Merayakan HAM dengan Belajar dari Gus Dur

0
586

BincangSyariah.Com – Bertepatan dengan hari HAM sedunia, 10 Desember, Jaringan Gusdurian yang diwakili Alissa Wahid menerima penghargaan Asia Democracy & Human Right 2018 dari The Taiwan Foundation for Democracy. Di bulan ini pula, Jaringan Gusdurian sedang memperingati bulan Gus Dur dengan menyelenggarakan Haul Gus Dur di berbagai kota. Penghargaan ini tak lepas dari komitmen Jaringan Gusdurian untuk meneladani Gus Dur dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

Saya kira tidak berlebihan bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi pengagum Gus Dur, jika mengatakan bahwa merayakan HAM juga berarti merayakan sosok Gus Dur. Di masa kepimpinan Gus Dur, kelompok minoritas seperti etnik Tionghoa, diakui keberadaannya sebagai bagian dari warga Negara dengan mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.

Tentang etnik Tionghoa, hanyalah satu kasus di antara kerja-kerja Gus Dur dalam menegakkan HAM. Pasca Gus Dur, sentimen terhadap non-Muslim semakin menguat bersamaan dengan arus konservatisme. Kita tidak lagi memiliki tokoh seperti Gus Dur, yang dengan seluruh upayanya membela hak-hak kaum minoritas. Namun demikian, Jaringan Gusdurian tetap berupaya meneruskan estafet perjuangan Gus Dur.

Dalam konteks Papua misalnya, Jaringan Gusdurian melalui koordinasi Alissa Wahid mendorong seluruh pihak untuk melakukan pendekatan kultural dalam penyelesaian konflik. Gus Dur telah meneladankan bahwa upaya rekonsiliasi tidak dilakukan melalui jalur militeristik. Alih-alih saling konflik dengan sesama anak bangsa, melakukan dialog dianggap sebagai cara terbaik.

Gus Dur seringkali mengutip Q.S al-Hujurat ayat 13 untuk membincang masalah HAM yang bunyinya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Baca Juga :  Hukum Mengambil Buah dari Pohon yang Tumbuh di Halaman Masjid

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Yang perlu digaris bawahi dari ayat di atas, Gus Dur menegaskan bahwa untuk dapat saling mengenal, kita tidak cukup sekedar tahu nama dan alamat, tetapi harus memahami kebiasaan, tradisi, budaya dan pemikiran orang lain. Melalui ayat ini, Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan harus dipahami lewat pendekatan kultural dan kebhinekaan, sebagaimana ajaran luhur bangsa ini. Tak terkecuali dalam menghadapi masalah di Papua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here