Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia Secara Kaffah

3
852

BincangSyariah.Com – Salah satu nikmat agung yang diberikan Allah kepada masyarakat Indonesia adalah nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman dan penindasan para penjajah. Kemerdekaan ini diproklamasikan langsung oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno (Bung Karno), pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. (Baca: Haji Bilal Djokja: Donatur Muhammadiyah dan NU di Awal Kemerdekaan)

Oleh karena itu, ketika bulan kemerdekaan (Agustus) tiba, maka masyarakat Indonesia menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) dengan gegap gempita. Menyambut HUT RI ini bisasanya dengan mengadakan beberapa kegiatan positif, seperti: memasang bendera Merah Putih; mengecat gapura dengan warna merah putih; mengadakan upacara bendera; menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional lainnya; mengadakan karnaval, lomba gerak jalan, dan beberapa lomba lain; dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Beberapa kegiatan positif ini merupakan bagian dari tahadduts binni‘mah kebangsaan yang dilakukan di bulan kemerdekaan (Agustus).

Mensyukuri Dua Nikmat Dambaan Seluruh Manusia

Imam ar-Razi menyebutkan bahwa nikmat-nikmat Allah secara garis besar terbagi menjadi dua macam, yaitu: menolak kemudaratan (daf‘u adh-dharari) dan mendatangkan kemanfaatan (jalb an-naf‘i).

Menolak kemudaratan adalah lebih penting dan utama daripada mendatangkan kemanfaatan. Sehingga para ulama berpendapat bahwa menolak kemudaratan terhadap jiwa adalah wajib.

Sedangkan mendatangkan kemanfaatan adalah tidak wajib. Oleh karena itu, nikmat-nikmat yang diberikan Allah harus dibalas dengan syukur dan ibadah (at-Tafsir al-Kabir, 1981, XXXII: 107).

Dua macam nikmat tersebut disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an surat Quraisy (106): 4, yaitu: “yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”

Menurut Habib M. Quraish Shihab, kecukupan pangan (pertumbuhan ekonomi) dan jaminan (stabilitas) keamanan adalah sangat penting bagi kebahagiaan hidup masyarakat. Oleh karena itu, kedua hal itu penting dimohon kepada Allah dan disyukuri dengan beribadah kepada-Nya. Mengingat keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain (Tafsir al-Misbah, Volume 15, 2003: 539).

Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi sangat memengaruhi stabilitas keamanan dan stabilitas keamanan sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Baca Juga :  Mengapa Ahli Fikih Harus Kekinian?

Kedua hal inilah yang diperjuangkan oleh setiap pemerintah masing-masing negara di dunia. Bahkan Nabi Ibrahim as. dahulu memohon dua hal ini (kecukupan pangan dan keamanan) kepada Allah ketika berkunjung ke Mekah, sebagaimana diabadikan dalam al-Baqarah (2): 126 (hlm. 539-540).

Dengan demikian, kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan nikmat Allah yang harus senatiasa disyukuri oleh masyarakat Muslim Nusantara.

Sebab, berkat nikmat kemerdekaan dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini mereka terhindar dari kemudaratan dan mendapatkan kemanfaatan.

Setidaknya mereka bisa hidup tenang bersama sanak saudara dan melaksanakan praktik keislaman secara merdeka dan aman di bumi Nusantara.

Menyemarakkan Tahadduts Binni‘mah Kebangsaan di Bulan Kemerdekaan

Kemerdekaan bangsa Indonesia dan terbentuknya NKRI sesuai dengan tujuan imamah/khilafah (pemerintahan) yang sangat ditekankan dalam Islam, yaitu menjalankan fungsi kenabian dalam memelihara agama dan mengelola urusan-urusan keduniaan.

Para ulama sepakat bahwa hukum membentuk negara (pemerintahan) adalah wajib. Mereka berbeda dalam hal: apakah membentuk pemerintahan wajib berdasarkan syariat atau akal? Menurut sebagian kelompok ulama, wajib berdasarkan perintah syariat (al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, 2006: 15).

Adapun kelompok ulama lain berpendapat bahwa membentuk pemerintahan adalah wajib berdasarkan akal. Mengingat tabiat orang-orang berakal (manusia) memang menghendaki penyerahan urusan-urusan mereka kepada seorang pemimpin (pemerintah).

Hal ini agar seorang pemimpin bisa mencegah terjadinya kezaliman dan mengatasi segala pertentangan dan perkelahian di antara mereka. Sebab, apabila tidak ada pemerintahan, maka kekacauan, kerusakan, dan penyerbuan akan terjadi di mana-mana (hlm. 15).

Oleh karena itu, tidak heran apabila ada ungkapan (yang disinyalir dari Ibn Taymiyyah): lasittuna ‘aman fi sulthanin ja’irin ashlahu min lailatin bi la sulthanin/enam puluh tahun di bawah rezim (pemerintahan) yang zalim lebih baik daripada semalam tanpa rezim.

