Menyoal Biawak Indonesia; Apakah Halal?

0
439

BincangSyariah.Com – Khalid Ibn Musayyab merupakan salah satu shahabat yang pernah memakan hewan yang dalam hadits disebut dengan Dhab. Seringkali hadits ini dijadikan sebagai hujjah (dalil) oleh sebagian kalangan untuk menghalalkan daging biawak. Sekilas memang kedua hewan ini terlihat sama, namun jika diselidiki lebih lanjut ada perbedaan yang cukup jelas antara Biawak dan Dhab. Penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan ini agar tidak salah dalam menetapkan hukum yang berkaitan dengan Dhab. Di dalam hadits dijelaskan ;

عن إبن عمر قَالَ النَّبِي ص : الضَّبُّ لَسْتُ آكَلُهُ وَلاَأُحَرِّمُهُ .

Dari Ibnu Umar, Nabi Saw bersabda ; “ Aku tidak pernah memakan Dhab, namun aku tidak melarangnya (tidak haram)”. [HR. Bukhari, Juz 06, h.231]

Selain hadits di atas masih ada banyak hadits shahih yang menjelaskan tentang halal-nya daging Dhab, kira-kira lebih dari 5 hadits shahih dengan sanad yang berbeda-beda. Dengan demikian, sangat kuat sekali jika dijadikan sebagai hujjah atau dalil untuk menghukumi kehalalan daging Dhab.

Namun kita perlu mengetahui apa itu Dhab yang dimaksud dalam hadits Nabi tersebut. Dalam kitab Faidh al-Qhadir dijelaskan bahwa Dhab memiliki kemiripan atau kesamaan dengan Alwaral yang di Indonesia disebut dengan biawak. Alwaral termasuk binatang buas yang hidup di rawa-rawa atau tempat yang ada air. Sedang Dhab hidup di padang pasir dan tidak suka di tempat yang ada air. Lebih lanjut Fuqaha, membuat semacam penelitian kepustakaan (Library Research) dengan menelaah berbagai riwayat tentang Dhab yang dimakan oleh para shahabat nabi kala itu. Hasil penelitian tersebut disampaikan di dalam berbagai kitab, diantaranya I’anatu at-Thalibin, al-Bujairhami, Faidul Qadir dan lain sebagainya. Lebih jelasnya bisa dilihat sebagaimana berikut ;

  1. Dhab, adalah hewan darat yang berada di wilayah panas padang pasir
  2. Mampu hidup hingga 700 tahun, bahkan lebih
  3. Memiliki dua alat kelamin, baik jantan atau betina
  4. Makan rumput, serangga, tidak memakan daging
  5. Tidak minum air, kecuali embun dan udara
  6. Dalam waktu 40 hari hanya satu kali kencing
  7. Giginya kuat dan tidak mudah tanggal
  8. Manfaat dagingnya bisa menghilangkan rasa haus
Baca Juga :  Tradisi Sungkeman Setiap Hari Raya Idulfitri

Hal tersebut telah dijelaskan di dalam berbagai kitab diantaranya sebagaimana berikut,

الضب حيوان بري يشبه الورل

Dhab adalah hewan darat (padang pasir) bentuknya mirip dengan Al-Waral atau biawak air

Lebih lanjut cirri-ci Dhab dijelaskan dalam I’anatu at-Thalibin sebagaimana berikut ;

(قوله: وضب) وهو حيوان للذكر منه ذكران، وللأنثى فرجان. وهو يعيش سبعمائة سنة فصاعدا، وأنه يبول في كل أربعين يوما قطرة، ولا يشرب الماء بل يكتفي بالنسيم، أو برد الهواء. ولا يسقط له سن، ويقال إن أسنانه قطعة واحدة، وإن أكل لحمه يذهب العطش

Dhab adalah hewan yang memiliki dua kelamin, mampu hidup 700 tahun, kencing pada setiap 40 hari sekali, tidak minum air kecuali embun dan udara, giginya kuat tidak mudah tanggal, jika dagingnya dimakan akan menghilangkan rasa haus (al-‘athas).

Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka biawak yang dikenal di Indonesia tidak tergolong Dhab, tapi tergolong Alwaral atau biawak air. Oleh karenanya tidak halal dimakan. Sebab Dhab yang dimaksud dalam hadits adalah biawak darat yang berada di padang pasir dengan ciri-ciri yang telah dijelaskan sebagaimana di atas. Wallahu A’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here