Mudahnya Menjadi Muslim

0
1203

BincangSyariah.Com – Seseorang disebut sebagai muslim ketika telah membaca dua kalimat syahadat: tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ketika dua persaksian ini diikrarkan, seseorang telah sah beridentitas sebagai  kaum beriman. Meski dalam batinnya masih kafir, ia tetap diwajibkan menjalankan semua ketentuan Islam seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain.

Urusan yang batin bukanlah urusan kita sebagai manusia. Kita sebagai muslim hanya diperintahkan untuk menilai sesuatu dari aspek lahirnya saja sedangkan yang batin, hanya Allah SWT yang Maha Tahu. Jadi dua ikrar syahadat merupakan prasyarat wajib yang menentukan berislam atau tidak berislamnya seseorang. Hal demikian seperti dapat dilihat pada beberapa keterangan berikut:

Pertama, Nabi SAW tidak menunggu seseorang masuk Islam sampai datang waktu shalat, atau datangnya masa nisab zakat, atau datangnya bulan Ramadhan. Jadi Nabi mengkategorikan muslimnya seseorang bukan dari shalat, zakat atau puasa terlebih dahulu tapi cukup dengan mengucapkan ikrar keimanan, ikrar dua kalimat syahadat.

Kedua, Usamah bin Zaid yang dalam riwayat al-Bukhari dan para periwayat hadis lainnya dikisahkan telah membunuh seorang musyrik yang telah mengucapkan kalimat syahadat. Ketika itu, si musyrik mencoba menghindar dari sabetan pedang Usamah bin Zaid yang telah mencapai lehernya.

Lalu Nabi SAW memarahinya dan berkata: “apakah engkau membunuh orang yang bersyahadat?” Usamah bin Zaid menjawab: “Ya Rasulullah, ia bersyahadat hanya karena ingin melindungi diri dari sabetan pedang saya”. Nabi berkomentar: “wahai Usamah mana  kamu tahu tentang isi hatinya?” Dalam riwayat lain disebutkan: “Bagaimana nasibmu nanti di hari akhirat karena telah membunuh orang yang mengucapkan tidak ada tuhan selain Allah?” Hadis ini menunjukan bahwa menjadi muslim cukup dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat tanpa perlu menunggu kapan ia shalat, puasa, zakat atau haji agar dianggap sebagai muslim.

Ketiga, Abu Hurairah meriwayatkan hadis dari Nabi SAW yang mengatakan bahwa: “aku diperintahkan oleh Allah untuk memerangi umat manusia sampai mereka mengucapkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Jika mereka mengikrarkan demikian, maka darah, jiwa dan harta mereka terlindungi”. Dalam riwayat Muslim: “sampai mereka percaya kepadaku dan percaya kepada ajaranku”. Dalam riwayat al-Bukhari: “sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasulnya.”

Baca Juga :  Membabat Habis Tanaman Karena Harga Turun, Apa Hukumnya?

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, dengan menyitir pendapat Anas bin Malik tentang hadis di atas, yang dimaksud redaksi an-nas ‘umat manusia’ dalam hadis ini ialah orang-orang musyrik Quraisy. Hal demikian diperkuat dengan kenyataan bahwa Ahli Kitab sesuai dengan ketentuan yang ada dalam al-Quran hanya diwajibkan untuk membayar jizyah  jika  mereka tidak masuk Islam. Melalui ketentuan ini, tentunya perlindungan darah dan harta hanya bisa dilakukan dengan pertama, masuk Islam atau kedua,  tidak masuk Islam namun melakukan perjanjian damai dengan Islam.

Hadis riwayat Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas diriwayatkan pula oleh sahabat-sahabat Nabi lainnya dengan redaksi yang berdekatan secara makna. Karena itu, Jalaluddin as-Suyuthi  dalam al-Jami’ as-Shoghir menilai hadis ini sebagai hadis Mutawatir. al-Manawi dalam menjelaskan kitab Jalaluddin as-Suyuthi ini menyebutkan alasan kemutawatiran hadis ini dengan mengatakan: “Karena hadis ini diriwayatkan oleh lima belas sahabat.” Sufyan bin Uyaynah salah seorang ahli hadis di masanya-  dalam satu riwayat mengatakan bahwa hadis ini muncul di awal lahirnya Islam, yakni, sebelum adanya kewajiban shalat, puasa, zakat dan hijrah.

Namun Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami al-Ulum wa al-Hikam dengan sangat kritis menyanggah pandangan ini dengan mengatakan: “Riwayat dari Sufyan bin Uyaynah ini sangat lemah dan validitas penisbahan pandangan ini kepada Sufyan juga sangat dipertanyakan. Apalagi para periwayat hadis ini dari kalangan sahabat selalu menemani Nabi SAW di Madinah. Sebagian di antaranya, ada yang masuk Islamnya belakangan.”

Redaksi “darah dan harta mereka terlindungi” menunjukan bahwa posisi Nabi saat itu diperintahkan oleh Allah untuk memerangi orang-orang Musyrik Quraysh karena sebelumnya kaum beriman telah diusir dari Mekkah dan diperangi di Madinah. Semua ini jelas menunjukkan bahwa hadis di atas diriwayatkan ketika posisi Nabi sudah berhijrah ke Madinah. Melalui hadis ini, jelaslah bahwa Nabi SAW mencukupkan diri dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat bagi orang-orang yang ingin masuk Islam. Dengan dua kalimat syahadat ini, dengan sendirinya, seseorang haram darah dan hartanya untuk dibunuh dan dirampas. Melalui ikrar ini pula mereka menjadi muslim.

