Menurut Nabi Daud, Ini Bentuk Rasa Syukur Tertinggi

0
174

BincangSyariah.Com – Rasa syukur adalah bentuk rasa terimakasih atas sebuah pemberian baik itu pemberian Allah ataupun perantara dari pemberian manusia. Pada hakikatnya, esensi syukur adalah bersyukur kepada Allah, sebab apapun nikmat yang kita dapatkan melalui manusia pada sejatinya Allah lah yang memberinya. Hanya saja ia melalui perantara manusia.

Akan tetapi perlu diingat, bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من لم يشكر الناس لم يشكر الله

“Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia belum bisa bersyukur kepada Allah”.

Baca Juga : Ini Akibat Menerapkan Rasa Syukur yang Keliru

Hadis ini menjelaskan bahwasanya betapa pentingnya menghargai manusia, betapa mulianya manusia itu di hadapan Allah. Sehingga Allah belum bisa menerima rasa syukur manusia sebelum ia berterimakasih dulu kepada manusia yang menjadi perantara sampainya sebuah kenikmatan itu.

Memuji Allah merupakan sesuatu yang niscaya dan wajib. Karena di dalam syukur terdapat sebuah ketaatan yang mendalam, ada semacam kerendahan dan kesadaran diri bahwasanya segala sesuatu yang ada di dunia milik Allah yang patut disyukuri dan tidak dijadikan kebanggaan tersendiri.

Maka tidak heran, jika banyak hadis yang menyatakan bahwa membaca Alhamdulillah atau mengucapkan syukur itu memiliki keutamaan yang luar biasa. Yakin atau tidak, mengucapkan rasa syukur memang membuat hati tentram, lega, dan terasa lebih ringan untuk berbuat baik kepada orang lain. Karena di dalam syukur ada semacam tanggung jawab moral. Jika kita bisa menerima lantas kenapa kita tidak bisa memberi. Di situlah kadang bahwasanya rasa syukur merupakan amunisi baru untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, luar biasanya rasa syukur itu ternyata masih memiliki puncaknya yang cukup mengesankan; serta memberikan pelajaran kepada kita semua. Kenapa bisa demikian? Berikut ini riwayat kisah Nabi Daud As yang dikutip dari kitab Qurrotul ‘Uyun, hal. 5,

Baca Juga :  Buya Hamka Melarang Ucapan Selamat Natal? Ini Klarifikasi Keluarga Beliau

عن سيدنا داود عليه السلام، أنه قال: “الهى إبن ادم ليس فيه شعرة إلا وفوقها نعمة وتحتها نعمة، فمن أين يكا فئها؟ فأوحى الله إليه يا داود إنى أعطى لكثير وأرضى باليسير وأن شكر ذلك أن تعلم أن ما بك من نعمة فمنى” وقيل أنه قال: ” كيف أشكرك والشكر نعمة منك علي؟ الأن شكرتنى يا داود.

Dari Sayyidina Daud As, bahwasanya dia berkata: Wahai Tuhanku, anak Adam, tidak memiliki satu rambut yang ada di dirinya kecuali di atas rambut itu ada sebuah kenikmatan dan di bawahnya pun ada kenikmatan, lantas bagaimana bisa membalasnya? Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Daud, “Wahai Daud, sesungguhnya aku memberi yang banyak dan merelakan atau menyenangkan yang sedikit. Dan untuk mensyukuri hal demikian, kamu harus tahu bahwa sesuatu yang ada di dirimu itu adalah nikmat dariku” dan di dalam perkataan yang lain ” Wahai Tuhanku, bagaimana saya bisa bersyukur kepadamu sementara itu ucapan syukur itu sendiri merupakan nikmat darimu yang diberikan kepadaku? Allah menjawab: Nah saat inilah kamu bersyukur kepadaku wahai Daud.

Kita bisa mengambil pelajaran dari riwayat diatas bahwasanya mensyukuri nikmat Allah Swt ternyata tidak cukup dengan hanya Alhamdulillah. Sebab ucapan Alhamdulillah itu sendiri adalah nikmat Allah. Lantas, kapan kita bisa dianggap bersyukur kepada Allah dan apa yang mau dibanggakan di dunia ini, Wallahu a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here