Menyadari Pentingnya Kajian Fiqih Ikhtilaf

0
60

BincangSyariah.Com – Kajian fiqih ikhtilaf di negeri kita termasuk kajian yang asing dan kurang dikenal. Apalagi di tengah eforia muslim perkotaan yang punya ‘libido’ tinggi dengan segala yang berbau agama.

Mereka kebanyakannya lagi jadi kader militan atas nilai-nilai yang sedang mereka perjuangkan, meski pada dasarnya tidak ngerti-ngerti amat duduk masalahnya.

Maka jadi unik dan unyu-unyu. Perkara yang para ulama masih berbeda pandangan, belum final, oleh mereka dianggap sebagai masalah akidah paling dasar yang harus dibela dan diperjuangkan sampai tetes darah penghabisan.

Dan untuk memperjuangkan masalah yang khilafiyah itu, kalau perlu gunakan segala cara. Mulai dari memaki-maki, membuli, menghujat, hingga membuat daftar anggota kebun binatang. Na’uzdu billah tsumma na’udzu billah.

Tapi masalah seperti ini memang susah dan mudah secara bersamaan. Tidak mudah memberikan pencerahan, kalau orangnya sendiri belum siap diberi pencerahan. Khususnya kalau lagi puber agama. Justru agak susah, karena mentalnya masih rada kombatan gitu. Saya sendiri baru mengenal kajian fiqih ikhtilaf ketika kuliah S1 di Fakultas Syariah jurusan Perbandingan Mazhab LIPIA.

Tadinya saya juga sama saja, tidak ngerti dan tidak siap. Pengalaman ikut perkuliahan pertama kali jelas terasa aneh. Rasanya kiamat sudah terjadi. Sejujurnya, saya tidak terima menghadapi fakta adanya mazhab-mazhab fiqih yang sedemikian banyak.

Tadinya saya mengira, dosen akan mendoktrin satu pendapat saja dan pendapat yang lain karena sudah dianggap marjuh, sehingga cukup dibuang ke tong sampah saja.

Ternyata perkiraan saya meleset. Saat ujian tengah semester (biasa disebut a’malus-sanah), saya hanya menghafalkan pendapat yang paling rojih saja berikut dalilnya.

Ternyata soal yang keluar tidak begitu. Kami disuruh menyebutkan semua pendapat yang ada, mau rajih atau tidak rajih, pokoknya semua harus dijabarkan. Wah ini musykilah kubro (masalah besar).

Baca Juga :  Bulan Ramadan sebagai Momentum Pendidikan Muslimin

Selesai?

Belum. Ternyata harus disebutkan juga siapa saja nama para ulama yang berbeda pendapat itu. Harus jelas siapa namanya dan dia bilang apa dalam masalah itu. Ini tentu merepotkan sekali. Sebab saya sudah terlanjur tidak setuju dengan pendapat itu, kenapa juga harus disebut dan dihafalkan segala?

Dan soal ujian masih ditambah lagi, sebutkan dalil yang digunakan oleh masing-masing ulama itu. Payah sekali pikir saya.

Gimana ya, saya sudah tidak suka pendapat itu. Saya sejak awal sudah benci dengan pendapat itu, termasuk tidak suka juga kepada ulama yang punya pendapat itu. Lha terus kenapa saya kudu menyebut-nyebut namanya? Buat apa? Benci ya benci. Udah tidak usah diingat-ingat. Buang ke tong sampah, habis perkara. Bukankah seharusnya pendapat itu saya caci maki, setidaknya saya sumpah-serapahi? Sebab dia kan musuh agama, perusak Islam dan sebagainya.

Kira-kira begitulah pemikiran awam saya kala itu. Pokoknya saya stres, tidak bisa menerima kenyataan. Saya tidak terima kalau agama Islam warisan Nabi SAW ini ‘dirusak’ oleh mereka yang ngaku-ngaku sebahai ulama. Pakai acara berkhilafiyah segala pula.

Buat apa Al-Quran dan Sunnah itu? Mereka kan ulama, harusnya tahu dong. Masak nggak baca Quran sih? Terus juga kan ada hadits, masak sih pada nggak baca hadits? Logika saya saat itu, perbedaan pendapat itu gara-gara para ulama itu telah meninggalkan Al-Quran dan Hadits. Itu biang keladi permasalahannya menurut saya kala itu.

Maka di awal itu saya rada males ikut kuliah Fiqih, karena dalam pandangan saya, Fiqih itu sebuah kedunguan berlipat.

Bagaimana tidak dungu? Ada Al-Quran dan Sunnah, malah dibuang tidak dipakai, malah cari-cari sumber selain keduanya. Begitu itulah saya waktu itu. Kacau kan?

Baca Juga :  Ancaman bagi Pemimpin yang Tidak Mementingkan Rakyat Kecil

Kalau hari ini saya mendapati banyak kalangan yang masih punya jalan berpikir kayak saya dulu itu, saya pun maklum sambil senyum-senyum sendiri. Ya gue dulu kayak elu gitu, persis.

Bedanya saya sudah melewati masa itu sekian puluh tahun yang lalu, sedangkan ente baru hari ini. Ada interval yang cukup jauh sampai akhirnya nanti sadar dan paham sendiri.

Saya memandang, mungkin memang demikian sunnatullahnya. Mulai dari jadi orang awam dan jahil tapi belagu banyak omong dan banyak cingcong, lalu lama-lama nyadar perlahan-lahan dan akhirnya dapat hidayah.

Syaratnya kudu ketemu dengan sumber-sumber yang valid dan ekspert di bidang fiqih muqaranah dan fiqih ikhtilaf. Sebab kalau tidak, tetap dalam kegelapan abadi dan keawaman yang akut.

Dan saya bersyukur dulu kuliah di Fakultas Syariah. Ketemu dengan banyak doktor dan profesor yang hebat-hebat. Mereka punya pandangan luas, dan jam terbang yang amat tinggi. Saya belajar kepada ekspertnya, walaupun di awal-awal sikap saya itu benar-bemar 100% menyebalkan.

Saya ini ibaratnya orang yang tersesat tapi alhamdulillah tersesatnya di jalan yang benar. Saya kira itu bentuk hidayah tersendiri buat saya. Sempat berada di bawah cengkraman singa lapar, tapi entah bagimana singanya nggak konsen, lalu saya bisa melepaskan diri dan selamat.

Hari ini selain saya sibuk menjelaskan peta perjalanan, mengajarkan fakta-fakta fiqih ikhtilaf, mengajarkan cara bijak dalam menyikapinya. Saya lagi sibuk menyelamatnya orang-orang dari terkaman singa-singa lapar. Ya kalau cuma cakaran singa sih ada juga bekasnya disana-sini. Kadang juga ada bekas jilatan lidah singa yang sekasar amplas itu. Jamak lah, lagian itu resiko yang otomatis harus saya terima.

Menyelamatkan orang dari cengkraman singa, kalau singanya ngamuk lalu kena sabetan cakar singa, sudah pasti lah itu.

Baca Juga :  Ketika Ibnu Taymiyah Membahas Sifat Allah Dengan Melihat Bandingannya yang Dimiliki Makhluk

Namun saya tetap istiqamah, karena saya yakin Allah SWT pasti menyertai. Makanya saya tidak lupa tiap hari mendoakan semuanya, siapa saja, biar dapat ilmu yang bermanfaat.

ربنا انفعنا بما علمتنا رب علمنا الذي ينفعنا

رب فقهنا وفقه أهلنا وقرابات لنا في ديننا

مع أهل القطر أنثى وذكر

Tulisan bersumber dari akun Facebook Ustadz Ahmad Syarwat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here