Menurut Islam, Sebaiknya Cincin Pernikahan Dipasang di Jari Mana?

0
82

BincangSyariah.Com – Di antara prosesi pernikahan adalah tukar cincin antara pasangan pengantin pria dan perempuan. Umumnya pengantin pria memasangkan cincin pernikahan pada jari manis tangan kiri pengantin perempuan, begitu juga sebaliknya. Dalam Islam sendiri, sebaiknya cincin pernikahan dipasangkan di jari mana?

Menurut para ulama, perempuan boleh memasang atau dipasangkan cincin di jari tangan mana saja, baik tangan kanan maupun tangan kiri. Semua sama-sama baiknya. Tidak ada keutamaan antara jari tangan satu dengan yang lain bagi perempuan ketika hendak memasang atau dipasangkan cincin, baik cincin pernikahan atau lainnya.

Oleh karena itu, ketika pengantin pria hendak memasangkan cincin pernikahan pada jari pengantin perempuan, maka dia boleh memasangkan di jari tangan mana saja, tangan kanan maupun kiri, jari tengah, jari manis atau jari lainnya. Semua sama-sama baiknya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

لَمْ يَخْتَلِفِ الْفُقَهَاءُ فِي مَوْضِعِ التَّخَتُّمِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَرْأَةِ؛ لأِنَّهُ تَزَيُّنٌ فِي حَقِّهَا، وَلَهَا أَنْ تَضَعَ خَاتَمَهَا فِي أَصَابِعِ يَدَيْهَا أَوْ رِجْلَيْهَا أَوْ حَيْثُ شَاءَتْ.

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama fiqih mengenai letak cincin bagi perempuan. Hal ini karena cincin memang perhiasan bagi perempuan sehingga dia boleh meletakkan cincinnya di jari mana saja, tangan maupun kaki sesuai keinginannya.

Adapun bagi laki-laki, menurut ulama Syafiiyah dan ulama Hanabilah, sebaiknya cincin dipasang di jari kelingking, baik di tangan kanan maupun tangan kiri. Namun menurut ulama Syafiiyah, di jari kelingking tangan kanan lebih utama. Sementara menurut ulama Hanabilah, di jari kelingking tangan kiri lebih utama.

Oleh karena itu, jika pengantin perempuan hendak memasang cincin pernikahan pada pengantin laki-laki, maka sebaiknya dipasang di jari kelingking tangan kanan atau tangan kirinya. Adapun memasang cincin di jari tengah dan jari telunjuk, maka hukumnya makruh.

Baca Juga :  Hukum dan Bacaan Khutbah Nikah

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: يَجُوزُ لِلرَّجُل لُبْسُ خَاتَمِ الْفِضَّةِ فِي خِنْصَرِ يَمِينِهِ، وَإِنْ شَاءَ فِي خِنْصَرِيَسَارِهِ، كِلاَهُمَا صَحَّ فِعْلُهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّ الصَّحِيحَ الْمَشْهُورَ أَنَّهُ فِي الْيَمِينِ أَفْضَل لأِنَّهُ زِينَةٌ، وَالْيَمِينُ أَشْرَفُ ..وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَنَّ التَّخَتُّمَ فِي الْوُسْطَى وَالسَّبَّابَةِ مَنْهِيٌّ

Ulama Syafiiyah berkata; Boleh bagi laki-laki memakai cincin dari perak di jari kelingking tangan kanannya, dan jika mau di jari kelingking tangan kirinya. Keduanya sama-sama sahih pernah dilakukan oleh Nabi Saw. Akan tetapi yang masyhur dan sahih adalah memasang di jari kelingking tangan kanan karena cincin adalah perhiasan, dan tangan kanan lebih utama. Dan menurut ulama Syafiiyah, memakai cincing di jari tengan dan telunjuk hukumnya dilarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here