Mewujudkan Rekonsiliasi Pasca Pilkada

0
442

BincangSyariah.Com – Dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, disebutkan keterangan bahwa Ubadah bin as-Shamit bercerita: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya.” Ketika sahabat-sahabatnya menjawab, na’am, iya. Nabi berkata, “Kau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, kau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu, dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya.”

Dalam riwayat Abu Darda, Nabi saw. juga menyatakan: “Maukah kalian aku beritahu tentang derajat yang lebih baik ketimbang derajat puasa dan salat pada malam hari?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Memperbaiki kondisi di antara dua pihak.” (HR Ibn Hibban).

Menurut Abu Thayyib dalam kitabnya, ‘Awn al-Ma’bûd, makna ishlah dzatil bayn adalah memperbaiki kondisi di antara sesama muslim sehingga mereka dalam kondisi saling menyayangi, mencintai, dan sepakat (tidak dalam perselisihan). Beliau kemudian menambahkan, karena kata dzatil bayn itu mengandung banyak arti.

Namun arti yang lebih spesifiknya ialah: thuruqus salamah (jalan keselamatan) serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Usaha untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru disebut sebagai rekonsiliasi.

Secara literal, rekonsiliasi berasal dari bahasa Inggris reconciliation. Dalam kamus al-Mawrid, karya Ba’albakki dinyatakan, bahwa reconciliation berarti as-shulh (perdamaian), tepatnya jika ada dua pihak yang saling berseteru, kemudian dilakukan ishlah (rekonsiliasi). Menurut istilah fukaha, shulh adalah kesepakatan yang bisa membawa kebaikan di antara kedua belah pihak yang berselisih.

Dilihat dari konteks pemaknaan terhadap rekonsiliasi di atas, tegas sekali rekonsiliasi tersebut merupakan salah satu ajaran yang sangat dianjurkan atau bahkan diperintahkan oleh Islam. Hal demikian sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kemakrufan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. (QS an-Nisa’ [4]: 114).”

Baca Juga :  Bolehkah Sahur Sebelum Jam Dua Belas Malam?

Namun usaha-usaha untuk melakukan rekonsiliasi tidaklah mudah dilakukan. Hal demikian dapat dilihat dalam beberapa alasan berikut: pertama, strategi apa pun untuk memelihara ukhuwwah islamiyyah akan gagal, kalau tidak ada iktikad baik dari kedua belah pihak. Bila yang satu membangun jembatan dan yang lain membuat benteng, maka keduanya tidak akan bertemu.

Khutbah, ceramah, seminar, bahkan tindakan kekerasan tidak akan mempersatukan dua pihak yang berbeda kepentingan. Bila satu pihak berusaha mengalah demi ukhuwwah dan membuka dirinya untuk memahami yang lain; sementara lawannya berusaha memanfaatkan sikap mengalah itu dan menutup diri untuk memahami yang lain, maka ukhuwwah tidak pernah akan terwujud.

Dewasa ini, di Indonesia, berbagai golongan mulai melakukan pendekatan. Berbagai seminar telah diadakan untuk membahas strategi ukhuwwah. Sayang sekali masih ada golongan yang menyambut uluran persahabatan dengan kecurigaan, dan seruan ukhuwwah dengan buruk sangka. Mereka berusaha mencari-mencari perbedaan ketika pihak yang lain mengajak untuk memperhatikan persamaan. Mereka membongkar aib golongan yang lain, sebagian besar dengan memanfaatkan kemampuan imaginasi yang disalahgunakan. Sebagai pengganti jembatan, mereka membangun benteng yang kukuh.

Kedua, sejarah mengajarkan bahwa ketika kepentingan agama ditundukkan pada kepentingan politik, ukhuwwah tidak pernah dapat tercapai. Skisma besar antara Sunni dan Syiah lebih banyak disebabkan oleh kepentingan politik daripada karena perbedaan teologis. Pengalaman kita di Indonesia juga menunjukkan bahwa agama lebih sering diatasnamakan ketimbang direalisasikan. Imbauan agama hanyalah kemasan yang didesain untuk menutupi kepentingan politik.

Ketiga, untuk menghadapi manuver politik, pada umumnya pembangun persaudaraan tidak popular. Musuh-musuh sudah jelas akan mencurigainya. Sahabat-sahabat akan mengkhianatinya. Seperti jembatan, penyeru perdamaian harus siap diinjak orang-orang yang mau menyeberang dari kedua tepian. Pada masyarakat Islam yang sudah terpecah-pecah dalam berbagai kubu, orang yang tidak memihak satu golongan ditolak oleh semuanya. Kebiasaan sebagian umat untuk mengidentifikasi orang dari “bajunya” menyebabkan mereka sulit untuk menempatkan seorang yang menjadi penghubung berbagai golongan.

Baca Juga :  Umamah binti Abu Al-Ash: Cucu Perempuan Kesayangan Rasulullah

Kendati demikian, usaha apapun yang hendak menghancurkan persaudaraan tetap akan dilaknat oleh Tuhan. Alquran sangat mengutuk orang yang memutuskan persaudaraan sampai tiga kali (QS 13;21 dan 47: 22). Dalam Kanz Ummal, melalui hadis qudsi, Allah berkata kepada Nabi Dawud: “sampaikanlah kepada hamba-hamba Kami yang berbuat zalim (dengan memutuskan silaturahim) untuk tidak berzikir menyebut nama-Ku. Sudah menjadi kewajiban untuk menyebut nama orang yang menyebut nama-Ku. Karena itu setiap kali orang zalim itu menyebut nama-Ku, Aku menyebut namanya dengan melaknatnya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here