Menteri Agama Rilis Panduan Kegiatan Ramadan selama Pandemi Covid-19

2
3321

BincangSyariah.com – Tahun ini bisa menjadi ‘Aam Al-Huzn (Tahun Kesedihan) penduduk dunia, dan umat Islam pada khususnya. Pandemi Coronavirus atau kita kenal dengan istilah Covid-19 masih menjadi momok yang menghantui setiap orang di dunia. Seluruh elemen masyarakat turut serta bahu – membahu memutus rantai penyebaran virus ini, sesuai dengan peran dan fungsinya masing – masing. Tenaga medis mengerahkan segala upayanya untuk menyelamatkan para pasien covid-19, pemerintah aktif memberikan edukasi dan memberikan kebijakan tentang semua hal yang terkait dengan penyebaran virus ini, dan masyarakat diminta untuk mengurangi mobilitas sosial untuk sementara waktu.

Bagi umat Islam, kegiatan Physical Distancing tidak hanya menggoyang mereka secara ekonomi dan emosional, namun juga menggoyang keyakinan mereka secara teologis. Umat Islam, terutama di Indonesia sangat identik dengan ritual – ritual yang sifatnya berkelompok, entah itu ritual yang formal (Mahdhah), maupun ritual yang sifatnya non-formal (Ghairu Mahdah). Kedatangan Covid-19 di Indonesia yang berdekatan dengan gerbang masuk bulan Ramadan membawa kekhawatiran tersendiri bagi umat Islam. Self Isolation seakan – akan mengurung mereka dalam suatu ruangan hingga tak bisa menemui keutamaan – keutamaan bulan Ramadan secara utuh. artikel ini ditulis bertepatan dengan Nisfu Sya’ban, sehingga bisa diasumsikan bahwa Ramadan sudah berada 15 hari didepan mata kita. Kita terus berdoa agar pandemi ini segera berakhir sebelum datangnya bulan suci Ramadan.

6 April 2020 lalu, Menteri Agama Republik Indonesia Fachrul Razi, mengeluarkan Surat Edaran berisi panduan kegiatan bulan Ramadan selama pandemi Covid-19. Dalam surat tersebut, terdapat 17 poin yang disampaikan Menag yang ditujukan kepada seluruh kantor cabang Kementerian Agama dalam skala nasional. Semua adalah protokol pelaksanaan ibadah Ramadan selama Pandemi Covid-19, Ibadah Ramadan dan Idul Fitri selama terjadi Pandemi Covid-19 diatur berdasarkan SE Menag No. 6 Tahun 2020.

Baca Juga :  MUI Rilis Tata Cara Shalat Idul Fitri di Rumah Akibat Pandemi Covid-19

Perlu diketahui, Surat Edaran ini kebanyakan mengatur soal ‘Budaya’ masyarakat kita yang dilaksanakan pada bulan Ramadan, dan mengatur sebagian kecil syariat ibadah. Misalkan, Sahur adalah syariat Islam, sedangkan Sahur on the road adalah budaya. Artinya, Syariat pun masih bisa berjalan meskipun budayanya sedang tidak bisa berjalan.

Ada empat poin tema syariat dalam Surat Edaran tersebut, yaitu Jama’ah Shalat Tarawih, I’tikaf, Zakat Fitrah, dan Shalat Idul Fitri. Menag mengimbau agar pelaksanaan Shalat Tarawih dilakukan di rumah masing – masing bersama keluarga. I’tikaf selama 10 malam terakhir di bulan Ramadan secara bersama-sama di masjid juga tidak diperbolehkan. Pembayaran dan Pendistribusian Zakat Fitrah diusahakan agar semakin meminimalisir adanya kontak fisik. Sedangkan Shalat Idul Fitri masih dalam tinjauan MUI. Semua tak lain untuk kemaslahatan yang lebih besar yaitu memutus rantai pandemi Covid-19.

Panduan lainnya berbicara tentang budaya yang biasa dilakukan masyarakat selama Ramadhan. Misalnya buka puasa bersama (Ifthar Jama’i), Tadarus di Masjid / Mushalla, Sahur On The Road, Pengajian Umum Nuzulul Qur’an, Takbir dan Tarawih Keliling, Pesantren kilat, dan Halal bi Halal hingga silaturrahim  setelahShalayIdul Fitri. Semua kegiatan yang sifatnya bermuatan budaya harus diupayakan untuk dihindari sementara waktu. Berbuka puasa di rumah tidak akan mengurangi esensi dari puasa itu sendiri, bahkan esensi berbukanya.

Sedangkan kegiatan – kegiatan yang bisa dilakukan jarak jauh disarankan tetap dilakukan. Seperti pengajian umum Nuzulul Quran dapat tetap dilakukan via live Instagram, Pesantren Kilat Online, maupun silaturrahim melalui Teleconference. Tidak mengadakan pengajian Nuzulul Qur’an dalam kondisi darurat saat ini tentu tidak mengurangi keimanan kita terhadap Al-Qur’an. Pesantren kilat yang dilaksanakan secara online semestinya tak menyurutkan semangat kita untuk berburu ilmu selama bulan Ramadan. Dan silaturrahim melalui teleconference seharusnya semakin memperkuat persaudaraan kita sesama muslim dan dalam kemanusiaan.

Baca Juga :  Ulama-Ulama yang Wafat Akibat Wabah Penyakit

Karena itu semua ditujukan bukan untuk membenci, tapi justru karena kita menyayangi orang – orang disekitar kita. Karena Surat Edaran Menteri Agama ini Menag no.06 tahun 2020 ini sifatnya nasional, maka tentu akan sangat ideal bila kita ikut anjuran tersebut bersama – sama. Karena keselamatan kita saat ini juga tergantung keberhati – hatian orang lain. Mari kita saling menjaga dengan tetap di rumah saja, agar bisa beribadah kembali dengan nyaman nantinya, setelah pandemi ini berlalu.

2 KOMENTAR

  1. Surat edaran Menag no.06 th 2020 yg sifatnya nasional ini menurut hemat kami tdak bsa dberlakukan diseluruh pelosok negri, karena tidak semua pelosok negri terpapar covid 19, menag seharusnya memperhatikan kaidah2 islam sbelum mengeluarkan surat edarannya.
    Dalam ushul fiqh disebutkan:
    الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما
    Hukum itu berkisar antara ada atau tiadanya illat (sebab).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here