Sekali lagi, karena apabila tidak ada pemerintahan, maka kerusuhan, kekacauan, dan pertumpahan darah akan terjadi di mana-mana. Hal ini merupakan kemudaratan yang tidak dihendaki syariat Islam karena sangat bertentangan dengan maqashid asy-syari‘ah (tujuan syariat Islam).

Baca Juga :  Hari Santri Nasional dan Peran Santri Untuk Kemerdekaan

Selain itu, negara Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 telah menjamin dan memelihara lima kemaslahatan primer (dharuri) yang merupakan maqashid asy-syari‘ah, yaitu:  menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta-benda (Imam al-Gazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, I: 313). Dengan demikian, meskipun Indonesia bukan negara Islam, tetapi ia sangat Islami karena sesuai dengan maqashid asy-syari‘ah.

Dalam konteks menjaga agama, misalnya, masyarakat Muslim Nusantara bisa menjalankan ajaran-ajaran Islam (baik salat, haji, puasa, maupun zakat) secara merdeka, aman, dan tenang.

Bahkan mereka bisa mengajarkan, menyebarkan, dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam (baik melalui lembaga pendidikan maupun pengajian) secara merdeka, aman, dan tenang.

Dengan demikian, fa biayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban (maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?).

Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat Muslim Indonesia tahadduts binni‘mah atas nikmat kemerdekaan dan terbentuknya NKRI.

Menurut Sayyid Quthub dan Syekh Ahmad ash-Shawi, tahadduts binni‘mah merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan (Fi Zhilal al-Qur’an, 1972, VI: 3928 dan Tafsir ash-Shawi, IV: 328). Istilah tahadduts binni‘mah ini dipahami dari ketentuan surat adh-Dhuha (93): 11, yaitu: “dan terhadap nikmat Tuhan-mu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

Menurut para ulama muhaqqiq, hukum tahadduts binni‘mah adalah boleh secara mutlak. Bahkan ia dianjurkan (sunah) apabila ditujukan menjadi media pendidikan agar orang lain meniru perbuatan itu (tahadduts binni‘mah) dan menyebarkan rasa syukur kepada Allah.

Namun, apabila seseorang tidak aman dari rasa bangga, riya’, dan sombong, maka dia tidak boleh melakukan tahadduts binni‘mah (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, 2009, XV: 677).

Tahadduts binni‘mah secara sederhana adalah menceritakan nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah sebagai bagian dari rasa syukur.

Namun demikian, makna tahadduts binni‘mah bukan semata-mata menceritakan (menyebut) nikmat tersebut kepada orang lain, tetapi juga meliputi makna mensyukuri dan mendermakannya (Tafsir al-Misbah, hlm. 345 dan Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 10: 8036-8037).

Baca Juga :  Apa yang Dimaksud Dengan Syirik Pemerintah?

Dengan demikian, setiap Muslim harus senantiasa mensyukuri dan mendermakan nikmat yang diberikan oleh Allah, baik berupa keimanan, kesehatan, kepandaian, kekuatan, kekayaan, maupun kekuasaan (kedudukan).

Salah satu bentuk tahadduts binni‘mah keimanan adalah meningkatkan keimanan dan melaksanakan ajaran-ajaran agama secara sungguh-sungguh; tahadduts binni‘mah kesehatan adalah menggunakan kesehatan untuk beribadah dan berbuat kebajikan kepada sesama; tahadduts binni‘mah kepandaian adalah mengamalkan ilmu yang dimiliki dan memerangi kebodohan; tahadduts binni‘mah kekayaan adalah mendermakan harta-benda untuk kemaslahatan umum dan melawan kemiskinan; dan tahadduts binni‘mah kedudukan adalah menegakkan keadilan, mewujudkan kemaslahatan, dan menunaikan amanah sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Adapun dalam konteks keindonesiaan, maka warga negara Indonesia tidak hanya mencukupkan diri dengan tahadduts binni‘mah tahunan, tetapi juga harus melengkapi dengan tahadduts binni‘mah harian. Salah satu bentuk tahadduts binni‘mah tahunan adalah memperingati dan menyemarakkan HUT RI. Sementara bentuk tahadduts binni‘mah harian adalah meningkatkan ibadah kepada Allah, memelihara, mengembangkan, dan memajukan NKRI sesuai koridor Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Tahadduts binni‘mah harian dan tahunan ini selain sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kemerdekaan dan terbentuknya NKRI, juga sebagai rasa syukur (terimakasih) kepada para leluhur yang telah mengorbankan pikiran, kekuatan, harta, dan bahkan jiwa untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari kezaliman dan kebengisan para penjajah.

Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw., yaitu: la yasykurullah man la yasykurunnas (seseorang tidak dikatakan bersyukur kepada Allah apabila tidak bersyukur/berterimakasih kepada manusia).

Menurut Imam at-Tirmidzi, hadis ini adalah sahih (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2000: 2007). Hadis lain adalah: man lam yaskurinnas lam yasykurillah (barangsiapa yang tidak bersyukur/berterimakasih kepada manusia, maka dia sama saja tidak bersyukur kepada Allah). Akhirnya, Dirgahayu Republik Indonesia Ke-75. Sekali Merdeka Tetap Merdeka! Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here