Menunda “Qadha” Puasa Hingga Datang Bulan Ramadan Berikutnya

0
543

BincangSyariah.Com – Melaksanakan puasa qadha Ramadan tidak wajib dilaksanakan segera. Bahkan disebutkan di dalam Shahih Muslim bahwa Aisyah ra meng-qadha puasa Ramadan di bulan Sya’ban.

كان يكون علي الصوم من رمضان. فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان. الشغل من رسول الله صلى الله عليه وسلم أو برسول الله صلى الله عليه وسلم.

Aku memiliki utang puasa Ramadan, aku tidak mampu meng-qadha kecuali di bulan Sya’ban. Kesibukan itu dari Rasulullah saw. atau sebab Rasulullah saw.” (HR Muslim).

Tetapi lebih utama dilaksanakan dengan segera ketika mampu, karena utang kepada Allah Swt. harus segera untuk ditunaikan, dan sebagai bentuk kehati-hatian. Dan jika ia ingin menunda mengakhirkan qadha puasa, hendaknya ia memiliki azam/ tekad yang kuat untuk melaksanakannya di kemudian hari.

Namun, jika ia sengaja menunda qadha puasa tanpa ada tekad untuk menunaikannya, maka ia dianggap bermaksiat. Lalu, bagaimana jika ia menunda qadha puasa hingga datang bulan Ramadan berikutnya?

Di dalam kitab Fathul Mu’in karya imam Zainuddin al Malibari disebutkan

ويجب على مؤخر قضاء لشيئ من رمضان حتى دخل رمضان أخر بلا عذر في التأخير بأن خلا عن السفر أو المرض قدر ما عليه مد لكل سنة فيتكرر بتكرر السنين على المعتمد.

Wajib bagi orang yang menunda qadha karena suatu hal dari puasa Ramadhan sampai datang bulan Ramadan berikutnya dengan tanpa adanya udzur sebab perjalanan atau sakit, maka baginya satu mud untuk setiap tahunnya, dan pembayaran satu mud itu diulangi dengan berulangnya tahun, demikian pendapat yang kuat.”

Jadi, bagi orang yang menunda qadha puasa Ramadan hingga datang bulan Ramadan berikutnya selain harus meng-qadha puasanya tersebut ia juga wajib membayar fidyah berupa memberi makan orang miskin setiap harinya satu mud. 1 mud adalah sama dengan 6 ons atau di bulatkan menjadi 1 kg beras yang diberikan kepada fakir miskin berserta uang lauknya setiap hari (yang ia tinggalkan puasanya). Dan denda fidyah ini akan semakin bertambah dengan berulangnya tahun yang ia biarkan tidak digunakan untuk meng-qadha.

Maka, hendaknya bagi setiap muslim untuk benar-benar memanfaatkan waktu dalam meng-qadla puasa yang ia tinggalkan. Terlebih puasa adalah ibadah yang urusannya dengan Allah Swt.

Baca Juga :  Apakah Bayar Fidyah Boleh Dicicil?

Seyogyanya pula bagi umat Muslim untuk menghitung jumlah puasa yang ia tinggalkan. Karena jika ia meninggal dunia dan belum meng-qadha puasa, maka bagi ahli waris/walinya untuk mengeluarkan harta tinggalan mayat tersebut setiap harinya dua mud. Satu mud sebagai ganti puasa yang ia tinggalkan dan satu mud karena penundaannya, jika walinya tidak menggantikan puasa atas nama mayat tersebut.

Tetapi jika walinya itu sudah menggantikan puasa atas nama dirinya, maka bagi walinya hanya membayarkan satu mud saja sebagai denda atas penundaan qadha puasa yang ia lakukan.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam kitab Fathul Wahhab Bi Syarh Minhajit Thullab karya imam Zakariya al Anshari berikut ini:

(فلو أخر القضاء المذكور)أي قضاء رمضان مع تمكنه حتى دخل أخر( فمات أخرج عنه من تركته لكل يوم مدان) مد للفوات ومد للتأخير لأن كلا منهما موجب عند الانفراد فكذا عند الإجتماع هذا (إن لم يصم عنه) وإلا وجب مد واحد للتأخير وهذا من زيادتي

Maka jika ia menunda qadha tersebut yakni qadha Ramadan disertai kemungkinan baginya (membayarnya di waktu selain Ramadan) sampai datang Ramadan berikutnya, kemudian ia meninggal dunia, maka dikeluarkan dari harta peninggalannya setiap hari dua mud. Satu mud karena untuk pengganti puasa yang ia tinggalkan dan satu mud karena penundaan (yang ia lakukan) kerena masing-masing dari kedua (mud) nya wajib dibayarkan ketika terpisah demikian pula ketika berkumpul, jika walinya tidak mengganti puasa baginya. Dan jika walinya menggati puasa baginya maka wajib dibayarkan satu mud saja karena untuk denda atas penundaan qadha yang ia lakukan. Dan ini adalah dari tambahanku.

Adapun diperbolehkannya berpuasa sebagai ganti daripada puasanya mayat bagi wali atau ahli waris adalah berdasarkan hadis riwayat Aisyah ra. Bahwasannya Nabi Saw. bersabda:

“من مات وعليه صيام صام عنه وليه”

Baca Juga :  Hukum Puasa Bagi Sopir Bus Antar Kota

Siapa yang meninggal dunia, dan ia masih memiliki tanggungan puasa, maka walinya berhak berpuasa atas nama nya.” Muttafaqun Alaih.

Demikianlah penjelasan ketentuan yang harus dilakukan bagi orang yang menunda qadla puasa hingga datang bulan Ramadan berikutnya dengan tanpa adanya uzur karena sakit atau perjalanan padahal ia mampu dan mungkin untuk meng-qadha-nya.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here