Menunggangi Agama demi Politik

1
715

BincangSyariah.Com – Niccolo Machiavelli, lewat bukunya Sang Pangeran, pernah menyulut kontroversi dengan menawarkan ide mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun, salah satunya dengan menunggangi agama yang dianggap bisa digunakan sebagai alat untuk mengorganisasi massa dan melanggengkan kekuasaan. Ide Machiavelli tersebut bisa dikatakan tergambar dalam kondisi politik di Indonesia dewasa ini.

Di beberapa tempat seperti di Indonesia, agama kerap dianggap melampaui rasionalitas dan dianggap sakral dalam kondisi apa pun. Berbagai persoalan terkait agama lebih sering ditanggapi dengan reaksi emosional, entah defensif, marah, atau mendukung tanpa syarat. Hal-hal seperti itu dimanfaatkan betul oleh para politikus yang memiliki kepentingan di jalur kekuasaan. Bahkan, sejumlah orang yang mendaku diri sebagai pemuka agama juga kerap memanfaatkan kondisi tersebut.

Salah satu konsep agama yang kerap dipolitisasi dengan membabi buta misalnya adalah fatwa yang diperlakukan sebagai kebenaran mutlak. Hal ini misal terlihat dalam forum-forum tertentu yang memosisikan diri sebagai forum ijtima ulama, tapi persoalan yang dibahas sebatas masalah politik praktis. Forum seperti ini diperlakukan seperti mewakili suara Tuhan untuk mengurusi perkara politik yang sementara. Ini jelas praktik menunggangi agama demi kepentingan sesaat. Celakanya, hal ini diamini oleh sebagian masyarakat kita yang mudah terlena oleh politisisasi agama.

Kemunculan agama sebagai senjata politik bukanlah hal baru. Soeharto sebelum lengser pun pernah mencoba menunggangi agama untuk mempertahankan kekuasaannya. Keputusannya untuk mendekat pada kelompok-kelompok Islam di sekitar dekade 1980-an, adalah pilihan politis untuk mengamankan kekuasaan. Praktik ini disimbolisasi dengan beberapa hal; misal pembangunan masjid secara masif di berbagai tempat dengan dukungan dana dari Yayasan Amal Bakti Pancasila, atau ketika Soeharto pergi haji pada dekade 1990-an.

Baca Juga :  Viral, Benarkah Kata Ijazah Satu Akar Kata dengan Mukjizat?

Soeharto melihat Islam sebagai kekuatan besar yang mesti dimanfaatkan secara politis untuk menyelamatkan kekuasaannya. Pasalnya ABRI (sekarang TNI) -saat itu- dianggap sudah tidak bisa dipercaya sepenuhnya untuk menjaga kekuasaan. Dan Soeharto sukses naik menjadi presiden kembali untuk kelima kalinya.

Belakangan ini praktik politisasi agama seperti dilakukan Orde Baru kembali berulang dan justru semakin terang-terangan. Pendapat politik orang-orang yang mengaku ulama dianggap suara Tuhan. Bahkan ada yang sampai merekomendasikan nama-nama politikus untuk dipilih. Siapa punya pikiran berbeda seolah diragukan kadar keimanannya.

Prof. Azyumardi Azra mengatakan, persoalan negara tidak bisa diselesaikan dengan ilmu agama seperti fiqih. Negara memiliki permasalahan yang kompleks dan dibutuhkan seorang ahli untuk membenahinya. Dia melanjutkan, unsur agama pada tahun politik ini lebih menonjol, namun yang dibutuhkan saat ini bukan agama, tetapi teknokrasi ekonomi, baik mikro maupun makro. Maka lebih arif jika yang menjadi wakil adalah mereka yang memiliki keahlian ekonomi. “Bagus jika ahli juga di bidang agama”.

Sementara dosen antropologi King Fahd University, Sumanto Al Qurtuby menjelaskan, masyarakat perlu mengawasi gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam. Terlebih jika gerakan Islam tersebut sudah menjalar ke hal yang sifatnya destruktif seperti pembunuhan karakter terhadap lawan politik. Mereka bisa dicirikan seperti tidak segan-segan untuk memobilisasi massa (dan bahkan mengatasnamakan Tuhan) dengan menggunakan sentimen-sentimen primordial agama dan etnisitas demi mencapai kepentingan politik-ekonomi pragmatis.

Dari sini sebetulnya masyarakat bisa menilai pemanfaatan agama oleh golongan tertentu untuk mencapai tujuannya. Mereka, tetap memiliki hak untuk berpendapat di muka umum dan mengajukan usulan yang mereka percayai benar. Namun dalam hal-hal yang terkait kepentingan pragmatis seperti politik, tentu masyarakat harus melihat dan mengukurnya lebih jeli.

Baca Juga :  Nasihat Nabi kepada Asma Agar Tetap Silaturahim kepada Ibunya yang Non Muslim

Kita tidak bisa membiarkan agama terus ditunggangi Machiavellianisme politik.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

  1. sebenarnya Indonesia punya undangan 2 utuk permasalahan seperti ini apa tidak ya? karena sudah sangat meresahkan bahkan tidak hanya polikit tapi juga untuk perdagangan dengan memberikan unsur agama di produk mereka. agama bukan lagi sebagai pedoman bagi sebagian orang melainkan alat untuk mencapai kesuksesan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here