Baca Juga :  Respon Alquran Terhadap Orang Musyrik

Nabi SAW sangat mengecam tindakan Usamah bin Zaid ketika membunuh orang musyrik yang mengucapkan kalimat syahadat saat pedang sudah hampir menebas lehernya. Dari cerita ini saja sudah terlihat bahwa masuk Islam cukup dengan dua kalimat syahadat.  Nabi juga saat itu tidak pernah mensyaratkan untuk melaksanakan shalat dan  zakat bagi orang-orang yang ingin masuk Islam.

Bahkan ada juga riwayat bahwa kabilah tertentu menyaratkan untuk tidak berzakat saat mereka menerima Islam. Dalam al-Musnad karya Imam Ahmad, disebutkan hadis dari Jabir yang menginformasikan bahwa: “Suku Thaqif mensyaratkan untuk tidak berzakat dan berjihad ketika mereka masuk Islam. Lalu Nabi SAW bersabda: “Mereka akan berzakat dan akan berjihad.”

Dalam al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal juga disebutkan hadis riwayat Nashr bin Ashim al-Laythi dari salah seorang suku Thaqif yang menemui Nabi SAW dan kemudian masuk Islam. Salah seorang suku Thaqif ini mensyaratkan kepada Nabi untuk tidak melakukan shalat kecuali hanya dua shalat saja dalam Islamnya itu. Lalu Nabi pun menerima syarat laki-laki tersebut.

Berdasarkan hadis-hadis ini, Ahmad bin Hanbal, menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, mengatakan bahwa masuk Islam itu sah meski dilakukan atas dasar syarat yang rusak. Setelah masuk Islam, si muslim tetap diwajibkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Untuk menguatkan pandangan ini, hadis Hakim bin Hizam juga patut diperhatikan. Hakim bin Hizam saat akan masuk Islam mensyaratkan kepada Nabi untuk tidak rukuk saat sujud dan nabi menerima syarat Hakim bin Hizam ini.

Berdasarkan beberapa kutipan hadis ini, dalam hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan; pertama, bahwa masuk Islam itu cukup dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam sebagian hadis lainnya, cukup dengan mengucapkan satu kalimat syahadat tauhid. Kemungkinan hadis dengan riwayat yang hanya mewajibkan pengucapan kalimat tauhid saja dapat dikategorikan sebagai ringkasan yang dilakukan para periwayat hadis atau memang karena kaum musyrik Quraish (yang dimaksud dengan kata umat manusia) pada hadis tersebut tidak mungkin mengucapkan kalimat tauhid kecuali mereka juga harus beriman terlebih dahulu terhadap Nabi yang mengajarkan tauhid tersebut yakni Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga :  Memahami Hadis Bayi yang Terlahir dalam Keadaan Kafir

Karena itu, ada sebagian ulama generasi terdahulu yang mengatakan bahwa al-Islam al-kalimahIslam itu  ikrar’ yakni mengikrarkan kalimat syahadat. Adapun shalat, puasa, zakat dan lain-lain hanya dituntut ketika seseorang sudah menjadi muslim karena ibadah-ibadah ini tidak sah dilakukan dan bahkan tidak akan diterima jika belum masuk Islam. sedangkan orang non-muslim tidak ada kewajiban baginya untuk shalat, puasa, zakat, haji dan seterusya karena ia tidak mengikrarkan terlebih dahulu untuk masuk Islam.

Kedua, hadis-hadis riwayat Ahmad bin Hanbal ini menunjukkan bagaimana Nabi menghadapi persoalan syarat yang diajukan beberapa kabilah Arab untuk masuk Islam, yakni persyaratan untuk tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban tertentu. Di satu kesempatan, memang Nabi  menerima persyaratan tersebut namun di kesempatan lain Nabi juga menolaknya. Misalnya seperti yang terjadi pada Basyir bin al-Khasasiyah  yang pernah satu ketika ia ingin masuk Islam namun mensyaratkan kepada Nabi untuk tidak berzakat dan berjihad. Lalu Nabi dengan bijak memegang tangan Basyir dan mengatakan: “Wahai Basyir…kalau tidak dengan jihad dan berzakat, lalu dengan bekal apa lagi kamu akan masuk surga?”

Namun dalam kesempatan lain, yakni, dalam kasus kabilah Thaqif nabi menerima persyaratan masuk Islam mereka untuk tidak berjihad dan berzakat. Hal demikian karena Nabi menyadari bahwa kelak kabilah Thaqif ini tidak berhenti keislamannya sampai di persyaratan yang mereka sebutkan saja. Atas dasar keyakinan itu, Nabi SAW bersabda: “Kelak mereka akan berzakat dan berjihad”.

Redaksi ini menunjukkan optimisme Nabi terhadap perubahan keislaman mereka ke arah lebih baik. Hal demikian dapat dilihat dari aspek kesejarahannya, yakni ketika suku-suku Arab murtad terhadap pemerintahan Abu Bakar, hanya Quraisy dan Thaqif sajalah yang terdepan memegang teguh keimanan. Dengan demikian, menjadi muslim itu mudah, cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here