Merumuskan Visi dan Misi Islam

0
3880

BincangSyariah.Com – Saya akan mencoba mengelaborasi apa saja visi dan misi Islam.

Visi Islam adalah,

  1. Islam sebagai hidayah, arahan dan petunjuk komprehensif dalam Al-Quran dan Hadis kepada manusia untuk mencapai apa yang diinginkan Allah, yaitu kebaikan di dunia dan akhirat.
  2. Islam sebagai rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam, termasuk di antaranya kedamaian, keselamatan, kasih, cinta, dan kemudahan.

Ini selaras dengan kalimat pembuka Bismillahirrahmanirrahim. Makna “Islam sebagai rahmat bagi semesta alam” tidak sebatas alam dunia yang kasat mata saja, namun juga alam akhirat atau dimensi lain yang tidak kasat mata, atau kemungkinan-kemungkinan dimensi lain. Seiring dengan itu, tujuan utama Islam sebagai rahmat menjadi kerangka utama dalam memaknai ajaran Islam sesuai dengan konteks zaman. Teks agama harus dipahami sesuai dengan konteksnya, kecuali untuk hal-hal yang sifatnya “aksioma” / ketetapan (contoh aksioma: shalat wajib 17 rakaat sehari)

Sementara Misi Islam adalah untuk memakmurkan dan menciptakan kesejahteraan di muka Bumi. Misi Islam ini sinambung dan berkelanjutan sejak risalah pertama dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Allah menginginkan agar umat manusia makmur di muka bumi dengan nilai-nilai mulia. Berikut ini penjabaran dari Misi Islam,

  1. Tauhid/mengesakan Allah

Tauhid adalah dasar utama ajaran Islam, karena dari tauhid, seluruh uraian dan ajaran agama bersumber. Tauhid sebagai pangkal utama menyatukan keyakinan umat dan panduan seluruh tindakan dan perilaku umat. Tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-wahdan: mengesakan. Mengesakan tidak hanya dengan lisan, namun dengan perbuatan. Contohnya: keyakinan akan Allah yang Esa dan Maha Mengetahui akan memandu kita untuk selalu berperilaku baik dan senantiasa “eling lan waspodo” (sadar akan Allah dan segala kekuasaanNya)

Kita perhatikan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam sabda-Nya sering sekali mengaitkan iman dengan perilaku. Misalnya praktik beriman kepada Allah dan hari akhir dikaitkan dengan perilaku memuliakan tamu. Maknanya, iman dan tauhid tidaklah sempurna jika belum dituangkan ke dalam perbuatan sehari-hari, lebih-lebih kalau digunakan untuk kepentingan tertentu bukan sekadar madzhar / formalisme belaka, namun harus substansi (substansi di atas bentuk)

Dalam keseharian, kita harus mengutamakan Allah di atas segalanya, hatinya terikat dengan Allah. Jika Allah tidak diutamakan, maka berpotensi syirik sikap (misal: menunda-nunda sholat tanpa alasan syar’i, sementara sigap jika dipanggil atasan). Memurnikan tauhid dari perilaku syirik adalah sesuatu yang sangat penting, karena kesyirikan hanya berdampak pada pengaburan akal. Memang dalam Islam, dikenal kasyaf (keterkuakan rahasia Allah), namun itupun hanya diberikan terbatas dan kepada orang-orang pilihan Allah. Itu pun hanya sebagian kecil dari rahasia Allah dan sifatnya simpul dan tanda

  1. Menegakkan nilai-nilai ibadah yang bermuara pada pengabdian total kepada Allah

Nilai-nilai ibadah bukan semata nilai ketuhanan, namun juga nilai kemanusiaan. Contohnya, ketika mengimami sholat, Nabi Muhammad SAW selalu melihat keadaan makmumnya supaya panjang bacaannya disesuaikan (nilai ibadah ke atas dalam sholat muncul bersamaan dengan nilai kemanusiaan, mau memahami dan mengerti manusia). Jika ibadah manusia tidak memunculkan nilai kemanusiaan, maka pemahaman ibadahnya masih jauh dari sempurna. Malahan itu berpotensi adanya kejumawaan diri dalam beribadah.

Pada saat bersamaan, pengabdian total kepada Allah bermakna bahwa semua tindakan lain yang sifatnya pengabdian adalah relatif dan harus diarahkan kepada pengabdian kepada Allah (misalnya: patuh dan mengabdi kepada orang tua dan pasangan harus dibatasi pada hal-hal yang dibolehkan Allah).

Totalitas beribadah kepada Allah harus diyakini akan selaras dengan totalitas Allah kepada kita sebagai hambaNya, tentu dalam sudut pandang Allah Yang Maha dan paling Mengetahui apa yang paling baik untuk hamba-Nya. Totalitas beribadah juga harus memberi dampak positif bagi masyarakat. Maka itu, Islam memandang ibadah baik yang bersifat kolektif dan memberi dampak banyak itu lebih baik (tersirat dalam Al-Fatihah ayat 5, “Hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”. Redaksi yang digunakan adalah kami, yang mengisyaratkan kolektivitas.

  1. Mengimplementasikan nilai-nilai akhlaq sebagai tujuan utama diturunkan risalah

Nabi Saw. bersabda  “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq.” Maka dari itu, iman dan ibadah itu harus membawa kepada akhlaq yang mulia. Ibaratnya, iman dan ibadah ini sebagai jalan menuju tujuan akhir kita, yaitu akhlaq. Bahkan, seluruh pujian Allah kepada Nabi Muhammad SAW terkait dengan akhlaknya yang mulia, bukan soal ketekunan beliau dalam beribadah ataupun perilaku lainnya.

Oleh karenanya, sekali lagi, Islam mengutamakan substansi dan esensi, bukan sekadar simbol dan formalisme ibadah. Jangan pernah menganggap orang yang lebih lama di kantor dan tidak sering ke masjid itu bukan orang baik. Boleh jadi di dalam kesehariannya di kantor rajin beribadah dan memancarkan akhlaq mulia

  1. Memakmurkan Bumi melalui nilai-nilai tauhid, ibadah, dan akhlaq

Misi ini diposisikan sebagai sarana menyalurkan nilai-nilai agama untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka Bumi. Untuk memakmurkan Bumi ini, maka harus punya ilmu, baik itu ilmu agama maupun sains. Orang yang berilmu, baik agamawan maupun ilmuwan, sama-sama dihargai Islam sebagai ulama, asalkan memenuhi syarat keilmuan dan bertakwa kepada Allah. Jangan mendikotomikan ilmu agama dan sains. Tanpa sains, kita tidak bisa memakmurkan Bumi.

Sains kita gunakan untuk mengikuti dan memahami sunnatullah di alam raya ini, agar kita dapat memetik manfaat yang ada di alam semesta ini, baik manfaat dunia maupun akhirat. Pada saat bersamaan, ada pula ketetapan Allah (inayatullah). Maka itu, kita harus berusaha dengan ilmu yang kita miliki dengan penghambaan sepenuhnya kepada Allah (lewat doa dan ibadah lain). Benar bahwa Allah dengan ketetapanNya dapat membuat hal-hal yang di luar nalar (misal: Nabi Musa membelah lautan, serta mukjizat lainnya kepada para Nabi), namun itu insidental dan tidak terus menerus. Sisanya adalah berikhtiar dengan ilmu (menuruti sunnatullah).

Tulisan ini adalah hasil kerjasama bincangsyariah.com, cariustadz.id, dan Kajian Rumahan.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here