Menyoal Pemikiran Imam al-Ghazali yang Kontradiktif

0
2749

BincangSyariah.Com – Ketika mengulas secara sekilas ketiga karya Imam al-Ghazali, pertanyaan yang muncul ialah apa sebenarnya elemen-elemen yang membentuk pemikiran al-Ghazali? Bagaimana pemikiran Imam al-Ghazali terbentuk melalui Ihya Ulumuddin, Tahafut al-Falasifah dan Mi’yar al-Ilm sebagai tiga karyanya yang paling berpengaruh di dunia Islam?

Atau dengan kata-kata lain, bagaimana pemikiran al-Ghazali terbentuk melalui usahanya untuk membangun ilmu tasawwuf melalui Ihya, menyerang filsafat dan meruntuhkan basis metafisikanya melalui Tahafut, serta mengadopsi logika Aristoteles sebagai metode untuk memperoleh pengetahuan melalui Mi’yar al-Ilm?

Jelas di sini usaha-usaha al-Ghazali untuk melakukan ketiga hal ini jika dilihat secara lebih jeli lagi, yang hadir dalam konstruk pemikirannya ialah justru elemen-elemen yang kontradiktif dan penuh ambivalen. Membangun ilmu tasawwuf dan meruntuhkan metafisika filsafat, tentu yang dimaksud filsafat dalam Tahafut di sini ialah filsafatnya Ibnu Sina,  dapat dikategorikan sebagai usaha al-Ghazali yang penuh kontradiksi, terlebih jika tasawwuf dalam pandangan al-Ghazali bukan sekedar sebagai jalan hidup tapi sebagai ilmu muamalah (baca pengertian ilmu muamalah dalam artikel tentang kitab Ihya) yang tujuan akhirnya ialah sampai kepada mukasyafah.

Pengetahuan yang sifatnya kasyfi yang dikemukakan al-Ghazali baik secara sembunyi-sembunyi  (seperti dalam kitab Ihya) maupun secara terang-terangan dalam kitab-kitabnya yang lain (seperti Misykat al-Anwar, al-Ma’arif al-Aqliyyah, Ma’arij al-Quds dan seterusnya, terutama bahasan mengenai  hakikat jiwa atau bahasan mengenai alam uluhiyyah) merupakan pengetahuan yang diadopsi secara langsung dari metafisika filsafat di masanya, yakni metafisika Ibnu Sina dan metafisikanya para filosof dari kalangan Syiah Isma’iliyyah, atau secara lebih jelasnya, al-Ghazali menimba banyak inspirasinya dari neo-platonisme dengan wajah ketimurannya yang banyak dipengaruhi ajaran Hermes.

Sampai di sini pengetahuan kasyfi versi al-Ghazali yang merupakan puncak dari ilmu tasawwuf tidak bertentangan dengan filsafat Ibnu Sina yang neo-platonis. Pengetahuan kasyfi atau ilmu mukasyafah dalam perspektif al-Ghazali yang tidak lain ialah kebenaran yang merefleksikan aspek batin agama sebenarnya tidak bertentangan sama sekali dengan substansi pemikiran metafisis para filosof yang pandangan-pandangannya banyak dikafirkan oleh al-Ghazali.

Baca Juga :  Maksud Hadis Agama itu Nasihat

Kalau memang ilmu mukasyafah yang diajarkan al-Ghazali tidak bertentangan dengan substansi metafisika filsafat neo-platonisme, lalu dimana letak kontradiksi al-Ghazali? Jelas kontradiksinya terletak pada sikapnya. Adapun jika dilihat secara substansi pengetahuan kasyfi dan filsafat neo-platonis hermes, tentu tidak ada perbedaan atau bahkan kontradiksi yang amat mendasar.

Sedangkan sikap menyerang filsafat di satu sisi dan  mengadopsi logika Aristoteles di sisi lain tentu sikap ini dapat juga dianggap sebagai sikap yang kontradiktif dan penuh ambivalensi, terlebih  logika Aristoteles sangat berkaitan erat dengan metafisikanya. Memang al-Ghazali hanya melihat logika sebagai sekedar perangkat berfikir logis. Pandangan ini sebenranya sama seperti pandangannya al-Farabi. Di tangan al-Farabi, logika digunakan untuk membangun fondasi filsafat dan bukan malah meruntuhkannya seperti yang dilakukan al-Ghazali.

Ala kulli hal, menyerang filsafat sampai ke akar-akarnya di satu sisi dan mengadopsi logika Aristoteles di sisi yang lain jelas merupakan sebuah kontradiksi kecuali jika yang dimaksud  penggunaan logika tersebut hanya dilakukan untuk menyerang filsafat tertentu, bukan filsafat secara keseluruhannya. Kita akan lihat nanti, apa jenis filsafat yang dihantam basis-basisnya oleh al-Ghazali.

Kontradiksi lainnya terletak pada usaha al-Ghazali untuk membangun tasawwuf di satu sisi dan mengadopsi logika Yunani di sisi lainnya. Kalau tasawwuf menurut al-Ghazali sebatas sebagai suluk dan sebagai pengalaman yang sifatnya spiritual dan sangat individualistic, tentu tidak kontradiktif dengan sikap mengadopsi logika. Namun persoalannya, oleh karena tujuan tasawwuf bagi al-Ghazali ialah agar dapat mencapai pengetahuan kasyfi/mukasyafah, tentunya mengadopsi logika sebagai metode satu-satunya untuk mencapai pengetahuan yang benar merupakan sikap yang kontradiktif dengan tujuan tasawwuf, mukasyafah. al-Ghazali tentu sangat kontradiktif dalam sikapnya ini.

al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tidak membedakan secara jelas antara dua metode dalam menggapai pengetahuan; pertama metode logika atau berfikir secara rasional dan logis dan kedua, metode mukasyafah yang didasarkan kepada intuisi. Karena tidak membedakan kedua metode pencapaian pengetahuan ini, al-Ghazali kemudian memberlakukan kaidah-kaidah logika dalam proses mendapatkan mukasyafah. Mukasyafah bagi al-Ghazali tidak akan dapat dicapai kecuali dengan menerapkan silogisme Aristoteles.

Baca Juga :  Tafsir: Ciri-Ciri Shalat Orang Munafik (1)

Artinya, harus ada dua premis, pertama premis mayor, yakni cermin lauh mahfudz, tempat tercatatnya takdir dunia dari masa silam sampai hari kiamat dan kedua, premis minor, yaitu cermin hati. Agar dapat dihasilkan kesimpulan, kata al-Ghazali, kita harus menjadikan cermin hati dihadapkan dengan cermin lauh mahfudz. Hal demikian kemudian memproduksi kesimpulan atau hasil yang merupakan gabungan dari dua elemen; pertama cermin hati dan kedua, cermin lauh mahfudz. Hasil atau kesimpulan tersebut ialah ilmu muamalah yang melaluinya hijab/tirai ghaib akan terbuka lebar antara dua cermin tersebut.

Dengan meminjam terma Ibnu Rusyd,  boleh lah kiranya pemikiran al-Ghazali disebut sebagai Tahafut at-Tahafut, rancu dari segala kerancuan. Pasalnya, ambivalensi dan kontradiksi merupakan elemen paling dasar dalam pemikiran al-Ghazali. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here