Menyoal Kembali Cara Kerja Menyeleksi Hadis-Hadis Nabi

0
886

BincangSyariah.Com – Dalam penilaian hadis-hadis yang dilakukan oleh al-Albani, Ahmad Syakir, Mahmud Tahan dan ulama-ulama lainnya, akan ditemukan satu benang merah yang menyatukan metode mereka dalam menerima dan menolak sebuah hadis, yakni menilai kesahihan dan kedaifan hadis berdasarkan kepada pertimbangan tingkat kredibilitas periwayat hadis.

Jika seorang periwayat dalam kitab-kitab al-Jarh wa al-Tadil dinilai thiqat, hadisnya sahih, jika periwayatnya berkualitas saduq, hadisnya hasan, jika periwayatnya lemah dan melakukan banyak kesalahan dalam periwayatan, hadisnya daif dan jika periwayatnya dinilai kadzab, hadisnya dinilai maudu.

Selain itu, jika hadis sahih terdiri dari periwayat-periwayat thiqah, sebutannya ialah sahih li-zatihi, jika hadis diriwayatkan oleh periwayat yang dinilai saduq dari berbagai jalur, hadisnya disebut sahih li-ghoirihi. Dan jika hadisnya diriwayatkan oleh periwayat hadis yang berkualitas daif namun memiliki ragam jalur, hadisnya disebut hadis hasan li-ghorihi dan seterusnya. Cara kerja penilaian seperti ini banyak ditemukan dalam buku-buku takhrij hadis. Seolah sudah menjadi kebenaran umum dalam menilai hadis-hadis Nabi SAW

Menilai hadis dengan pendekatan demikian sebenarnya dideterminasi oleh paradigma yang disebut oleh Mohammad Nabiel dalam penelitiannya tentang periwayat hadis bermasalah dalam Sahih al-Bukhari sebagai paradigm yang berpusat pada rawi-sentris, sebuah kerangka penilaian yang berfokus kepada kualitas periwayat dalam menilai hadis-hadis Nabi.
Penilaian hadis berdasar kepada paradigma ini, menurut pengamatan Nabiel, banyak kita temukan dalam berbagai karya-karya ulama muta’akhirin.

Sebut saja Ibnu as-Solah, al-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Jalaludin as-Suyuti dan lain-lain. Meski sangat umum digunakan di berbagai penelitian takhrij hadis, menurutnya, paradigma rawi-sentris bukan sama sekali lepas dari kekurangan. Jika paradigma ini konsisten digunakan, akan banyak hadis-hadis Nabi yang terdapat dalam kitab al-Jami al-Sahih karya al-Bukhari yang dinilai palsu.

Sebagai contoh, kita ambil periwayat hadis terkenal dari mazhab Maliki bernama Ismail bin Abi Uwais (w. 226). Ada tiga penilaian Ibnu Main terkait periwayat ini. Pertama, Ibnu Main menilainya la basa bihi; kedua, Ibnu Main menilainya daif dan ketiga, Ibnu Main menilainya yasriq al-hadith. Sementara itu, al-Daruqutni menilainya la akhtaruhu fi al-sohih.

Sedangkan ahli hadis lainnya, Abu Hatim al-Razi menilainya ḍa’if al-aql, laysa bi dzaka. Ahmad bin Abi Yahya menilainya sebagai kadhdhab. Yah}ya menilainya sebagai mukhliṭ, yukadhdhib, laysa bi-syay’in. Sayf bin Muhammad menilainya sebagai seorang pendusta (kadhdhab). Al-Dulabi dalam kitab al-Du’afa mengutip al-Nad}r bin Salamah al-Marwaziy menilai Isma’il bin Abi Uwais sebagai kadhdhab.

Baca Juga :  Kemaksiatan Terkadang Lebih Baik daripada Ketaatan Jika ...

Lebih menariknya lagi, al-Nasa’i pernah mengemukakan sebuah riwayat dari seorang ahli hadis Mekkah Abu Abd al-Raḥman bin Yazid (w. 212 H) dari Salamah bin Syabib (w. 247) yang pernah mendengarkan Isma’il bin Abi Uwais mengatakan: Rubbama kuntu ado’u al-hadits li ahl al-Madinah idza ikhtalafu fī syay’in fī ma bayna-hum “Dulu aku pernah memalsukan hadis untuk meredam perselisihan di kalangan penduduk Madinah”. Ibnu Hajar dengan sedikit membela Ismail ini mengatakan: laalla dzalika fi syabibatihi thumma insolaha mungkin pemalsuan hadis itu terjadi di masa mudanya lalu ia bertobat.

