Minyak Goreng Terkena Najis, Masih Bisakah Disucikan dan Digunakan?

0
1327

BincangSyariah.Com – Benda mutanajjis adalah benda yang aslinya suci, akan tetapi ia terkena najis, akhirnya disebut dengan mutanajjis. Hukum asal dari benda semacam ini adalah bisa kembali suci setelah disucikan, dengan air dan debu. Suatu contoh, ada meja yang terkena najis. Maka cara menyucikannya adalah dengan menyiram air bagian yang terkena najis. (Baca: Hukum Berwudu Menggunakan Air Kejatuhan Bangkai Hewan)

Untuk menyucikan benda semacam, para ulama menyarankan, agar menghilangkan ain al-najasah-nya terlebih dulu, yaitu fisik dari najis. Setelah itu, baru najis hukminya yang dihilangkan. Najis hukmi ini meliputi warna, rasa dan bau. Jika sudah tidak terdapat warna, rasa dan bau, maka benda yang terkena najis itu menjadi suci kembali secara mutlak.

Adapun bila ternyata masih tersisa bau saja, beberapa ulama menyatakan dima’fu (dimaafkan), sebab masuk kategori udzur dan masyaqqah (sulit). Konsep seperti ini, sangat berguna sekali bagi mereka yang bekerja di lingkungan peternakan. Para pekerja di kandang, umumnya merasa kesulitan dalam menghilangkan wujud bau kotoran yang seolah melekat di tangan dan tubuh mereka. Sekalipun sudah disabun dan digosok-gosok dengan tanah.

Berangkat dari konsep “fisik benda yang terkena najis”, yang salah satu cirinya, adalah antara benda dan air bersifat tidak bisa bercampur, bahkan andaikan keduanya disatukan, maka kemudian dikenal adanya istilah khalathah jiwar (berdempetan / berdampingan). Natijah yang dihasilkan, adalah jika benda itu masih memenuhi hukum jiwar (berdampingan) akan tetapi bisa dipisah, maka benda tersebut hakikatnya bisa disucikan.

Lain halnya jika percampurannya bersifat larut (isytirak). Jika benda yang hendak disucikan itu bersifat bisa larut di dalam air, maka najis cair yang mengenainya, dapat menjadikannya sebagai yang tidak suci lagi, dengan ketetapan, bila hal itu terjadi pada air kamar mandi, maka ada batasan 2 qullah. Jika air itu, kurang dari 2 qullah kemudian terkena najis, maka air itu menjadi mutanajjis semuanya.

Baca Juga :  Buntut Terorisme di Masjid Christchurch: Pelajar Muslimah Takut Meninggalkan Rumah

Nah, kedua pola percampuran ini selanjutnya bisa dipergunakan untuk menghukumi suatu kasus, semisal ada minyak goreng terkena najis. Jumlah minyak gorengnya banyak. Mau dibuang sayang. Mau ditimbun, fisiknya sudah terkena najis. Apakah ada cara untuk menyucikannya?

Berbekal konsep khalathah jiwar dan khalathah isytirak, kita bisa merumuskan jawaban, bahwa antara air dan minyak itu tidak bisa bersatu. Artinya keduanya merupakan khalathah jiwar (berdempetan saja). Jika memakai konsep ini, maka mustinya minyak bisa disucikan dengan metode penyucian sebagaimana sudah termaktub di atas, yaitu 1) menghilangkan najis ainiyahnya, dan 2) menghilankan najis hukminya.

Namun, pendapat yang lain juga menyatakan bahwa minyak itu termasuk kategori mai’ (benda cair). Benda cair bertemu benda cair, maka tidak bisa disucikan. Pendapat ini merupakan pendapat yang ashah (pendapat yang paling shahih).

Keberadaan dua titik tolak yang berbeda ini menghasilkan hukum yang berbeda pula. Sebagaimana pendapat ini dirangkum dalam keterangan kitab Mughny al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfadhi al-Minhaj, Juz I halaman 86, berikut ini:

Pendapat yang mendukung tidak bisa disucikannya, disampaikan dengan redaksi sebagai berikut:

ولو نجس مائع غير الماء ولو دهنا (تعذر تطهيره) إذ لا يأتي الماء على كله لأنه بطبعه يمنع إصابة الماء

“Seandainya ada benda cair telah menajiskan benda selain air, kendati benda yang dinajiskan berupa minyak, maka sulit untuk dilakukan penyuciannya, karena air tidak bisa mendatangi air secara sempurna, karena dilihat dari sisi wataknya, benda cair menghalangi sifat pembasuhan oleh air.” (Mughny al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfadhi al-Minhaj, Juz I halaman 86).

Adapun pihak yang menyatakannya bisa dibersihkan, disampaikan dengan redaksi sebagai berikut:

وقيل يطهرالدهن بغسله قياسا على الثوب النجس وكيفية تطهيره كما ذكره في المجموع أن يصب الماء عليه ويكاثره ثم يحركه بخشبة ونحوها بحيث يظن وصوله لجميعه ثم يترك ليعلو ثم يثقب أسفله فإذا خرج الماء سد إهـ

Baca Juga :  Hukum Mendoakan Kesembuhan untuk Non-Muslim yang Sakit

“Ada satu pendapat lain yang menyatakan bahwa minyak bisa suci dengan cara membasuhnya, dengan qiyas terhadap baju yang terkena najis. Cara penyuciannya sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’ adalah dengan jalan menuangkan air pada minyak itu, menambahkannya, kemudian diaduk-aduk dengan kayu atau semisalnya, hingga sampai pada dugaan bahwa air itu sudah bercampur menjadi satu dengan minyak, kemudian didiamkan sesaat hingga air bergerak ke atas (dan minyak mengendap di bawah). Setelah itu, wadah tempat membasuh tadi dilubangi bagian bawahnya (sehingga minyak mengalir keluar). Begitu air yang semula di atas kemudian akan keluar dari lubang, maka lubang itu dibuntu.” (Mughny al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfadhi al-Minhaj, Juz I halaman 86)

Pendapat terakhir ini pada dasarnya juga merupakan pendapat yang shahih disebabkan berangkat dari illat bahwa antara air dan minyak adalah dua benda yang tidak bersatu. Namun, qaul dhahir juga menyatakan bahwa benda cair tidak bisa disucikan dengan cara apapun disebabkan illat mai’nya.

Lha terus, kita mau memakai pendapat yang mana?

Masing-masing dari kedua pendapat itu, karena berangkat dari illat yang mu’tabar, maka tidak bisa kita secara serta merta mengatakan bahwa pendapat kedua sebagai pendapat bathil. Namun, kearifan penggunaan dua pendapat itu bisa kita terapkan di saat kondisi memungkinkan penggunaannya, bahkan butuh.

Suatu misal, dalam suatu acara, penyelenggara membutuhkan kehadiran minyak goreng yang banyak. Namun, ternyata minyak gorengnya terkena najis. Sudah pasti membuangnya, di satu sisi membuat orang yang punya hajat menjadi semakin sulit, sebab harga minyak goreng juga lumayan mahal. Nah, dalam kondisi itu, kita bisa memakai pendapat sebagaimana pendapat yang disampaikan dalam ibarat terakhir. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Baca Juga :  Hadis Memotong Kuku Saat Qurban Idul Adha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here