Viral Muazin di Kuwait Mengubah Lafal Adzan, Bagaimana Hukumnya?

1
4540

BincangSyariah.Com – Dilansir dari Aljazeera, Jumat 13 Maret 2020, sebuah video memilukan beredar di internet di tengah merebaknya wabah virus corona. Seorang muazin di salah satu masjid di Kuwait menangis saat melantunkan azan. Namun lafadz adzannya berbeda, menghimbau agar jamaah shalat di rumah. Muazin melakukan perubahan lafadz adzan, dari yang seharusnya “hayya alassholah” (mari kita shalat) menjadi “shallu fi rihaalikum atau ala shallu fi buyuutikum” (shalatkah kalian di rumah). Setelah itu, ketika mengumandangan takbir dan tahlil, suaranya bergetar, sempat terhenti sesaat. (Baca: Umat Muslim Terjangkit Virus Corona Diharamkan Sholat Jamaah di Masjid, Ini Alasannya)

Ini terjadi setelah keputusan Kementerian Awqaf Kuwait, Jumat 13 Maret 2020, untuk menghentikan khutbah Jumat dan sholat berjamaah di masjid-masjid dan sampai pemberitahuan lebih lanjut sebagai tindakan pencegahan karena takut akan penyebaran virus Corona di negara itu. Kementerian menyatakan “sesuai dengan arahan otoritas kesehatan setempat dan Komite Fatwa, telah memutuskan untuk menghentikan khutbah Jumat dan shalat Jumat hingga pemberitahuan lebih lanjut.”

Lalu bagaimanakah hukum melakukan perubahan lafadz adzan?

Perubahan adzan ini bukan mengada-ada, melainkan pernah dipraktikkan oleh Nabi saw sendiri tatkala merebaknya cuaca ekstrem, sangat dingin, hujan deras, dan berangin sehingga dapat  membahayakan kesehatan masyarakat. Maka Nabi saw memerintahkan adzan dengan perubahan lafadz di atas. Sebagaimana hadis di bawah ini,

وَحَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِىُّ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ صَاحِبِ الزِّيَادِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِى يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ – قَالَ – فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ

Baca Juga :  Hukum Membaca Shalawat Setelah Adzan dengan Suara Keras

Dari Abdullah bin al-Harits dari Abdullah bin Anas berkata kepada muadzinnya pada hari penghujan, “Apabila engkau telah selesai mengumandangkan asyhadu alla ilaha illallah asyhadu anna muhammadan rasulullah, maka janganlah mengucapkan hayya alas shalah (mari kita shalat), ucapkanlah shallu fi buyutikum (shalatlah kalian di rumahmu).” Maka sebagian manusia (sahabat) seolah-olah mengingkari hal itu. maka Abdullah bin Abbas berkata: “Kamu heran dengan hal ini? Padahal ini sudah dikerjakan oleh seorang yang jauh lebih dari saya yaitu Nabi saw., sesungguhnya Beliau saw adalah kepastian, dan saya kurang suka menyuruh keluar rumah sehingga kamu berjalan di tanah becek dan berlumpur.” (H.R. Muslim No. 1637 dan Abu Daud No. 1066).

Dalam redaksi yang lain, redaksinya adalah ala shollu fir rihal (shalatlah kalian di rumah) pada saaat cuaca dingin dan berangin. Bahkan boleh membatalkan shalat dan mengulang shalat yang dibatalkannya jika terjadi bencana atau wabah secara mendadak dan urgen. Sebagaimana keterangan Syekh Wahbah al-Zuhaili berikut ini:

وإمكان تدارك الصلاة بعد قطعها، لأن أداء حق الله تعالى مبني على المسامحة

Artinya, “(shalat juga wajib dibatalkan bila…) dan memungkinkan mengulang shalat tersebut setelah pembatalan karena pemenuhan kewajiban terhadap Allah didasarkan pada kelonggaran.” (Syekh Wahbah al-Zuhaili, dalam kitab al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, [Beirut: Dar al-Fikr, 1985 M/ 1405 H], cet. II, Juz II, hal. 37).

Dengan demikian, perubahan lafadz adzan di atas bukanlah mengada-ada dan diperbolehkan oleh Nabi Muhammad saw. dikarenakan cuaca ekstrem dan membahayakan masyarakat. Dalam kaidah ushul fiqh dinyatakan al-hajatu tanzilu manzilatad dharurah (kebutuhan  mendesak itu dapat menduduki posisi darurat). Semoga Allah swt senantiasa menjaga diri, keluarga dan kerabat serta orang-orang ang kita sayangi dari wabah pandemi corona. Dan semoga Allah swt menjaga negeri kita tercinta dari segala macam ujian, dan cobaan termasuk wabah corona. Aamiin.

Baca Juga :  Batasan Khaufil Fitnah dalam Kitab-kitab Fiqih

1 KOMENTAR

  1. […] Menurut kebanyakan ulama, menjawab adzan dianjurkan bagi setiap orang yang mendengar kalimat adzan, baik laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Bahkan kesunnahan menjawab adzan bukan hanya ketika dalam keadaan suci saja, namun juga ketika sedang dalam keadaan hadas, baik kecil maupun besar. Hadas kecil atau besar bukan halangan untuk menjawab adzan. (Baca: Viral Muazin di Kuwait Mengubah Lafal Adzan, Bagaimana Hukumnya?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here