Berdasarkan pernyataan ini dan telaah terhadap beberapa data, Mikolas Murani dalam bukunya Dirasat fi Masadir al-Fiqh al-Maliki , seperti yang dikutip Mohammad Nabiel, menyimpulkan maraknya pemalsuan hadis di kalangan mazhab Maliki, dan Ismail bin Abi Uwais sebagai salah satu modelnya tidak lain bertujuan untuk membela madzhab tersebut.

Terlepas dari penilaian Mikolas Murani ini, jelasnya jika hadis-hadis Ismail bin Abi Uwais dalam al-Jami al-Sahih dilihat keotentikannya berdasarkan paradigma rawi-sentris, tentunya dua ratus tujuh belas hadisnya yang diriwayatkan al-Bukhari dalam kitabnya tersebut akan dinilai sebagai hadis palsu karena mayoritas ulama hadis menilainya sebagai kadhdhab. Kesimpulan ini diambil sebagai konsekwensi logis dari penerapan secara konsisten paradigma rawi-sentris ini.

Pendekatan yang berpusat pada kualitas periwayat hadis tampaknya pada sisi tertentu tidak bisa menampilkan cara kerja al-Bukhari dalam menyeleksi hadis-hadis Nabi yang sahih. Karena itu, pertanyaannya mungkinkah ada perbedaan dan pergeseran dalam penilaian hadis

Muhammad Nabiel dengan tegas menyatakan iya. Menurutnya, ada perbedaan yang sangat signifikan dalam soal penilaian hadis antara generasi mutaqaddimin dan mutaakhirin. Dua terma ini – meski secara waktu dibedakan antara yang sebelum dan yang sesudah tahun lima ratus hijriah memuat fokus penilaian yang berbeda dimana yang pertama terpusat pada penilaian hadis dari sisi apa yang diriwayatkan kemudian dibandingkan sehingga dari situ kemudian dapat diketahui kualitas periwayat sedangkan yang kedua terpusat pada penilaian hadis dari sisi kualitas periwayat yang kemudian ditentukan kualitas yang diriwayatkannya.

Baca Juga :  Dasar-dasar Fikih Muamalah dalam Islam

Jadi yang pertama berparadigma marwiyat-sentris sementara yang kedua berparadigma rawi-sentris. Bagi yang pertama, al-jarh wa at-tadil merupakan hasil dari penilaian marwiyat dan bukan asas bagi penilaian hadis sedangkan bagi yang kedua, al-jarh wa at-tadil merupakan cara pandang yang dengannya kualitas hadis ditentukan dan merupakan dasar fundamental dalam menyeleksi hadis.

Karena itu, karya-karya hadis yang ditulis mutaqaddimin seperti al-Jami al-Sahih tidak dapat dibaca dalam kerangka kerja mutaakhirin karena kedua paradigma ini tidak memiliki starting point yang sama. Kerangka kerja mutaakhirin hanya bisa digunakan sebagai alat bantu memahami kerja penyeleksian mutaqaddimin. Kerja mutaqaddimin dalam penyeleksian hadis dimulai dari perbandingan marwiyat dan kemudian dari situ ditentukan kualitas periwayatnya (marwiyy ke rawi) sedangkan yang kedua penyeleksian hadis dilakukan dari penilaian kualitas periwayat terlebih dahulu yang berimbas pada kualitas riwayat (rawi ke marwi). Jadi, membaca karya-karya mutaqaddimin, menurut Nabiel, harus dimulai dari paradigma marwiyat-sentris ini dan akan tidak nyambung jika rawi-sentris dipakai.

Dengan demikian, membaca alasan mengapa al-Bukhari memasukkan riwayat Ismail bin Abi Uwais dalam al-Jami al-Sahih-nya harus dilakukan dengan kerangka kerja marwiyat-sentris ini.
Kira-kira ilustrasi sederhananya demikian. Ismail memiliki seribu hadis dalam catatan al-Bukhari. Lalu dengan melihat muwafaqah, mukhalafah dan tafarrud-nya pada seribu hadis riwayat Ismail tersebut serta membandingkannnya dengan hadis dari periwayat-periwayat lain, ditemukan bahwa sembilan ratus hadis Ismail bin Uwais ini banyak mukhalafah-nya dengan riwayat dari jalur lain.

