Menyembelih Sifat Hewani dalam Diri Kita

0
362

BincangSyariah.Com – Idul Adha juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Qurban. Secara bahasa  Qurban berasal dari kata Qoruba-yaqrubu-qurbanan. Artinya mendekatkan diri. Sedangkan menurut istilah agama adalah : menyembelih hewan pada hari Nahr (Idul adha) dan tasyriq, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Selama ini qurban hanya dimaknai penyembelihan hewan qurban saja, jika memang demikian  maka yang beruntung hanya orang kaya yang mampu membeli hewan qurban, sedangkan orang yang miskin yang tidak mampu maka tidak bisa melaksanakan qurban. Padahal yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah bukan darah dan daging qurban, melainkan ketaqwaan. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Ibadah qurban dengan cara menyembelih binatang ternak (binatang jinak, misalnya; unta, sapi, kerbau, dan kambing). Bukan dengan pengorbanan harta benda yang lain. Ini adalah simbolisasi dan pesan moral secara khusus dari Allah Dzat yang Maha Pencipta kepada umat manusia, yang kebanyakan bermental rendah, yakni jiwa binatang (bahimi).

” Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” [QS: Al A’raf: 179]

Jiwa  binatang ternak itu adalah orientasi hidup yang tujuannya hanya mengejar kenikmatan badani; seperti makan, minum, hura-hura dan sek. Itulah tujuan kebanyakan manusia dalam kehidupan yang harus di sembelih dan dikorbankan.

Baca Juga :  Jomlo Bagian dari Zuhud, Tapi Menikah juga Ibadah

Menurut Imam al-Ghazali (Ihya ‘Ulum al-Din, III/119), manusia itu mempunyai beberapa karakter antara lain yaitu memiliki karakter Al-Bahimiyah, yaitu sifat  “hewani” yang apabila telah menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan dan bersetubuh berlebihan, suka berzina, berprilaku homoseks dan lain sebagainya.

Jika sifat-sifat hewani dalam diri manusia tidak dihilangkan dan dibersihkan yang disimbolkan dengan binatang ternak yang dijadikan qurban, maka jiwa hewani tersebut yang akan menghalangi kita untuk taqorruban ( mendekatkan ) diri kepada Allah.

Oleh karena itu dalam ayat yang lainnya Nabi Ibrahim As. juga pernah diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih empat ekor burung.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Al- Baqoroh : 260 )

Maulana Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh Nabi Ibrahim As. sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan.

Baca Juga :  Asmaul Husna Sebagai Kunci Berkomunikasi Hamba dengan Allah

Menurut Maulana Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat sifat unggas ini di dalam diri kita, sebagaimana Ibrahim as. mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita.

Tentang bebek Maulana Rumi bercerita:

“Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah

Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering

Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun

Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan

minumlah!

Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah

Dan memenuhi kantongnya dengan cepat

Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk

Permata atau kacang tiada beda

Ia jejalkan ke kantung basah dan kering

Kuatir pesaing akan merebutnya

Waktu mendesak, kesempatan sempit,

Ia ketakutan

dengan segera di bawah tangannya

Ia tumpukkan apapun….”

Untuk itu tidak usah bingung dan  jauh-jauh dalam mencari hewan Qurban yang akan disembelih, cukup mencari ke dalam diri kita, ternyata dalam jiwa kita adalah kebun bintang  yang besar isinya penuh dengan aneka hewan.

Dengan mengalahkan dan menyembelih sifat-sifat hewani dalam jiwa kita, sehingga semua sifat binatang dalam diri kita sudah hilang, sehingga kita bisa mendekatkan diri kepada Allah. Maka itulah hakekat qurban yang sebenarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here