Risalah Terbuka untuk Mualaf yang Suka Menjelek-Jelekkan Agama Lamanya

0
1190

BincangSyariah.Com – Ulama dan sufi ternama, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Gazali, menyebutkan bahwa sifat orang-orang yang memiliki akal (dzawil albab) adalah melihat seluruh makhluk Allah dengan mata kasih-sayang (bi ‘ain ar-rahmah) dan meninggalkan perdebatan dan pertentangan (wa tark al-mamarah). Sebab, mereka (dzawil albab) adalah makhluk Allah yang paling mulia (Minhaj al-‘Abidin, 2016: 37).

Menurut penulis, sifat dzawil albab ini bertalian erat dengan konsep ihsan dalam Islam. Dalam hal ini, agama (Islam) memiliki tiga dimensi dasar yang saling melengkapi dan tidak boleh dipisahkan satu sama lain, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Apabila dipersempit, maka Islam barangkali identik dengan fikih; iman identik dengan tauhid; dan ihsan identik dengan akhlak atau tasawuf. (Baca: Ingin Jadi Mualaf? Ini Tata Cara Masuk Islam)

Artinya, keislaman kita kurang sempurna apabila meniadakan salah satu dari tiga dimensi dasar Islam tersebut. Sebab, terkadang kita terlalu bersemangat dalam iman dan Islam dan melupakan ihsan.

Oleh karena itu, kita cenderung menampakkan keberimanan dan keberislaman yang kasar, beringas, dan seringkali mengusik hak orang lain. Sehingga tidak jarang atas nama agama kita seringkali mengganggu dan bahkan menyerang orang lain hanya karena berbeda agama, atau mazhab, ataupun pemikiran.

Atas nama dakwah kita seringkali menjelek-jelekkan dan menyakiti perasaan orang lain hanya karena dianggap lebih rendah, bid‘ah, kafir, ataupun sesat.

Berbeda apabila kita memadukan iman, Islam, dan ihsan secara baik, maka tentu kita akan menampakkan keberimanan dan keberislaman yang lembut dan menenteramkan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Meminjam istilah Imam al-Gazali tersebut: an-nazhara ila kaffati khalqillah ta‘ala bi ‘ain ar-rahmah wa tark al-mamarah, yaitu kita akan melihat seluruh makhluk Allah dengan mata kasih-sayang dan meninggalkan perdebatan dan pertentangan.

Sehingga atas nama agama kita akan senantiasa menghargai dan memuliakan manusia, sebagaimana Allah telah memuliakannya terlebih dahulu (al-Isra’ (17): 70). Atas nama dakwah kita akan senantiasa menghargai perbedaan sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri dengan cara saling mengenal, memahami, dan mengakui satu sama lain (al-Hujurat (49): 13).

Dahulu kala Rasulullah saw. pernah berdiri dalam rangka menghormati jenazah orang Yahudi yang kebetulan diusung melewati hadapannya. Lalu, seorang sahabat “protes” seraya berkata: “ya Rasulullah saw., bukankah itu jenazah orang Yahudi?” Rasulullah saw. menjawab: “bukankah ia juga merupakan jiwa?”

Baca Juga :  Ghasab dan Penjelasan Lengkap tentang Keharamannya

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, sifat dan sikap agung Rasulullah saw. yang menghormati dan memuliakan jiwa manusia tersebut (meskipun berbeda secara agama) menunjukkan bahwa jiwa manusia adalah terhormat dan mulia dari agama manapun dia datang.

Oleh karena itu, sikap Rasulullah saw. tersebut harus dicontoh oleh masyarakat Muslim karena ia merupakan bagian perilaku yang berperadaban (as-Sunnah Mashdaran li al-Ma‘rifah wa al-Hadharah, 2002: 287-289).

