Benarkah Merasa Cemas Pandemi Covid-19 Berarti Tidak Tawakal?

1
1554

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu belakangan, kata tawakal oleh sementara pihak kerap dijadikan alat untuk menghujat pihak yang merasa cemas, panik, khawatir, nan takut dalam menghadapi penyebaran virus corona. Langkah-langkah yang ditempuh berupa pengobatan maupun pencegahan dinilai telah menciderai tawakal bahkan keimanan seorang hamba terhadap Tuhan. Benarkah tuduhan-tuduhan itu?

Dalam mendefinisikan tawakal, secara substantif, hampir tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Al-Sam’aniy misalnya berpendapat, “Tawakal adalah percaya kepada Allah serta bersandar kepada-Nya dalam berapa perkara.” (Tafsir al-Sam’aniy, juz 2: 399). Konsistensi pandangannya ini bisa dilihat ketika ia menafsiri ayat berikut.

وقوله تعالى: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ أي: يثق بالله ويفوض أمره إليه: ويقال: التوكل على الله هو الرضا بقضائه.

Firman Allah ‘wa man yatawakkal ‘ala Allah fa huwa hasbuh’ (barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya, al-Thalaq [65]: 3) artinya, sesorang percaya kepada Allah sembari memasrahkan urusannya kepada-Nya. Dikatakan juga bahwa tawakal kepada Allah berarti rida terhadap ketentuan-Nya.” (Tafsir al-Sam’aniy, juz 2: 462). Sementara itu, dengan lebih detail, Ibn Katsir mengemukakan,

وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ أي لا يرجون سواه ولا يقصدون إلا إياه ولا يلوذون إلا بجنابه، ولا يطلبون الحوائج إلا منه، ولا يرغبون إلا إليه

(Firman Allah) ‘wa ‘ala rabbihim yatawakkalun’ (Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, al-Anfal [6]: 2) artinya, mereka tidak berharap selain kepada Allah, dan tiada tujuan selain-Nya, tidak meminta pertolongan selain pada kuasa-Nya, tidak menuntut kebutuhan-kebutuhannya selain kepada-Nya, dan mereka tidak cinta selain kepada-Nya….” (Tafsir Ibn Katsir, juz 4: 10). Sebagai pamungkas dari pendapatnya ini, Ibn Katsir pun menukil Sa’id bin Jubair yang mengatakan,

Baca Juga :  Living Hadis: Corona Mewabah, Literasi Hadis Berubah

 التوكل على الله جماع الإيمان

Tawakal kepada Allah adalah akumulator keimanan.” Dengan demikian, apabila sikap tawakal seorang bermasalah, keimanannya pun dalam masalah. Kembali ke pertanyaan awal, apakah upaya-upaya logis, utamanya yang berhubungan dengan kausalitas dapat menciderai tawakal sehingga berdampak pada kualitas keimanan? Ibn Katsir sendiri menegaskan bahwa upaya tersebut tidak lantas menegasikan tawakal.

ولهذا قال تعالى: وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ فالسعي في السبب لا ينافي التوكل كما قال الإمام أحمد

“Oleh karena itu, firman Allah Swt. ‘wa kulu min rizqih’ (makanlah (kalian) sebagian dari rezeki-Nya) (al-Mulk [67]: 15) mengindikasikan bahwa berupaya dalam ranah ‘sebab’ tidak menafikan tawakal, sebagaimana pendapat Imam Malik.” (Tafsir Ibn Katsir, juz 8: 200). Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Alusiy.

وأصل التوكل إظهار العجز والاعتماد على الغير والاكتفاء به في فعل ما يحتاج إليه، وهو عندنا على الله سبحانه لا ينافي مراعاة الأسباب بل يكون بمراعاتها مع تفويض الأمر إليه تعالى شأنه و )اعقلها وتوكل( يرشد إلى ذلك،

Asas tawakal adalah menampakkan ketidakberdayaan dan ketergantungan terhadap yang lain. Mencukupkan tawakal dalam melakukan pekerjaan yang dibutuhkan, menurut kami, bukan berarti abai dalam mempertimbangakan sebab-sebab. Akan tetapi perhatian terhadap sebab-sebab tetap dibarengi dengan memasrahkan urusan-urusan itu kepada Allah semata. Hadis ‘ A’qilha wa tawakkal’ (pikirkan dulu baru tawakal) menghendaki demikian.” (Ruh al-Ma’aniy, Juz 2: 319)

Tentang hal ini, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah bahkan berpendapat, tawakal yang tidak diiringi dengan upaya-upaya konkret yang memang seharusnya dilakukan adalah kelemahan belaka (‘ajz mahdl). Dan seyogianya, seorang hamba tidak boleh melemahkan tawakalnya, juga tidak boleh menjadikan kelemahannya sebagai tawakal. Melainkan ia harus menjadikan tawakal sebagai komponen dari faktor-faktor (asbab) yang semestinya dikerjakan, yang mana suatu tujuan tidak akan tercapai sempurna tanpa adanya sebab-sebab itu. (Zad al-Mi’ad fi Hady Khoir al-‘Ibad, juz 2: 330-331).

Baca Juga :  Mengenal Perangai Virus dan Penangkalnya Menurut Pandangan Agama Islam

Pada pendapatnya ini, al-Jauziyah pun mendasarkan kritiknya terhadap kalangan yang dinilainya telah sesat pikir (ghalath). Pertama, mereka yang beranggapan bahwa tawakal adalah satu-satunya sebab independen (sabab musatqil) untuk meraih suatu tujuan. Kedua, mereka yang mengupayakan sebab-sebab, tanpa ada upaya untuk bertawakal.

Kemudian, untuk menggambarkan proses tawakal secara konkret, al-Jauziyah menggunakan tamsil petani yang mencangkul tanah kemudian menaburkan benih di atasnya. Tugas petani hanya menanam dan merawat. Urusan tumbuh atau tidak diserahkan sepenuhnya kepada Allah. (Zad al-Mi’ad fi Hady Khoir al-‘Ibad, juz 2: 331). (Baca: Macam-Macam Penyakit Menular di Masa Rasulullah)

Sampai di sini, dapat dipahami bahwa upaya-upaya yang dilakukan manusia, semisal untuk mengatasi pandemi Corona sama sekali tidak menyalahi konsepsi tawakal, lebih-lebih kualitas keimanan. Pun, sebagaimana jamak diketahui, kata ‘iman’ serumpun dengan kata ‘aman’. Artinya, orang beriman mesti menjamin keamanan dirinya berikut keamanan orang lain juga. Allah a’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Di sebagian daerah di Indonesia, terdapat sebagian masyarakat yang mengumandangkan adzan ketika terjadi bencana, seperti ketika terjadi badai. Bahkan saat ini terdapat sebagian masyarakat yang sering mengumandangkan adzan karena terjadi wabah virus corona. Bagaimana hukum mengumandangkan adzan ketika terjadi wabah, seperti virus corona? (Baca: Benarkah Merasa Cemas Pandemi Covid-19 Berarti Tidak Tawakal?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here