Menyikapi Wabah Secara Proporsional

0
1127

BincangSyariah.Com – Topik utama pembahasan di dunia, termasuk Indonesia, saat ini adalah tentang wabah virus Corona yang cukup berbahaya dan telah mengakibatkan banyak korban kematian. Terkait dengan wabah Covid-19, banyak penulis telah menyampaikan pandangan mereka dari sudut pandang kesehatan, politik, ekonomi, sosial dan yang lain. Dalam artikel ini penulis akan menyampaikan dari sudut pandang agama, yaitu soal bagaimana sikap yang diajarkan agama dalam menghadapi wabah tersebut.

Covid-19 dalam literatur klasik dapat dikelompokkan dalam istilah waba’ atau tha’un. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan, waba’ adalah penyakit yang mewabah secara luas, sehingga bisa dikatakan, penyakit tha’un adalah waba’, karena tha’un adalah salah satu dari beberapa jenis waba’. Tetapi waba’ itu lebih umum dari pada tha’un, sehingga semua tha’un bisa disebut dengan waba’, tetapi tidak semua waba’ adalah tha’un.

Sedangkan tha’un sebagaimana disampaikan Ibnu Hajar memiliki banyak definisi di antaranya: Menurut Shohibun Nihayah penyakit yang mewabah yang mengkontaminasi udara sehingga merusak suhu tubuh dan merusak badan. Abu Bakar al-Arabi mendefinisikan, wabah penyakit yang mudah merenggut nyawa. Masih banyak pendapat lain yang disampaikan. Dari sekian banyak pendapat disimpulkan oleh Ibnu Hajar, tha’un adalah bengkak yang timbul dari tekanan darah yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga merusak jaringan tubuh.

Dari definisi tersebut, Ibnu Hajar membedakan tha’un dengan waba’, sehingga penyakit yang timbul dari buruknya udara sebenarnya bukan termasuk tha’un, tetapi boleh juga disebut dengan tha’un secara majaz (kiasan).

Menyikapi wabah yang terjadi selama ini, Islam mengajarkan agar kita memiliki dua sikap secara proporsional, yakni sikap batiniyah dan sikap lahiriyah.

Pertama, sikap batiniyah harus ditanamkan sebagai keyakinan bahwa segala kejadian yang menimpa umat manusia termasuk wabah bahkan kematian, terjadi atas takdir yang telah ditentukan batas waktunya oleh Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam al-Quran:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (Q.S. Al-A’raf [07] : 34)

Sikap batiniyah ini juga dipesankan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ

Tidak ada penyakit menular, tidak ada pertanda buruk” (HR. Bukhari)

Menurut Nuruddin Muhammad bin Abdul Hadi dalam Hasyiyah as-Sindi ala Ibnu Majah, pesan Nabi di atas memungkinkan dua makna: pertama, secara hakiki tidak ada penyakit yang menular. Jika ada orang yang melakukan kontak fisik dengan orang yang sedang terjangkit penyakit, kemudian orang tersebut mengalami sakit sebagaimana orang pertama, maka sakit orang ke dua tersebut memang diciptakan oleh Allah sebagaimana Allah menciptakan sakit pada orang pertama, bukan sebab kontak yang mereka lakukan.

Makna kedua, penyakit itu tidak memiliki daya tular, sehingga penularan penyakit dari satu orang ke orang lain terjadi tidak karena daya tularnya, tetapi terjadi karena kehendak Allah SWT sesuai dengan kebiasaan hukum sebab akibat. Sehingga orang yang bergaul dengan orang lain yang terjangkit penyakit, tidak pasti tertular. Tetapi Allah memiliki hukum kausalitas, biasanya Allah akan menularkan penyakit pada orang yang mendekati orang yang lain yang mengidap penyakit menular.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, Nabi pernah memegang tangan orang yang terjangkit penyakit menular untuk diajak makan bersama, lalu Nabi mengatakan, tsiqatan billah wa tawakkulan ‘alaih (percaya pada Allah dan berserah diri pada Nya).

Kedua, sikap lahiriah yaitu dengan tetap waspada, berhati-hati dan menjaga diri agar kita tidak tertular atau terinfeksi wabah sebagaimana firman Allah:

… وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“ …dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 195).

Sikap lahiriyah di atas selaras dengan yang dipesankan Nabi Muhammad:

وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

Dan larilah dari orang yang terjangkit lepra sebagaimana kalian lari dari singa.”  (HR. Bukhari)

لاَ يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“orang yang sakit janganlah mendatangi yang sehat.” (HR. Muslim)

Dua hadis di atas menjelaskan, orang yang sehat diperintah menjauhi orang yang menderita penyakit menular, demikian pula yang sakit tidak boleh mendekati yang sehat. Semua itu adalah ikhtiyar (usaha) lahiriyah dengan menghindari sebab penularan atau bisa disebut dengan saddu adz dzarai’ (tindakan preventif), sehingga penularan penyakit diharapkan tidak terjadi.

Dari dua sikap di atas, pesan dan harapan yang perlu disampaikan adalah:

Melalui sikap batiniyah, setiap muslimin diharapkan tetap tenang, tidak panik, selalu siap siaga, menyerahkan semua urusan kepada Allah, selalu memohon keselamatan pada Nya dengan memperbanyak membaca doa penolak wabah, istighfar, salawat, qunut nazilah dan lain sebagainya. Sambil terus memohon agar Allah segera menghilangkan wabah tersebut dari atas muka bumi, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberikan perlindungan dan sebaik-baik Dzat untuk mengadu.

Melalui sikap lahiriyah, setiap muslimin diharapkan terus berikhtiyar secara fisik agar tidak terjangkit atau tertular wabah dengan selalu menjaga kebersihan, meningkatkan daya tahan tubuh, tidak melakukan kontak terlalu dekat dengan orang yang terinfeksi (social distancing), patuh pada instruksi pemerintah, dan mengikuti standar kesehatan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kaum muslimin tidak boleh melakukan tindakan ceroboh yang membuat tubuh mudah terinfeksi penyakit atau virus, karena menjaga kesehatan dan menjaga keberlangsungan hidup adalah salah satu dari maqashid syariah yaitu hifdzu an-nafs.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here