Sementara muwafaqah-nya dengan riwayat dari jalur lain berjumlah seratus hadis. Karena melihat banyak kesalahan atau mukhalafah yang dilakukan Ismail bin Abi Uwais ini, al-Bukhari memberikan catatan negatif terhadapnya dengan menilainya sebagai kathir al-ghalat, kadhdhab dan lain-lain.

Karena banyak mukhalafah, hadis yang sembilan ratus tersebut ditolak oleh al-Bukhari dan tidak dimasukkan ke dalam al-Jami as-Sahih-nya. Sementara itu seratus dari sisanya yang sahih ini tetap diriwayatkan dalam kitabnya.

Dalam ilustrasi yang sederhana ini, tampaknya bagi ulama mutaqaddimin, al-jarh dan al-tadil itu merupakan hasil dari kumpulan penilaian mereka terhadap para periwayat hadis dengan melihat terlebih dahulu hadis-hadisnya baru kemudian diambil kesimpulan mengenai kualitas periwayatnya.

Baca Juga :  Prinsip Berbakti kepada Orang Tua Non-Muslim dalam Al-Qur’an

Dengan kata-kata lain, seperti yang ditunjukan oleh Nabiel dalam penelitiannya tentang periwayat bermasalah dalam Sahih al-Bukhari ini, penilaian terhadap marwiyyat akan berimplikasi bagi penilaian terhadap periwayat.

Bagi mutaqaddimin, seperti yang dikutip Nabiel dari Ibnu Rajab al-Hanbali, setiap hadis memiliki cara penanganan dan penilaian yang berbeda-beda tergantung pada jenis hadisnya bagaimana, dan terkadang, penyeleksiannya dilakukan tanpa disertai aturan dan kaidah yang baku.

Cara yang dipakai oleh teman saya ini tampaknya sangat didominasi oleh Malibariyan-centris. Dengan kata-kata lain, Nabiel membela al-Bukhari melalui kacamata Hamzah al-Malibari karena baginya paradigma rawi-centris ini akan berimplikasi bagi diragukannya hadis-hadis dalam Sahih al-Bukhari. Pemikiran-pemikiran hadis al-Malibari memang berusaha membangkitkan kembali paradigma lama yang disebut Nabiel sendiri sebagai marwiyyat sentris yang terpendam dalam sejarah kritik hadis. Tentu saja paradigma ini sulit diterapkan bagi kita yang hidup di zaman yang bukan lagi masa periwayatan, apalagi amat jarang ahli hadis mutaqaddimin menulis tentang metode mereka dalam menyeleksi hadis.

Jadi menggali kembali metode mereka akan butuh waktu yang lama dan tentu karena jarang akan banyak juga cara pandang yang diada-adakan (taqwil). Meski demikian, al-Malibari memang tidak sendirian. Ada banyak ulama hadis lain yang berpikiran serupa seperti yang dapat kita lihat pada karya-karya Ibrahim al-Lahham, Tariq Iwadh, Abd al-Munim Amru Salim dan lain-lain.

Namun gerakan membangkitkan dan menulis kembali manhaj mutaqaddimin ini masih terpisah-pisah dan belum menjadi gerakan yang masif sehingga terkadang di kalangan mereka masih banyak pandangan yang tumpang tindih dan belum mampu membentuk satu epistemology tersendiri.

Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh Muhammad Nabiel dalam penelitiann tentang periwayat hadis bermasalah ini dan soal bagaimana dia mengadopsi kerangka pandang al-Malibari ini tidak lain ialah sebagai usaha memperkenalkan pemikiran-pemikiran hadis yang masih menjadi perdebatan hangat di Timur Tengah sana dan itu perlu kita apresiasi sebagai wacana baru mengingat bahwa cara kita mengkritik hadis masih didominasi oleh Syeikh Nasiruddin Al-Albani dan yang setipe dengan beliau, termasuk guru kita, Kyai Ali Mustafa Yaqub al-Maghfur lahu. Allahu Alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here