Hukum Money Game dalam Islam

0
809

BincangSyariah.Com – Money Game (Arisan Berantai) merupakan game berisikan permainan uang semata. Pola dasar dari money game adalah upaya pengumpulan dana masyarakat dengan janji berupa bonus pencarian anggota. Terkadang money game ini juga dilakukan dengan jalan dibungkus konsepsi tolong-menolong, namun dengan ketiadaan instansi yang menjaminnya. Keberadaan instansi penjamin ini kelak membedakan money game dengan asuransi yang sama-sama berangkat dari asas ta’awun dan takaful.

Konsep asal tolong menolong pada hakikatnya adalah yang dikuatkan oleh syariat seiring ayat yang menyatakan perintah untuk melakukannya (Q.S. Al-Maidah [5] ayat 2). Shighat amar (kata perintah) yang dipergunakan di dalam ayat ini menunjukkan pengertian yang mendekati wajib (sunnah muakkadah), atau bahkan bisa meningkat ke status wajib, khususnya bila pihak yang dimintai pertolongan adalah pihak yang mampu. Meninggalkan menolong saudara yang tidak mampu ketika diri penolong ini orang yang mampu melakukan merupakan sikap yang tercela (madzmumah) di dalam syariat. (Baca: Hukum Mengikuti BPJS Menurut Islam)

Akan tetapi, objek pertolongan tidaklah selalu berupa harta. Menolong juga bisa berupa ucapan yang baik atau memasukkan unsur-unsur kebahagiaan (idkhal al-surur). Bahkan, seandainya pertolongan itu hanya berupa menyingkirkan duri yang dijalan (imathath al-adza), hal itu sudah dinilai sebagai sebuah pertolongan dan dibenarkan oleh syariat.

Objek pertolongan berupa harta, oleh syariat sudah digariskan melalui berbagai hal, di antaranya adalah lewat infaq atau shadaqah. Di sisi lain, bila hal itu tidak bisa dilakukan, pertolongan dengan kembalinya harta yang diberikan sesuai dengan asalnya, sudah termasuk hal yang terpuji. Pertolongan sedemikian rupa dinamakan dengan istilah utang. Mensistemkan tolong menolong dalam memberikan utang dalam wadah “arisan” bersama dengan tetangga, hal itu juga dibenarkan oleh syariat dengan catatan tidak ada akad riba dan gharar di dalamnya.

Baca Juga :  Pajak dalam Pandangan Hukum Islam

فَرْعٌ : الْجُمُعَةُ الْمَشْهُورَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ, إلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ

(Far’un) Perkumpulan yang masyhur di kalangan wanita dengan cara ada seorang wanita mengambil sejumlah uang yang ditentukan dari semua anggota setiap jum’at sekali atau setiap bulan sekali, kemudian uang yang terkumpul diberikan kepada seseorang dari mereka secara bergiliran, satu demi satu sampai akhir giliran hukumnya adalah boleh sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Syaikh Wali Al Iroqy.” (Hasyiyah al-Qalyuby ‘ala al-Mahally, Juz 2, halaman 258)

Dari kedua illat riba dan gharar ini, hal yang sangat penting diperhatikan adalah keberadaan gharar (penipuan). Gharar ini ada banyak macam modus operandinya, sehingga menyebabkan akad arisan yang hukum asalnya adalah boleh bisa berakibat menjadi tidak boleh, bahkan haram. Tentu dalam hal ini dibutuhkan beberapa kaidah fikih sehingga bisa menempatkan kadar halal dan haramnya arisan tersebut.

Pertama, bahwa arisan itu merupakan akad utang (qardl).

Di dalam akad qardl, terdapat sebuah kewajiban yang berlaku atas pihak yang diutangi, yaitu kembalinya pokok utang (ra’su al-mal) secara utuh tanpa adanya pengurangan dan bertambah. Bila dalam arisan terdapat akad bahwa pihak yang diutangi tidak wajib mengembalikan utangnya, maka akad tesebut dinamakan dengan akad shadaqah, atau hibah, atau waqaf, atau bahkan hadiah. Alhasil, jika ada kegiatan arisan dengan pola semacam ini, maka kegiatan itu jelas bukan arisan sebagaimana yang berlaku umum di masyarakat kita. Sebab, di dalam arisan, terdapat sebuah kewajiban yang bersifat mengikat antar sesama anggotanya, sehingga karenanya, relasi yang saling mengikat ini disebut relasi muqaradlah (saling mengutangi).

