Menyoal Hukum Praktik “Money Politic”

0
159

BincangSyariah.Com – Sejatinya, bersedekah dan berinfaq merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Seperti menyisihkan harta untuk orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi atau membalas kebaikan orang yang telah membantu kita sebagai bentuk ucapan terima kasih yang diniatkan hanya ingin mendapatkan rida Allah Swt. merupakan hal yang dianjurkan oleh agama. Sebagaimana Nabi saw. bersabda:

عن بن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اليد العليا خير من اليد السفلى، فاليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة (متفق عليه)

Diwayatkan dari Sahabat Ibn Umar RA. Rasulullah Saw. bersabda: tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, tangan di atas ialah yang memberi dan tangan di bawah ialah yang meminta (HR:Muttafaq ‘Alaih)”.

Bagaimana jika memberi tetapi mengharapkan agar mendapatkan balasan dari yang menerima. Memberi karena mengandung unsur modus tersirat dan memberi demi mendambakan keuntungan, terlebih dia sebagai calon peserta pemilihan kepala daerah pada momentum pilkada. Tentunya, apapun kegiatan yang berujung pada kegiatan sosial pasti akan ada harapan tersiratnya. Hal ini termasuk bagian dari praktek sogok, suap, atau bahasa populernya: money politic.

Fenomena money politic ini acapkali menjadi salah satu jurus andalan yang harus dipersiapkan oleh para kandidat dalam pelaksanaan pemilu, guna memperoleh suara dan menggapai impian menuju orang nomor satu di daerahnya masing-masing.

Tidak heran, jika praktik seperti ini sudah menjamur di masyarakat dan menjadi keharusan untuk mempersiapkan persediaan materi maupun logistik. Pasalnya, untuk mengetahui ukuran kekuatan calon kandidat, tidak hanya bisa dihitung dengan sejauh mana ia populer dikenal oleh masyarakat, namun juga menghitung kekuatan finansial yang dimiliki. Hal Ini yang menjadi asal-muasal kekuatan materi sebagai salah satu alasan utama keterpilihan sang calon daerah. Karena para politisi zaman now menilai dengan adanya kekuatan finansial yang mapan, maka akan mampu mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan ketidakpastian menjadi pasti, di mulai pada masa kampanye hingga menuju hari-H pemilihan.

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Menggagas Sekolah Hadis

Melihat kasus seperti ini, jika pada praktiknya money politic dengan ketentuan dan motif yang tertulis pada penjelasan sebelum, maka praktik semacam ini sama halnya dengan praktik suap-menyuap ataupun sogok-menyogok. Merujuk pada sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan dari Abi Huarirah RA.

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي

Rasulullah Saw. melaknat orang yang menyogok dan yang disogok.”

Hadis ini menegaskan, bahwa pelaku tindak suap merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Mengingat bahwa larangan perspektif ushul fiqh berdampak pada keharaman secara hukum. Oleh karena itu, tindakan ini sama halnya dengan praktik money politic, yaitu melakukan suap-menyuap pada saat momentum politik berjalan, karena pelaksanaan ini hanya akan dilakukan ketika menjelang pemilihan kepala daerah maupun presiden. Artinya bahwa money politic sama saja dengan membeli kepercayaan masyarakat, bisa jadi sebagai paksaan agar mengikutinya.

Maka dari itu, mari jalankan proses pilkada ini dengan sehat dan khidmat. Sehat tanpa mempraktikkan money politic dan khidmat tanpa bagi-bagi logistik. Melihat banyak para calon pemimpin di Indonesia dari kalangan umat muslim, akan tetapi ironisnya mayoritas mereka tidak mengerti esensi dan nilai-nilai keislaman yang harus dipatuhi dalam proses pemilihan calon pemimpin.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here