Menyikapi COVID-19 dengan Optimis dan Waspada Ala Ulama

0
1239

BincangSyariah.Com – Semenjak munculnya kasus Pneumonia Wuhan atau yang sekarang kita kenal dengan istilah Coronavirus atau Covid-19, terjadi histeria masal di kalangan masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Sejak media mulai gencar mengabarkan perkembangan kasus Covid-19, bahkan sebelum dikabarkan masuk di Indonesia, masyarakat sudah mengeluarkan reaksi yang sangat variatif. Jika kita kelompokkan, kurang lebih ada 3 jenis kelompok masyarakat, yakni kelompok yang cenderung takut dan panik, kelompok yang cenderung santai meremehkan, dan kelompok  moderat.

Dalam mengelola informasi, umat muslim harus menjadi resipien-resipien informasi yang moderat, cerdas, dan teliti. Dalam urusan akidah, umat Islam harus mengusung konsep yang berimbang antara kutub positif dan kutub negatif, atau dalam Islam dikenal dengan istilah roja’ dan khauf. Roja’ berasal dari bahasa Arab yang berarti harapan, artinya seorang muslim harus selalu menggantungkan secercah harapan terhadap rahmat Allah SWT atas dirinya. Sedangkan, khauf berarti ketakutan, artinya seorang muslim harus senantiasa takut akan siksa Allah SWT.

Kedua konsep tersebut hendaknya selalu dipegang umat muslim dimanapun ia berada, Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 57 :

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

Artinya : Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (Q.S Al-Isra’ : 57)

Dalam Tafsir Al-Khazin, ayat ini diturunkan kepada sekelompok orang Arab yang menyembah seorang jin, kemudian jin tersebut masuk Islam tapi kelompok penyembahnya malah masih asyik menyembah jin tersebut. Allah menjelaskan bahwa malah jin itu yang lebih dekat dengan Allah, ia bersikap seperti hamba Allah yang lain. Mengharap rahmat Allah, dan takut terhadap siksa-Nya.

Baca Juga :  Bolehkah Zakat Kepada Anak Yatim Piatu?          

Konsep Roja’ dan Khauf  ini bagaikan 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, dalam Al-Jami’ Li Ahkaam Al-Qur’an karya Imam Al-Qurthubi, ada sebuah kutipan pendapat dari Sahl bin Abdullah At-Tustari, seorang Sufi fan Mufassir berkebangsaan Iran sebagai berikut:

الرَّجَاءُ وَالْخَوْفُ زَمَانَانِ عَلَى الْإِنْسَانِ، فَإِذَا اسْتَوَيَا اسْتَقَامَتْ أَحْوَالُهُ، وإن رجح أحدهما بطل الآخر

Artinya : “Roja’ dan Khauf itu berjalan beriringan bagi manusia, jika keduanya kokoh maka tegaklah Ahwal orang tersebut, namun jika diunggulkan salah satunya, maka hancurlah sisi lainnya”.

Ini menunjukkan bahwa konsep Roja’ dan Khauf  adalah 2 sisi yang saling melengkapi satu sama lain. Mereka tidak bisa berdiri sendiri antara satu dengan yang lainnya. Konsep Roja’ dan Khauf  adalah wasilah paling efektif untuk melatih diri menjadi pribadi yang objektif, tetap moderat dan cerdas.

Roja’ tanpa Khauf akan melahirkan generasi – generasi buta, yang ceroboh dan sembrono dalam menyikapi sesuatu, tak pandai menghadapi problem dan membawa banyak mudharat bagi sesama. Tapi, Khauf  tanpa Roja’ akan menghasilkan generasi – generasi sombong, yang terlalu yakin pada dirinya sendiri, dan mengesampingkan kuasa Allah sebagai faktor utama terjadinya sesuatu.

Konsep Roja’ dan Khauf  ini kiranya juga perlu kita terapkan dalam peperangan melawan Covid-19. Media sebagai juru bicara covid-19 akan selalu memberikan kabar-kabar terkini soal pengembangan virus ini. Maka sikap kita adalah memfilter seluruh berita tersebut menggunakan tolok ukur Roja’ dan Khauf.

Sebagai manusia biasa kita perlu waspada dan hati – hati dengan virus ini, oleh karena itu pemberitaan – pemberitaan negatif soal covif-19 sangat perlu kita ikuti. Kita perlu mengetahui info berapa korban yang dinyatakan meninggal, berapa yang dinyatakan positif, dimana saja wilayah yang menjadi Redzone virus ini beserta statistik perkembangan penyebarannya, itu sangat penting kita ketahui. (Baca: Terkait Social Distancing Corona, Rasulullah Menolak Bersalaman dengan Orang Berpenyakit Menular)

Baca Juga :  Sunnah Nabi tentang Berbicara dengan Jelas kepada Lawan Bicara

Tapi jangan hanya mengonsumsi berita – berita negatif saja, terlalu khauf akan membuat kita panik dan melakukan tindakan – tindakan bodoh sseperti yang dilakukan WN Iran beberapa waktu yang lalu, menelan handsanitizer berkadar alkohol 80%. Kita juga perlu asupan – asupan kabar baik dari media, mari kita cari dan bagikan kabar-kabar baik tersebut. Berapa jumlah pasien sembuh hari ini, berapa persen penurunan angka kematian, apa saja upaya yang bisa dilakukan untuk tindakan pencegahan penyebaran virus, virus akan mati oleh apa, apakah ada yang sudah menemukan vaksinnya, dsb.

Berita – berita Roja’ tadi akan menjadi suplemen bagi kita, saudara kita yang terjangkit beserta keluarganya untuk terus memupuk semangat melanjutkan hidup dan tak putus asa. Daya tahan fisik juga dipengaruhi kekuatan mental. jika mental kita rapuh, maka imunitas tubuh pun akan menurun.

Menurut kesaksian Muhammad Budi Hidayat, Kepala KKP Kelas 1 Bandara Internasional Juanda Surabaya yang kemarin dinyatakan telah sembuh dari infeksi Covid-19, selama masa isolasi beliau bukan hanya menerima resep dokter, melainkan juga mendapat motivasi – motivasi dari dokter, memberi semangat bertahan hidup, karena semangat hidup itu penting bagi seorang pasien yang harus mengisolasi diri.

Hingga artikel ini ditulis, total kasus positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 2.092 kasus, dinyatakan sembuh 150 orang, dan meninggal 191 orang. Walaupun jika dibandingkan dengan jumlah populasi WNI cenderung sedikit, namun prosentase angka kematiannya sangat tinggi. Kita memang tidak bisa mengendalikan angka kematian, tapi kita bisa menurukan angka penyebaran.

Caranya, dengan konsumsi Roja’ dan Khauf  secara berimbang, Tak gentar namun tetap waspada. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, disebutkan bahwa Wabah adalah salah satu bentuk adzab, namun juga rahmat bagi orang mukmin. Oleh karena itu, sikap berimbang kita sebagai seorang Muslim sangat diperlukan dalam menghadapi situasi semacam ini.

Baca Juga :  Menteri Agama Rilis Panduan Kegiatan Ramadan selama Pandemi Covid-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here