Menyambut Akhir Tahun, Mari Kita Renungi Tujuh Hal Ini

0
602

BincangSyariah.Com – Tahun baru 2019 sudah di pelupuk mata, tinggal menghitung jam saja. Sebagian orang telah ancang-ancang menyiapkan segala sesuatu demi menyongsong Tahun Baru. Sebagian yang lain menyikapinya dengan biasa-biasa saja, seperti tidak ada yang spesial dengan Tahun Baru. Ada pula yang berdebat mengenai boleh dan tidaknya merayakan tahun baru, karena menyerupai umat agama lain, dan lain sebagainya.

Tulisan ini tidak hendak mempermasalahkan kategori mana pun dari sebagian orang itu. Apakah anda termasuk pada golongan orang pertama, kedua, ataupun ketiga, tidak menjadi masalah. Selama kita bisa hidup damai dan saling menghargai satu sama lain, selama itu pula hidup kita bisa penuh dengan kebahagiaan. Namun, sebaiknya bagaimana sikap kita dalam menyongsong Tahun Baru?

Cara terbaiknya adalah dengan introspeksi diri. Melihat kepada diri sendiri, merenungkan seluruh kegiatan kita selama setahun belakang. Selain merefleksikan perbuatan diri, kita juga bisa belajar dari para ulama dalam melakukan introspeksi diri.

Dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, Abu al-Laits Nashr bin Muhammad al-Samarqand, menerangkan bahwa ada tujuh sikap atau amal yang sia-sia karena tidak dibarengi dengan tujuh sikap lainnya. Bagi penulis, hal ini bisa dijadikan bahan refleksi akhir tahun sekaligus cara menyongsong tahun baru agar apa yang kita rencanakan bisa lebih maksimal dalam pelaksanaannya.

Pertama, menyatakan diri memiliki rasa khauf tetapi tanpa dibarengi dengan sikap hadzar. Maksudnya, pernyataan diri semisal “aku takut siksa Allah Swt,” tetapi tidak menghindar dari perbuatan dosa, maka khaufnya itu hanyalah sia-sia.

Kedua, merasa punya sifat raja’ tetapi tidak disertai dengan sikap thalab. Dalam arti seseorang mengatakan “aku berharap pahala dari Allah Swt,” tetapi tidak disertai dengan usaha beramal saleh, maka raja’nya itu hanya ilusi.

Baca Juga :  Masih Suka Menggosip, Padahal Itu Sama dengan Memakan Bangkai Saudara Sendiri

Ketiga, melakukan perbuatan saleh dengan niat, tetapi tidak disertai qasd. Perumpamaan ini seperti orang yang telah niat berbuat baik dan ketaatan, tetapi dirinya tidak bergerak untuk memulai perbuatan itu sama sekali, maka niatnya tidak begitu berarti.

Keempat, berdoa tanpa disertai usaha. Orang yang terus menerus berdoa kepada Allah Swt, tetapi tidak disertai kerja nyata untuk merealisasikan doa-doa. Maka segala hajatnya itu sulit untuk terkabul.

Kelima, melafalkan istighfar untuk meminta ampun atas perbuatan dosanya, tetapi tidak terbersit sama sekali rasa penyesalan. Maka, bacaan istighfarnya hanya sampai di mulut saja.

Keenam, sengaja menampakkan amal saleh secara terang-terangan (al-‘alaniyyah), padahal perbuatannya bisa saja dilakukan dengan rahasia (al-sarirah). Maka perbuatannya itu, bisa jadi menjerumuskannya ke dalam sifat riya’ (ingin dilihat orang lain).

Ketujuh, berbuat amal saleh dengan sungguh-sungguh (al-kad), tetapi tanpa disertai rasa ikhlas mengharapkan rida Allah Swt.

Tujuh hal di atas (khauf, raja’, niat, do’a, istighfar, ‘alaniyyah, dan alkad) beserta ketujuh hal yang lainnya (al-hadzar, al-thalab, al-qasd, al-juhd, al-nadm, al-sarirah, dan ikhlas) adalah bentuk sifat dan sikap yang ibarat dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Oleh karenanya, dalam menyikapi pergantian tahun ini, kiranya kita tidak perlu ber-euforia secara berlebihan. Apalagi saat ini banyak saudara kita sebangsa yang sedang terdampak bencana alam. Alangkah lebih baik, apa yang kita punya sebagai rejeki lebih, kita sumbangkan kepada korban bencana. Semoga tujuh poin yang ditulis oleh ulama sekaliber Abu al-Laits al-Samarqand, dapat membantu kita menyambut hari-hari ke depan menjadi lebih baik lagi. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here