Baca Juga :  Pesan Nabi, Meski Besok Mati Tetaplah Menanam Pohon

Dengan demikian, relasi arisan namun dengan ketiadaan kewajiban muqaradlah (saling mengutangi) itu disebut relasi apa?

  1. Bisa jadi relasi itu merupakan relasi donasi (memberikan uang anda kepada orang lain), atau bahkan penipuan (gharar).
  2. Jika memberikan uang kepada orang lain ini dilakukan dengan salah satu pihak merasa tidak ridla, sebab tidak mendapatkan apa yang dia mahui (sebagai pihak ditolong dan mendapatkan donasi), menandakan bahwa telah terjadi praktik penipuan (gharar) di sana dengan bungkus tolong menolong.
  3. Undian yang dilakukan dengan “ketiadaan jaminan” bahwa “semua pihak” akan mendapatkan hal yang sama dengan pihak lain yang pernah mendapatkan undian, menandakan bahwa undian itu termasuk kategori judi (qimar) dengan ciri khas keberadaan pihak lain yang terambil hartanya secara batil. Jika undian seperti ini diatasnamakan sebagai arisan, maka tak pelak lagi bahwa kegiatan itu sejatinya adalah judi berbungkus “arisan”.
  4. Seorang administrator arisan bertanggung jawab dalam menarik, mengundi dan memberikan uang hasil akad muqaradlah kepada pihak yang berhak yaitu pihak yang keluar hasil undiannya. Jika ternyata pihak adminitrator tidak dapat melaksanakan tugasnya yang diakibatkan salah satu pihak yang pernah mendapatkan undian ternyata mangkir dari pembayaran kewajiban, maka tak urung akad muqaradlah / arisan ini merupakan akad yang tidak berjamin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang melakukan muamalah yang tidak berjamin. Jangankan dalam arisan, bahkan dalam jual beli saja hukumnya dilarang.
  5. Ketiadaan pihak yang bisa dituntut lewat jalur hukum di bawah pengawasan hakim yang adil agar pihak yang pernah mendapat undian turut serta menunaikan kewajibannya, adalah ciri khas dari arisan berantai dan scam. Alhasil, hukumnya adalah haram sebab sama artinya dengan memakan harta orang lain secara tidak sah dan batil.
  6. Ketiadaan peserta yang turut serta di dalam arisan itu sebagai yang dikenal, sebab berlokasi di luar pulau, atau bahkan di luar kota, menandakan kepesertaan klub arisan itu sebagai yang terikat (iltizam). Oleh karenanya, arisan dengan klub yang terdiri dari anggota semacam ini, merupakan klub yang tidak berjamin. Tidak mengikuti klub semacam dengan memandangnya sebagai haram, adalah tindakan saddu al-dzari’ah (antispasi penipuan) yang dibenarkan oleh syara’.
  7. Bila di dalam arisan itu dijanjikan semacam bonus dalam pencarian anggota, maka bonus itu adalah termasuk akad riba yang diharamkan.

Berbagai uraian di atas, merupakan modus operandi dari money game. Ikut serta dalam money game, meskipun di atasnamakan tolong-menolong, atau ta’awun, hukumnya adalah haram. Alhasil, penyerahan, pemasaran, menawarkan acara sebagaimana di atas kepada orang lain, hukumnya adalah juga haram karena dapat membuka kesempatan lahirnya korban-korban yang hartanya di bawa lari oleh pihak lain yang tidak dikenali.

Baca Juga :  Hukum Bekerja di Bank Konvensional Menurut Ulama Fikih

Dalam kondisi seperti ini, bila ada pihak anggota yang menuntut hartanya agar dikembalikan, maka pihak yang wajib berlaku sebagai dlamin (penanggung ganti rugi) adalah pihak yang mengajak atau memasarkan, sebab ciri-ciri kejahatan dengan model semacam adalah sudah jelas. Jadi, berhati-hatilah dalam mengikuti tawaran arisan berbungkus tolong-menolong bersama dengan anggota yang tidak dikenal!

Syariat memerintahkan tolong-menolong dengan harta, adalah di mulai dari 1) kerabat dekat, dan 2) tetangga. Jadi, mengapa anda memilih menolong orang yang tidak anda kenal?

Tanyakan pada diri anda, sebenarnya mahu menolong, atau mahu mendapatkan bonus dari mereka? Jika dalam benak anda, ada secuil bersitan bahwa anda hendak mencari bonus dari orang yang tidak anda kenal itu, maka itu tandanya bahwa kegiatan yang anda ikuti adalah money game. Waspadalah!

Wallahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here