Muhasabah Diri, Sudah Cukupkah Bekal Akhirat Kita?

0
369

BincangSyariah.Com – Dunia adalah tempat menanam kebaikan (darul amal) sedangkan akhirat adalah tempat mamenen hasilnya (darul jaza‘). Dunia adalah tempat persinggahan sementara. Esok atau lusa pasti akan pulang ke kampung akhirat. Di sana sudah disediakan dua rumah abadi. Pertama istana yang bernama surga. Kedua penjara yang bernama neraka. Setetes gambaran kemegahan surga, lihatlah istana negara. Setetes kengerian neraka, lihatlah penjara paling ditakuti di dunia (misalkan Guantanamo, Amerika Serikat).

Perhatikanlah bibit yang kita tanam, apakah baik atau tidak? Unggulan, biasa, atau tidak bermutu? Karena apapun yang ditanam, pasti akan membuahkan hasil. Buahnya tergantung benih yang ditanam. Buahnya kadang bisa dinikmati di dunia dan akhirat, dan terkadang hanya dinikmati pada salah satunya.

Kita tidak perlu memerhatikan ladang orang lain sebelum ladang sendiri tumbuh dengan baik. Kita tak perlu mengurus hama milik tetangga jika hama sendiri dibiarkan menjamur. Karena terkadang miliki orang lain hanya nampak penyakitnya sedang milik sendiri terlihat baiknya. Kata pepatah “Semut di seberang lautan nampak sedang gajah di depan pelupuk mata tak terlihat”.

Teruslah merenung diri memikirkan amal sendiri. Apakah lebih banyak baiknya atau amal buruk yang merajai? Saat malam datang, muhasabah amal waktu siang. Sebaliknya, saat siang menghitung-hitung amal di malam hari.

Amal yang menjadi kewajiban, sudahlah terlaksana dengan baik dan benar? Amal yang menjadi kesunahan, istiqomahkah melakukannya walau hanya sebagian? Yang haram, yang makruh, apakah lebih sering dikerjakan atau ditinggalkan? Hari ini apakah sudah lebih baik dari hari kemarin atau malah sebaliknya? Perbanyaklah bertanya tentang amal sendiri dan lupakanlah mengurus amal orang lain.

Jadikan hari ini sebagi pelajaran untuk hari esok. Jika ada yang perlu diperbaiki, maka laksanakan. Jika ada yang perlu ditingkatkan, maka lakukan. Jika ada yang tidak perlu diulang kembali, maka tinggalkan.

Baca Juga :  Phubbing dalam Perspektif Islam

Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-Hasyr (59) :18,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mafatihul Ghaib hal. 260 menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi isyarat dari kewajiban muhasabah diri. Memikirkan amal yang telah dikerjakan. Lebih berat ke kanan apa ke kiri?

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya, Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 454, menafsiri kata “lighad” dengan “liyaumilqiyamah“. Masa depan kita yang sebenarnya bukan di usia tua, tapi akhirat kelak. Oleh karena itu, pergunakan hidup sebaik mungkin. Perbanyaklah muhasabah diri. Perhatikanlah amal yang telah dilakukan untuk kehidupan kelak pada hari kiamat.

Sayyidina Umar ra. berkata:

حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا وزنوها قبل ان توزنوا

Haasibu anfusakum qobla an tuhasabu wazinuha qobla an tuzanuu

Hitung-hitunglah (amal) kalian sendiri sebelum dihisab (oleh Allah) dan timbanglah (amal kalian) sebelum ditimbang (kelak di akhirat). (Mafatihul Ghaib, hal.  260)

Dari perkataan beliau ini kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Pertama, betapa pentingnya menabung sejak dini tanpa menunggu usia renta. Kumpulkan amal baik sebanyak mungkin dan hindari amal buruk sekuat mungkin. Kedua, pertanggungjawaban amal itu pasti ada. Oleh karenanya harus hati-hati dalam bertindak.

Kinerja bawahan di perusahan akan dipertimbangkan oleh jajaran direksi. Mereka tidak perlu mengoreksi atasanya. Begitu juga dengan kita, Allah Swt. akan mencecar kita dengan beribu-ribu pertanyaan tanpa sedikitpun ada kesempatan untuk bertanya balik. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Anbiya (21) : 23,

Baca Juga :  Empat Fase Kehidupan Manusia

لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita orang yang disibukkan dengan intropeksi diri dan husnul khotimah. Semoga amal yang kita tanama di dunia, berbuah manis kelak di akhirat. Amin.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here