Merawat Niat Lillahi Ta’ala Sungguh Tidak Mudah

2
37480

BincangSyariah.Com – Begitu halus cara setan mengobok-obok niat dalam hati. Bicara soal niat tentu manusia tidak bisa menjangkau kemurniannya karena lekat kaitannya dengan hati. Satu-satunya yang mampu menjangkau adalah Dzat Maha segala-galanya yakni Allah azza wajalla.

Hati sebagai sarang niat mendapat perhatian khusus dari agama Islam. Buktinya terdapat ratusan lafadz qalbu (hati) dalam al-Quran dengan pengertian yang berbeda, namun secara garis besar dapat dikatagorikan kedalam tiga fungsi,  yaitu (1) sebagai tempat dan tumbuhnya iman, (2) tempat pengaturan emosi, dan (3) tempat kecerdasan seseorang.

Syihabudin Ahmad Bin Hajar al-Asqalani dalam kitab Nasaihul ibad menjelaskan bahwa ada tiga golongan yang disangsikan kesaksiannya oleh Allah Tuhan semesta alam pada yaumil mahsyar atau hari bangkit kelak. Tiga golongan itu adalah, pembaca kitab suci, orang kaya, dan pejuang agama. Ketiga golongan itu memberi kesaksian namun dibantah oleh malaikat. Dan Allah membenarkan kesaksian malaikatnya.

“Wahai para pembaca, apa yang dahulu kau lakukan,” tanya Allah. “Saya tidak henti-hentinya membaca ayat-ayatMu karena Engkau Tuhanku,” jawab golongan pertama.

“Bohong!” tegas Malaikat. “Iya, tujuanmu membaca pada saat itu agar orang-orang mengagumi bacaanmu,” sambung Allah.

Pemilik modal menghadap Allah dengan mengajak orang lain yang pernah dibantu semasa hidupnya.

“Sudah Aku karuniakan padamu harta lalu apa yang kau perbuat dengan modal itu,” tanya Allah. “Tiap kali bertemu orang, aku sisihkan sebagaian hartaku untuk mereka. Apalagi mereka yang mebutuhkan,” jawab golongan kedua.

“Licik!” sangkal Malaikat. “Iya, perbuatanmu dulu kau niatkan agar orang-orang menilai dirimu sebagai orang dermawan,” sambung Allah.

Pejuang Agama menghadap Allah dengan pedang dan baju warna merah akibat berlumuran darah.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Begini Cara Meyakini Sifat Baqa' Allah Swt

“Wahai Pejuang Agama, apa yang kau perbuat dahulu,” tanya Tuhan. “Saya berjihad di JalanMu Allah, ikut berperang memusnahkan dan membunuh penentang AgamaMu,” jawab golongan ketiga.

“Dusta!” bantah Malaikat. “Iya, kau berperang dahulu hanya karena agar kau dianggap sebagai pemberani,” jelas Allah.

Kesangsian ini bermula dari niat yang berpusat direlung hati. Apalah arti pengakuan atau kebaikan yang telah kita perbuat kalau ternyata kosong hasilnya dihadapa Allah sebagaimana penjelasan Syihabudin Ahmad Bin Hajar al-Asqalani tersebut. Alih-alih mendapat pahala dari Allah. Justru ketiga golongan tersebut hanya mendapat murka. Subhnallah, sebegitu telitinya Allah mengadili hambanya.

Lalu bagaimana dengan kita yang setiap kali melakukan salat diawali dengan bacaan doa iftitah? Inna shalati wanusuki wamahyaaya wamaati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah Tuhan semesta alam). Setiap saat kita bersumpah atas nama Allah yakni, lillahi seperti dalam doa iftitah itu. Mari lihat diri kita masing-masing, apakah gerak-gerik hidup kita sudah selaras dengan kandungan doa iftitah ini?

Nah, kalau merasa bahwa perbuatan kita belum selaras dengan pengakuan sebagaimana tercermin dalam doa iftitah, masih ada waktu untuk memperbaiki segera diri Mumpung nyawa belum dikerengkongan. Sulitnya merawat niat lillahi terjadi oleh karena halusnya setan menyelinap ke dalam hati manusia yang kemudian membuat prilaku baik manusia tertolak.

Mudah-mudah senantiasa niat benar terjaga karena Allah. Amin.

2 KOMENTAR

  1. Jika kita beribadah atau berdoa.. tp dalam hati berharap atau meminta sesuatu yg bersifat dunia pda Allah apakah itu termasuk bs merusak ke lillahita’ala an?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here