Dalam konteks ihsan, Imam Nawawi al-Jawi menyebutkan bahwa ia bisa bermakna perbuatan baik (Kasyifah as-Saja, hlm. 13). Muhammad az-Zuhaili memasukkan ihsan sebagai salah satu tujuan syariat Islam (maqashid asy-syari‘ah) yang harus diwujudkan demi kemaslahatan hidup manusia.

Menurutnya, ihsan merupakan tujuan dari seluruh ajaran Islam, seperti akidah, ibadah, suluk, muamalah, dan politik keagamaan (Mawsu‘ah Qadhaya Islamiyyah Mu‘ashirah, 2009, V: 695).

Konsep ihsan ini penting diperhatikan dan diviralkan kembali di era milenial dalam konteks keindonesiaan yang multi suku, agama, dan mazhab. Mengingat terdapat kebiasaan buruk beberapa mualaf yang suka menjelek-jelekkan agama lamanya. Oleh karena itu, penulis mengajukan beberapa hal dalam merespon kenyataaan tersebut, yaitu:

Pertama, salah satu ajaran akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam adalah husnul khuluq (budi pekerti yang baik). Rasulullah saw. bersabda: wa khaliq an-nas bi khuluqin hasanin (dan bergaullah dengan sesama manusia menggunakan budi pekerti yang baik).

Menurut Imam an-Nawawi, kalimat khuluqin hasanin tersebut meliputi seluruh perbuatan baik kepada manusia dan menahan diri dari mengganggu dan menyakiti manusia. Sebab, Rasulullah saw. bersabda: “Allah telah memilih untuk kalian agama Islam, maka hendaklah kalian memuliakannya dengan budi pekerti yang baik dan kemurahan hati. Karena sesungguhnya Islam tidak akan sempurna tanpa keduanya (Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah, hlm. 58-59).”

Menurut Syekh Hasan al-Mas‘udi, budi pekerti yang baik ini merupakan hal yang sangat utama karena ia berpengaruh secara nyata kepada jiwa manusia, melahirkan rasa cinta dan kasih-sayang di antara sesama manusia, mengukuhkan persaudaraan, dan mengarahkan kepada perbuatan-perbuatan baik (Durus al-Akhlaq, I: 13). Dalam hal ini, termasuk salah satu bentuk budi pekerti yang baik adalah tidak suka menjelek-jelekkan agama orang lain dan pemeluk agama lain.

Baca Juga :  5 Mualaf Dunia yang Mengharumkan Islam

Kedua, Allah melarang umat Islam menghina sesembahan orang-orang non-Muslim, sebagaimana disebutkan dalam al-An‘am (6): 108. Menurut Ibn Katsir, umat Islam tidak boleh menghina sesembahan mereka untuk menghindarkan kemudaratan yang lebih besar. Dengan kata lain, meskipun menghina sesembahan non Muslim dianggap mendatangkan manfaat, tetapi ia tetap tidak boleh dilakukan karena akan mengundang atau mendatangkan kemudaratan yang lebih besar (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim 2000: 711).

Adapun ulama dan mufasir Indonesia, Syekh Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), ketika menafsirkan al-An‘am (6): 108 menyebutkan bahwa apabila Muslim menghina sesembahan non-Muslim dan kemudian non-Muslim tersebut balik menghina Allah, maka Muslim tersebut berdosa.

Sebab, dia secara tidak langsung telah menghina Allah karena telah memulai menghina sesembahan non-Muslim terlebih dahulu. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu dosa besar adalah mencaci-maki ayah-bundanya sendiri. Hal ini berkaitan dengan seseorang yang mencaci ayah atau ibu orang lain dan kemudian orang lain itu balik membalas dengan mencaci ayah atau ibu seseorang tersebut (Tafsir al-Azhar, jilid 3: 2134-2135).

Oleh karena itu, menurut Hamka, apabila Muslim membalas cacian sebagian pemeluk Kristen, maka dia berdosa besar dan bahkan bisa keluar dari Islam (kafir). Dalam hal ini, apabila ada orang Kristen mencaci Nabi Muhammad saw. dan kemudian Muslim membalasnya dengan mencaci Nabi Isa as., maka Muslim tersebut bisa kafir.

