Metafora Sabar dalam Puisi Rumi

0
1330

BincangSyariah.Com – Kesabaran adalah mahkota keimanan

Orang yang kehilangan kesabaran adalah tidak beriman

Nabi pun bersabda
“Allah tidak memberikan iman kepada orang yang sifatnya pemarah”

Bersabar adala jiwa yang tahu bersyukur
Bersabarlah, sebab itulah kemuliaan yang sesungguhnya

Tak ada kemuliaan yang lebih berharga
demikian, bersabarlah
kesabaran dapat mengobati penyakit

Sahabat, puisi Rumi di atas adalah sebuah nutrisi yang bisa menyadarkan keimanan dengan memberikan asupan kesabaran yang istimewa. Di saat kita mengerti bahwa rambut adalah mahkota perempuan, disitu letak kewajiban perempuan untuk menjaga dna memelihara rambutnya.

Jika tidak, maka perempuan tersebut tidak memiliki kehormatan atau kehormatannya terenggut dengan tidak hormat. Begitupun dengan orang yang beriman. Ia hanyalah jasad yang berjalan di muka bumi jika tak bermahkotakan kesabaran.

Rumi mengenalkan metafora kesabaran sebagai mahkota keimanan. Kehilangan kesabaran berarti sudah mulainya ketiadaan iman pada dirinya. Rumi memperkuat metaforanya dengan hadis Nabi, dimana sabda Nabi mengingatkan bahwa Allah hanya menganugerahkan keimanan hanya kepada orang yang beriman. Orang yang beriman disini adalah orang yang bermahkota kesabaran, bukan ia yang pemarah. Karena pemarah adalah penyebar murka, dan Allah tidak suka kemurkaan, kekejian dan amarah.

Selanjutnya Rumi menyebutkan bahwa sabar adalah jiwa yang bersyukur. Sebab tidak mungkin orang yang tidak bersyukur akan bisa bersabar dengan warna warni kehidupan. Di sinilah terbukti jika kesabaran dan syukur adalah merupakan perkawinan yang indah.

Perkawinan antara syukur dan sabar itulah sebuah kemulian yang hakiki. Sebab itulah Rumi mengurai indah pada akhir puisinya, bahwa sabar adalah obat dari suat penyakit manusia. Sebagaimana diseuratkan dalam QS Al Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ

Baca Juga :  Cerita Nabi tentang Si Belang, Si Botak dan Si Buta

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.

Kesabaran disini adalah “kebertahapan” menjalani ketetapan Allah. Pepohonan bersabar tumbuh dari sebutir biji kecil hingga menjadi pohon yang menjulang tinggi. Bertaham mencapai kedewasaannya walau diserang ulat, diterpa musim yang tak menentu.

Matahari bersabar terbit setiap pagi. Memulai dari timur, terbit sedikit demi sedikit, tidak langsung berada di atas kepala. Air bersabar mengikuti siklusnya. Dari kedalaman samudra, diangkat ke langit. Kemudian dihempaskan dipegunungan. Diseret dalam aliran sungai, mengairi daratan, hingga akhirnya bermuara di lautan kembali. Seluruh alam tegak dalam kesabaran. Kesabaran member kuasa yang luar biasa kepada setiap mahkluk.

Sesungguhnya di balik kesabaran yang terus bertahan tanpa mengeluh itu, terdapat hadiah Allah yang luar biasa. Jika memang kehidupan ini penuh masalah yang warna warni, maka cobalah berobat dengan kesabaran. Hingga suatu saat Allah hadiahkan keadaan yang jauh lebih baik. tentunya setelah melewati masa-masa tersebut dengan tetap syukur kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here