Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Ke-3 Digelar di Jakarta; Menag Jelaskan Manfaat RUU Pesantren

0
173

BincangSyariah.Com – 28 September kemarin, Muktamar Pemikiran Santri Nusantara ke-3 kembali digelar oleh Kementerian Agama. Lokasi muktamar kali ini berlokasi di Pondok Pesantren Assiddiqiyyah Pusat, Jakarta Barat. Tidak hanya disambut oleh seluruh santri di Indonesia, beberapa panelis dari berbagai kalangan tokoh akademik pun ikut menyemarakkan acara ini. Beberapa nama besar seperti Abdurrahman Fachir (Diplomat, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia), Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama), hingga Nadirsyah Hosen (Ketua PCINU Australia dan Selandia Baru) turut hadir memeriahkan muktamar tersebut.

Mas Lukman, selaku Menteri Agama memberikan sambutan dan memberikan sumbangsih yang besar dalam acara ini. Dalam sambutannya, ia berbicara mengenai sejarah pesantren dan ideologi yang dimiliki oleh Pesantren itu sendiri. Menurut Mas Lukman, pesantren hadir di Nusantara bukan semata hanya independen sebagai lembaga pendidikan, melainkan pesantren sebagai aset dalam mengembangkan dakwah yang ramah dan menyerap di kalangan masyarakat. Pesantren selalu menyebarkan dakwah dengan metode menyebarkan kerahmatan (Intisyar al-Rahmah) yaitu menyebarkan kasih sayang. Selanjutnya, pesantren hadir sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Pesantren mampu memberikan sumbangsih yang tinggi kepada masyarakat dan mewujudkan kedamaian dikalangan masyarakat.

Menteri Agama Menjelaskan Manfaat RUU Pesantren

Dalam sambutannya pun, Lukman menyinggung tentang RUU Pesantren yang telah disahkan oleh negara. Ia mengatakan bahwa kita harus bersyukur dengan pengesahan RUU Pesantren ini. Diantara manfaat yang didapat dalam pengesahan RUU Pesantren yaitu pertama, pengakuan pesantren sebagai lembaga yang kuno namun ia tetap kokoh dalam mempertahankan tradisi pesantren berhak untuk diakui kebesaran dan kemanfaatannya di negara ini.

Kedua, sebagai afirmasi atau pengakuan. Lewat pengesahan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober 2015, hadirnya RUU Pesantren semakin memperkuat eksistensi santri pada sejarah resolusi Jihad pada 22 oktober 1945.

Baca Juga :  Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah, Hadis Atau Bukan?

Terakhir, RUU juga sebagai fasilitasi dunia pesantren. Menag mengatakan bahwa pesantren di Indonesia memiliki khas dan karakteristuk yang jarang bahkan tidak dimiliki oleh negara lain. di Indonesia, pesantren memiliki berbagai ragam yang unik dari awal terbentuknya pesantren salaf sampai pesantren khalaf atau modern. oleh karena itu, pesantren sangat wajar dan layak untuk di fasilitasi dari beragam aspek lainnya guna mempertahankan citra yang positif di negara ini.

Menag menambahkan bahwa santri dikelilingi oleh dua ciri khas yang tidak pernah hilang dari jiwa santri. Pertama, santri nusantara memiliki kemampuan dan penerimaan dengan kebudayaan yang eksis di sekitarnya. Serta adanya pengintegarsian antara Islam dan tradisi yang ada, santri nusantara mampu mengelola hal ini dengan sungguh luar biasa.

Kedua, kecintaan kaum santri dengan tanah air, karena sangat sulit ditemukan santri yang mengingkari atau membenci negaranya. Oleh karena itu, menurut Menag, keimanan pada jiwa manusia dapat terlihat dari bagaimana ia menjaga negaranya, dan mencintainya. Hubbul Wathan Minal Iman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here