Menyoal Debat Pertama Capres-Cawapres

1
283

BincangSyariah.Com – Semalam kita menyaksikan debat pertama antara calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia. Pasangan nomor urut satu, Bapak Jokowi dan Pak Kiai Ma’ruf Amin berpakaian putih. Pak Jokowi bercelana bahan hitam, sedangkan Pak Kiai Ma’ruf bersarung. Pasangan nomor urut dua, Bapak Prabowo dan Pak Sandiaga Uno berpakaian dengan balutan jas dan celana hitam. Semua calon kompak menggunakan songkok hitam.

Debat tadi malam dimoderatori oleh Ira Koesno dan Imam Prayono. Ada enam panelis debat pertama yang menemani tadi malam. Keenam panelis ini merupakan para ahli di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Pak Agus Rahardjo (Ketua KPK 2015-2019), Pak Ahmad Taufan Damanik (Ketua Komnas HAM 2017-2020), Bivitri Susanti (ahli hukum tata negara), Margarito Kamis (ahli hukum tata negara), Hikmahanto Juwana (guru besar hukum internasional), Bagir Manan (mantan Ketua Mahkamah Agung (2001-2008).

Debat pertama ini membahas beberapa tema penting, yaitu bidang hukum, korupsi, terorisme, dan hak asasi manusia. Kedua pasangan saling jual-beli serangan. Diawali dengan memberikan visi-misi, lalu dilanjutkan dengan menjawab setiap pertanyaan yang berkaitan dengan masing-masing tema yang telah ditentukan. Selain itu kedua pasangan diwajibkan memberikan tanggapan atas setiap gagasan yang diutarakan oleh lawannya.

Dari perhelatan debat pertama ini, kita dapat mempelajari segala kelebihan dan kelemahan masing-masing kedua pasangan capres dan cawapres ini. Dari debat pertama dengan pembahasan beberapa isu penting ini, kita juga dapat mengetahui sejauh mana keseriusan masing-masing calon dalam mempersiapkan diri bila nantinya mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden di negeri ini.

Ada hal sederhana yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Yaitu dalam sesi debat ini, tidak ada yang namanya pertanyaan-pertanyaan ‘murahan’, rendah faidah, ataupun di luar subtansi pemilihan seorang pemimpin negara, yaitu pertanyaan seputar sejauh mana kelihaian masing-masing calon dalam berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Nyinyiran ini sering dilontarkan sebagian masyarakat kepada capres nomor urut satu, yaitu Pak Jokowi. Selain itu juga tidak didapati pertanyaan seputar sejauh mana kefasihan membaca Alquran oleh Pak Prabowo, sebagaimana yang sering dinyinyiri juga oleh sebagian masyarakat kita.

Baca Juga :  Orang yang Biasa Azan Akan Berleher Panjang di Hari Kiamat

Jauh dari pertanyaan murahan di atas, isu-isu yang dibahas adalah isu-isu penting dan wajib dihadapi oleh calon yang akan memimpin negeri ini. Permasalahan hukum, korupsi, terorisme, dan hak asasi manusia adalah hal yang mesti dikuasai oleh masing-masing calon. Kedua pasangan ini bakal memimpin Indonesia, yang akan diprediksi menjadi negara dengan perekonomian yang kuat di beberapa tahun ke depan, tentu akan sangat disayangkan dan justru kekanak-kanakan bila standar pemilihan seorang presiden dan wakilnya yang dicatutkan adalah harus fasih bahasa Inggris, harus bisa berbicara tanpa teks, harus bisa berwudhu dengan sempurna, harus mempunyai kecakapan di dalam mangucapkan huruf-huruf Arab. Lebih dari itu semua, standar atau setidaknya modal bagi calon pemimpin negeri ini adalah kemampuan mereka di dalam menangani isu-isu yang telah disebutkan dalam pembahasan debat tadi malam.

Namun sayang, masyarakat akar rumput masih doyan dengan isu-isu murahan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Mereka, alih-alih membahas berbagai macam isu dengan data dan faktam, malah lebih suka membahas sesuatu yang cuma ‘katanya-katanya dan berita yang ujungnya cuma hoaks semata. Hal ini disebabkan oleh literasi di dalam memahami politik yang lemah. Ditambah para elit politik yang tidak bertanggung jawab di dalam memberikan contoh berpolitik, seperti menebarkan hoaks-hoaks, memainkan isu agama, hingga ujaran kebencian yang menyerang kepribadian seseorang.

Semoga kita dapat belajar dari permasalahan ini sehingga menjadi masyarakat suatu bangsa yang sesuai dengan salah satu harapan dan cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas berawal dari masyarkat yang cerdas. Sekian.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here