Merayakan Kemerdekaan Indonesia di Balik Dinding Madrasah

0
130

BincangSyariah.Com-   Kisah ini dimulai ketika hari spesial itu menjadi sangat menyenangkan. Hari itu, langkah-langkah kecil kaki kami saling mengejar bayangan matahari. Tangan-tangan bocah lelaki jahil, menjawil baju ataupun kerudung kami, tak ada yang mau tertinggal, semua saling mendahului. Sepulang sekolah dasar, setiap pukul 13.30, kami anak-anak desa akan bergegas menuju madrasah. Menghabiskan hari hingga matahari redup.

Saat itu, akhir tahun 1990-an, kerudung yang kami kenakan berupa kain panjang, kadang berbentuk segiempat, ataupun segitiga, disampirkan begitu saja di kepala. Hanya satu dua orang saja yang memakai peniti. Terkadang, belum waktunya pulang kerudung sudah kami masukkan ke dalam tas. Rambut yang awut-awutan pun segera terlihat, tak ada amarah dari bapak dan ibu guru. Anak-anak lelaki memakai kopiyah hitam ataupun putih. Kopiyah yang hanya dapat bertahan di kepala paling lama 30 menit sebelum menjadi pemandangan di langit-langit kelas, dilempar ke sana-ke mari, seperti bola.

Ruangan kelas sangatlah sederhana. Hanya ada satu papan tulis hitam, meja dan kursi dari kayu yang warnanya sudah lusuh, lantai bertegel, jendela dengan kacanya yang sudah kusam, dan pintu yang sangat berat untuk dibuka ataupun ditutup, engselnya berkarat, tak cukup uang kas untuk membeli oli. Terdiri dari dua ruangan saja, yang ditempati oleh kelas satu hingga kelas empat. Kami berbagi dengar, berbagi desah, berbagi bau keringat, berbagi pelajaran. Satu ruangan untuk dua tingkatan kelas, kelas satu digabung dengan dua, kelas tiga digabung dan empat. Madrasah kami berdiri di belakang Pasar Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka. Ketika belajar tak jarang bau amis ikan dan sayuran busuk menyergap hidung kecil kami.

Bagaimana dengan musala? Itu bangunan mewah! Jika waktunya salat kami akan digiring ibu dan bapak guru untuk ibadah di musala penduduk terdekat. Kami tak merasa kesulitan tak ada musala, bukankah ibadah bisa dilakukan di mana saja? Anehnya, di depan bangunan madrasah yang sederhana, para penjual kaki lima selalu hadir serupa mentari yang tak pernah absen. Uang saku anak-anak, logam ratusan rupiah menjadi semangatnya meskipun harus rela berjalan kaki puluhan kilometer.

Baca Juga :  Batasan Mengambil Untung dalam Bisnis

Di madrasah yang saya cintai ini, saya dan teman-teman belajar bahasa Arab, Fikih, Tarikh Islam, Akidah Akhlak dan lainnya. Berbeda dengan pesantren, mata pelajaran di madrasah sifatnya masih umum, tidak mendalam. Berapa jumlah gurunya? Hanya satu, pak Ahmadi saja yang bertahan hingga saya lulus. Perlahan, guru-guru yang lain mengundurkan diri. Penghasilan yang sangat sedikit hanya mengandalkan uang iuran dari siswa, membuat mereka harus berpaling. Pak Ahmadi mengajar semua kelas, semua mata pelajaran. Jangan tanya bagaimana mutu kami! Yang kami tahu, saat itu, kami hanya bahagia bisa keluar rumah hingga sore menjelang, bercengkrama dan bercanda dengan teman-teman. Adakah target pak Ahmadi dalam mendidik kami? Saya pikir targetnya tak muluk-muluk. Baginya, siswanya tak bolos itu sudah lebih dari cukup.

Ini bulan Agustus, bulan kemerdekaan. Biasanya, Pak Ahmadi akan mengajak kami untuk membuat kreasi dengan warna merah putih menyerupai warna bendera untuk dihias di sudut-sudut ruangan, dan jendela yang lusuh. Dengan dana yang sangat terbatas, Pak Ahmadi akan membuat beragam lomba. Diberi hadiah permen dan buku tulis saja kami sudah bahagia. Meskipun madrasah kami sangat sederhana, tetapi kami mempunyai tiang bendera. Pak Ahmadi menyuruh kami untuk mengerek bendera. Merah-Putih pun berkibar kesana kemari, berebut angin dengan bendera-bendera lainnya yang dipasang hampir di setiap atap kios di pasar. Pak Ahmadi selalu menekankan pada siswa tentang keharusan mencintai negara.

Hari ini, hampir dua dekade berlalu ketika banyak orang dewasa berlomba belajar mengaji, sambil memalingkan mukanya dari NKRI bahkan tak jarang mencibir tentang perayaan hari kemerdekaan. Saya pun lantas mengingat masa kecil saya, ketika saya dan teman-teman bisa beragama dengan begitu ringan dan riang. Tak ada paksaan dan penghakiman. Di madrasah, saya dan teman-teman belajar menemukan dan mencintai Tuhan tanpa harus kehilangan kecintaan pada negeri ini. Selamat ulang tahun Republik Indonesia.  Jika saja Pak Ahmadi masih ada, tentu saja ia akan menaikkan bendera Merah-Putih setinggi-tingginya. Setinggi kecintaannya pada negeri ini dan Tuhannya.

Baca Juga :  Apakah Otomatis Setiap Hadis Sahih Diamalkan dan Hadis Dhaif Ditolak?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here