Sebab, Islam memuliakan dan mengimani Isa as. sebagai nabi dan rasul yang tidak boleh dihina dan dicaci. Apalagi Muslim mencaci-maki duluan Nabi Isa. as. dan kemudian orang Kristen membalasnya dengan mencaci Nabi Muhammad saw., maka Muslim tersebut memikul dua dosa besar sekaligus. Selain itu, seseorang yang suka memaki orang lain hanya karena berbeda pendapat dan pendirian, maka sejatianya dia tidak berilmu.

Ketiga, Allah melarang umat Islam mengolok-olok orang lain, sebagaimana diabadikan dalam al-Hujurat (49): 11. Menurut Ibn Katsir, ayat ini menegaskan bahwa Islam melarang setiap Muslim mengejek manusia, yaitu memandang rendah dan mengolok-oloknya. Sebab, perbuatan semacam ini termasuk bagian dari sifat dan sikap sombong yang sangat dicela dalam Islam (hlm. 1747).

Baca Juga :  Utsman bin Mazh'un, Sahabat yang Ditegur Nabi Karena Ingin Membujang Seumur Hidup

Menurut Hamka, al-Hujurat (49): 11 mengajarkan orang-orang beriman sopan-santun dalam menjalani hidup dengan sesama manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang merasa beriman, maka dia tidak akan suka mengolok-olok, menghina, dan merendahkan orang lain.

Sebab, dia akan lebih suka melihat ke dalam daripada ke luar. Artinya, orang beriman lebih sibuk melihat kekurangan-kekurangan dirinya, sehingga tidak sempat melihat kekurangan atau aib orang lain. Sementara orang yang tidak beriman lebih sibuk melihat kekurangan orang lain, sehingga lupa pada kekurangan-kekurangan dirinya (jilid 9: 6827-6828).

Hamka menyebutkan bahwa mengolok-olok, menghina, dan merendahkan orang lain selain termasuk perbuatan dosa, juga termasuk perbuatan yang diancam dengan neraka wailun. Hal ini ditegaskan dalam al-Humazah (104): 1.

Kata humazah bisa bermakna menyakiti orang lain dengan tangan (memukul) dan kata lumazah bermakna menyakiti orang lain dengan mulut (mencela). Dalam kesempatan lain, dia menjelaskan bahwa lumazah adalah pengumpat, yaitu orang yang menjelek-jelekkan orang lain da merasa bahwa dia saja yang paling benar (jilid 10: 8107).

Keempat, Islam sangat menekankan persaudaraan, baik persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah basyariyyah), persaudaraan sesama Muslim (ukhuwwah islamiyyah), maupun persaudaraan sebangsa (ukhuwwah wathaniyyah). Dalam konteks Indonesia, ketiga bentuk persaudaaran ini pernah dirumuskan oleh KH. Ahmad Siddiq (tokoh NU masa Orde Baru). Ketiganya tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus saling mengisi satu sama lain (Muhammad Najib Azca, dkk., Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi, 2019: 137-138).

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, persaudaraan yang sangat ditekankan Islam tersebut memiliki tiga unsur yang harus dipenuhi, yaitu: cinta, persamaan, dan saling tolong menolong. Dengan demikian, sesama saudara, baik saudara antar manusia, agama (Islam), maupun bangsa harus saling mencintai dan tolong menolong satu sama lain, bukan malah saling benci, menebarkan permusuhan, dan caci-maki.

Hal ini pada gilirannya akan mewujudkan tujuan al-Qur’an lainnya, yaitu perdamaian dunia. Sebab, Islam memang tidak menghendaki peperangan dan pertentangan dalam kehidupan manusia (Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an al-‘Azhim? 1999: 118-119 & 121). Akhirnya, wa allah a‘lam wa a‘la wa ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here