Kajian Tauhid: Merasionalkan Mukjizat Nabi Ibrahim

3
1904

BincangSyariah.Com – Sebagian kisah mukjizat dalam al-Qur’an yang sampai pada kita ialah mukjizat Nabi Ibrahim yang dikisahkan tidak mempan dibakar dalam bara api. Sebagai seorang mukmin tentu kita meyakini bahwa api tidak membakar dengan watak atau kekuatannya sendiri, melainkan sifat panas dan membakar yang dimiliki api, merupakan ciptaan Allah. Karena itu, jika terdapat api yang dingin, yang bersifat basah atau tidak membakar maka merupakan perkara yang masuk akal (Ja’iz Aqli), yang mungkin dan bisa saja terjadi selagi dalam bingkai kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Tetapi bagi seorang atheis, yang meyakini bahwa api dapat membakar karena sudah sifat dan tabiatnya demikian, maka yang harus dilakukan pertama kali ialah menunjukan tanda-tanda wujud dan kekuasaan Allah. Kemudian menunjukan bukti tanda bahwa api dapat membakar bukan karena sudah sifat dan tabiatnya demikian, melainkan sifat dan watak membakar tersebut murni diciptakan dan dititipkan oleh Allah pada api. Salah satunya bisa lebih mudah melalui pertanyaan semacam di bawah ini. (Ini Empat Alasan Nabi Ibrahim Dijuluki Khalilullah)

Jika penyebab api bisa membakar ialah cahaya (cahaya secara umum, bukan energi, partikel, atau gelombang), pertanyaan selanjutnya ialah mengapa cahaya yang terdapat dalam kunang-kunang tidak bersifat panas dan membakar? Begitu juga yang lain seperti cahaya jenis jamur tertentu, jenis ubur-ubur tertentu, cahaya mereka tidak bersifat membakar. Jika penyebab api bisa membakar ialah karena perpaduan unsur kimia tertentu yang terdapat dalam api, pertanyaan selanjutnya ialah mengapa kesatupaduan unsur lain dalam sesuatu yang lain tidak bisa menghasilkan efek membakar seperti perpaduan unsur kimia yang terdapat dalam api?

Jika yang mengakibatkan api bisa membakar ialah ‘persentuhan’ atau reaksi kimia unsur tertentu dengan oksigen, pertanyaan selanjutnya ialah mengapa ‘persentuhan’ semacam ini menghasilkan sifat panas dan membakar sementara yang lain tidak? Mengapa reaksi kimia yang menghasilkan dingin beku tidak dapat menghasilkan panas seperti reaksi kimia yang terdapat dalam api? Mengapa tidak sebaliknya, reaksi kimia es menghasilkan panas sementara reaksi kimia api menghasilkan dingin?

Baca Juga :  Sejarah Rusaknya Ajaran Tauhid di Tanah Hijaz Pra-Islam Sebab Amr bin Luhay

Ketidakmampuan atas jawaban dari pertanyaan semacam di atas, mengapa perpaduan unsur atau reaksi kimia tertentu menghasilkan suhu panas membakar. Sementara perpaduan atau reaksi kimia yang lain menghasilkan efek suhu dingin beku, menunjukan bahwa terdapat satu sosok dibalik semuanya. Satu sosok yang jika berkehendak, maka muncullah sifat panas dan membakar pada api, tetapi jika tidak berkehendak, maka muncullah api dengan sifat dingin.

Meskipun menyelisihi atau tidak sesuai dengan hukum adat (sains dianggap oleh ahli ilmu kalam (Mutakallimin) sebagai  kebiasaan belaka atau ‘hukum adat’ an sich, sains tidak bersifat pasti, realitas tidak selalu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sebuah teori sains), tidak membakarnya api merupakan sesuatu yang –secara akal- mungkin terjadi, selagi dalam bingkai kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Mudahnya, salah satu dari kita pasti pernah melihat adegan seseorang berjalan di atas api tanpa terbakar, atau atraksi debus tidak mempan dibakar api. Jika jawara yang manusia biasa saja mampu bertahan dibakar api (kebal), apalagi Nabi yang memiliki ketinggian maqam spiritual dan merupakan utusan Allah.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here