Moderasi Beragama Santri dan Tradisi Mengkaji Kitab Kuning

0
15

BincangSyariah.Com – Menggali dan mengkampanyekan moderasi beragama yang digali dari tradisi kaum santri itu sangat penting. Salah satu komponen utama pesantren yang disebutkan oleh Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1985) ialah kitab kuning. (Baca: Belajar Bagaiamana Memperlakukan Kitab Kuning dari Kiai Sahal Mahfuzh)

Pesantren sebagai entitas penting dalam penyebaran dan pembentukan wajah Islam yang ramah, memiliki tanggung jawab sekaligus tawaran solusi atas persoalan ini. Tradisi pesantren merupakan tradisi Islam yang moderat.

Genealogi keilmuan dan model beragama kaum santri, sebagaimana ditulis Abdurrahman Mas’ud dalam disertasinya “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching” dapat dilacak hingga generasi para wali. Para wali mentransmisikan Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang terbuka dan luwes.

Kitab kuning, menurut Martin Van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, merupakan kitab keagamaan berbahasa Arab, Melayu, Jawa atau bahasa lainnya di Indonesia dengan menggunakan aksara Arab yang ditulis oleh ulama Timur Tengah ataupun Indonesia. Kitab kuning dicetak di atas kertas berwarna kuning. Martin Van Bruinessen menyatakan bahwa kitab kuning merupakan kitab klasik yang ditulis dengan huruf Arab dan digunakan di pesantren.

Kitab kuning dalam tradisi pesantren tidak hanya dianggap sebagai media pembelajaran. Melampaui dari kumpulan materi yang diajarkan, kitab kuning juga mengandung karakter moderasi beragama para santri. Dari kitab kuning, transmisi nilai, tradisi, dan ilmu pengetahuan dalam bingkai Ahlus Sunnah wal Jama’ah terjadi dalam pesantren. Termasuk di dalamnya nilai dan tradisi moderasi beragama. Watak dan karakter Islam moderat “yang diwarisi” dari para wali ditransmisikan melalui kitab kuning.

Martin Van Bruinessen mencatat bahwa kitab-kitab yang diajarkan di pesantren memut keilmuan Islam tradisional Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Seperti kitab akidah aliran Asy’ariyah melalui karya-karya A1-Sanusi, kitab mazhab fikih Imam Syafi’i  dan ajaran-ajaran akhlak dan tasawuf Al-Ghazali. Dari ajaran-ajaran inilah, prinsip manhaj al-fikr (metode berfikir) seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), ta’adul (berlaku adil) dan tawazun (seimbang) digali.

Selain konten materi kitab kuning yang berisi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang moderat, di dalam kitab kuning santri terbiasa dihadapkan pada perbedaan dan keberagaman. Misalnya dalam konteks ilmu fikih, santri akan berjumpa dengan beragam pendapat yang saling berseberangan. Keanekaragaman pandangan dan tafsir atas ajaran agama membuat santri dididik dalam tradisi yang tidak mudah menyalahkan. Perjumpaan dengan literatur dari berbagai madzhab (muqaranat al-madzahib) membuka cakrawala pemikiran santri.

Terbiasa dengan perbedaan membuat santri benar-benar meyakini bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan. Jadi bukan menjadi hal yang aneh jika tradisi bahtsul masail santri selalu berlangsung hangat, bahkan memanas tapi berakhir dengan dingin dan bijaksana. Kekayaan dan penguasaan referensi atas kitab kuning membangun kesadaran dalam tradisi santri tentang perbedaan adalah hal yang lumrah. Oleh karenanya, bersikap moderat tanpa mudah menyalahkan adalah pilihan yang tepat dalam beragama.

Kitab kuning telah menjadi bagian dari kekayaan khazanah Islam di Nusantara. Di hari amal bakti Kemenag ke 75, nampaknya penting bagi kementrian agama untuk merevitalisasi spirit kitab-kitab klasik pesantren dalam mendorong moderasi beragama. Apalagi di tengah ekstrimisme beragama yang semakin meningkat, tradisi moderasi beragam kaum santri patut dijadikan rujukan dan teladan.

Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here