Menyoal Kembali Rasionalisme Muktazilah (1)

0
155

BincangSyariah.Com – Muktazilah selalu disebut-sebut oleh kalangan pemikir Islam saat ini sebagai aliran yang memiliki corak rasionalis dalam pandangan-pandangan mereka, terutama pandangan mereka soal kebebasan kehendak manusia. Muktazilah juga disebut rasionalis karena mereka lebih mengedapankan rasio daripada wahyu.

Berangkat dari pandangan seperti ini, Muktazilah kemudian menjadi sasaran kritik dari lawan polemis mereka, terutama dari kalangan al-Asy’ariyyah, aliran yang sering disebut Ignaz Goldziher sebagai aliran keagamaan yang konservatif.

Agaknya terlalu berlebihan jika Goldziher menyebutnya demikian. Dalam kesejarahannya, aliran al-Asy’ariyyah ini mengadopsi logika Aristoteles sebagai metode pembahasan-pembahasan teologi yang dimulai sejak era al-Ghazali. Di samping itu, aliran ini juga di tangan Fakhruddin ar-Razy dikenal sebagai aliran yang terbuka terhadap filsafat. Ini seperti yang ditegaskan Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah. Usaha ar-Razi ini dikembangkan lagi oleh al-Iji melalui kitab al-Mawaqif fi Ilm al-Kalam.

Sementara aliran Asy’ariyyah berani mengadopsi logika Aristoteles sebagai metode serta menggabungkan bahasan-bahasan kalam dengan filsafat, Muktazilah masih tetap dengan metode lamanya yakni metode al-istidlal bis syahid ala al-ghaib yang oleh al-Jabiri disebut sebagai metode andalan kaum Bayani baik dalam akidah maupun fikih, balaghah, usul fikih dan nahwu .Metode  al-istidlal bis syahid ala al-ghaib yang menjadi andalan Muktazilah dan Asy’ariyyah Mutaqaddimin ini dibahas secara lebih rinci oleh Ali Syami an-Nasyar dalam karyanya yang berjudul Manahij al-Bahts ‘Inda Mufakkril Islam.

Jadi dalam hal keterbukaan, al-Asy’ariyyah sudah lebih terbuka terhadap filsafat Yunani daripada Muktazilah dan karena itu kurang tepat jika kita sebut Asy’ariyyah ini sebagai konservatif dan Muktazilah dianggap sebagai aliran progresif-rasional. Jadi perlu ditegaskan bahwa tidak tepat juga Muktazilah dianggap sebagai aliran rasional. Dalam prinsip yang melandasi cara pandang mereka secara keseluruhan, Muktazilah tidak selalu bersikap rasional.

Baca Juga :  Ini Bahaya Menyembunyikan Kebaikan Orang Lain dan Hanya Menyebut Keburukannya

Dulu di awal-awal kelahirannya, dan di awal-awal adanya usaha untuk membuat teori-teori ilmu kalam, Muktazilah sudah lebih dulu dari aliran al-Asy’ariyyah dalam mengadopsi prinsip tajwiz atau paham serba mungkin, yang berarti ketidakpastian peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Lebih jauh lagi, Muktazilah bahkan mempercayai bisa dikombinasikannya dua hal bertentangan dalam satu ruang dan waktu.

Untuk lebih memperjelas pandangan seperti ini, saya kira kita perlu mengutip pandangan yang dikemukakan oleh Abu-l Hudzail al-Allaf yang disebut as-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal sebagai peletak dasar teori-teori Muktazilah (Syaikhul Mu’tazilah wa Muqadim at-Taifah wa Muqarrir at-Tariqah wal Munazir laha). Pandangan Abu Hudzail ini terekam dalam Maqalat al-Islamiyyin karya Abu-l Hasan al-Asy’ari seperti yang dapat kita lihat pada kutipan berikut ini:

فأما الجمع بين الحجر الثقيل والجو أوقاتًا كثيرة من غير أن يخلق انحدارًا وهبوطًا بل يحدث سكونًا والجمع بين النار والقطن من غير أن يحدث احتراقًا بل يحدث ضد ذلك فقد جوز ذلك أبو الهذيل والجبائي وكثير من أهل الكلام وغلا أبو الهذيل في هذا الباب غلوًا كبيرًا حتى جوز اجتماع الفعل المباشر والموت واجتماع الإدراك والعمى واجتماع الخرس الذي هو منع عجز الكلام مع الكلام وجوز وجود أقل قليل المشي مع الزمانة…

“Peristiwa melemparkan batu ke atas dan tidak jatuh ke bawah bahkan bisa tetap berada di atas dalam beberapa waktu yang agak lama serta persentuhan antara api dan kapas tanpa terbakar, bahkan yang terjadi malah kebalikannya, yakni tidak terbakarnya kapas, merupakan peristiwa yang dianggap bisa saja terjadi di kalangan sebagian besar ahli kalam seperti Abu-l Hudzail, al-Jubba’i, dan lain-lain. Abu-l Hudzail al-Allaf dalam persoalan ini berpandangan sangat ekstrim sampai-sampai memungkinkan terjadinya hidup dan mati secara bersamaan dalam satu waktu, buta dan melihat, tunawicara dan bisa bicara, duduk dan berjalan secara berbarengan. ”

Pandangan ini jelas berangkat dari prinsip yang serba mungkin (tajwiz) sehingga tentunya sangat bertentangan dengan hukum sebab-akibat seperti pada contoh tidak terbakarnya kapas ketika tersentuh oleh api. Selain itu, pandangan ini juga bertentangan dengan prinsip non-kontradiktif bagi akal (dalam bahasa Inggris prinsip non-kontradiktif ini disebut the law of exclude middle atau bahasa latinnya disebut principum tertii exclusi atau tertium non datur), yakni prinsip  ketidakmungkinan dua hal yang kontradiktif hadir secara bersamaan dalam satu ruang dan waktu.

Baca Juga :  Tiga Hal yang Membuat Seseorang Takut Menghadapi Kematian Menurut Quraish Shihab

Abu-l Hudzail al-Allaf, tokoh Muktazilah yang paling berpengaruh, malah menentang prinsip non-kontradiktif ini dengan menegaskan bahwa dua hal yang kontradiktif justru bisa hadir bersamaan. Contoh lebih ringkasnya misalnya Socrates itu mati dan tidak mati. Mati dan tidak mati ialah dua hal yang bertentangan namun hadir dalam satu proposisi yang sama. Prinsip non-kontradiktif dalam dunia logika dilanggar oleh Abu-l Hudzail al-Allaf melalui pandangannya yang menekankan bisa terjadinya peristiwa-peristiwa yang bertentangan secara bersamaan. Prinsip ini jelas bertentangan dengan rasio dan karena itu pandangan tokoh muktazilah ini tidaklah bisa dikatakan mengunggulkan rasio. Allahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here