحل كل من وقع في عرضه حتى تطيب نفسه فإذا حاسب نفسه كذالك دخل الجنة بغير حساب إن شاء الله تعالى اذ الحساب لا يكون يوم القيامة الا على ما فرط العبد فيه بترك المحاسبة إنتهى

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Ketika Uwais al-Qarni (W. 37 H) Mengenali Orang yang Belum Pernah Ditemui

“Ulama berkata, semoga Allah ridho terhadap mereka, ‘hisabnya seorang hamba terhdap dirinya adalah dengan bertaubat dari semua kemaksiatan yang telah diperbuat sebelum meninggalnya, mengembalikan (segala sesuatu) yang diperoleh secara zalim kepada pemiliknya dan meminta halal (kemurahan hati) orang yang pernah ia hina harga dirinya, sehingga menjadi suci dirinya. Jika seorang hamba menghisab dirinya sebagaimana diatas maka ia akan masuk surga tanpa hisab, insyaAllah. Karena hisab tidak akan terjadi di hari kiamat kecuali bagi hamba yang lalai dari sesuatu tanpa ada introspeksi’ demikianlah perkataan ulama”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here