Menolong Orang yang Dizalimi

1
222

BincangSyariah.Com – Akibat tensi politik yang urung turun media sosial kita masih diramaikan dengan diksi menakutkan semacam zalim, munafik, fasik, dan lain sebagainya. Seolah-olah tidak ada kata lain yang pantas disematkan kepada pihak tertentu akibat perbuatannya. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan zalim? Penulis akan mengulas sedikit mengenai kata ini.

Secara istilah jika kita merujuk pada kitab-kitab mu’tabarah yang dikenal di pesantren, zalim seringkali didefinisikan dengan meletakkan sesuatu yang bukan semestinya (wadh’u syai fi ghairi maudhi’ihi). Dalam arti sederhana zalim itu berkaitan dengan perbuatan yang semestinya tidak dilakukan. Definisi ini amat luas mencakup segala bentuk perbuatan buruk dan tercela.

Imam al-Thayalisi sebagaimana mengutip sahabat Anas bin Malik R.A mengklasifikasikan perbuatan zalim ke dalam tiga kategori. Pertama, zalim yang pasti tidak diampuni Allah swt yaitu dosa syirik. Hal ini sebagaimana dalam Q.S Luqman : 13 “inna al-syirka lazulmun ‘azhim”  sungguh syirik itu adalah zalim yang paling berat. Kedua, zalim yang masih dapat diampuni Allah swt yaitu perbuatan dosa yang berkaitan dengan seorang hamba dengan Rabbnya. Ketiga, zalim yang ditangguhkan pengampunannya yaitu perbuatan zalim seorang hamba kepada orang lain. Zalim kategori ketiga ini harus menunggu pemberian maaf dari orang yang dizalimi terlebih dahulu, setelah itu baru Allah swt memberikan ampunan.

Dari klasifikasi di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa dibandingkan dengan zalim yang lain, perbuatan zalim kepada sesama makhluk lebih berat akibatnya karena harus mendapatkan ridha orang itu terlebih dahulu baru mendapatkan ampunan dari Allah swt.

Lalu bagaimana hukum menolong orang yang dizalimi ?

Untuk menjawab pertanyaaan ini, ada sebuah kisah yang diambil dari kitab Irsyad al-‘Ibad ila Sabil al-Rasyad karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Diceritakan bahwa malaikat Munkar dan Nakir menemui seseorang di dalam kuburnya seraya berkata, “kami akan memukulmu dengan seratus pukulan.” Orang yang didatangi tersebut kemudian meminta keringanan hukuman (syafa’at) karena telah melakukan perbuatan baik. Allah swt mengabulkan keringanan sehingga hukumannya menjadi sepuluh pukulan. Ketika akan dihukum, si orang yang sudah di alam kubur itu meminta keringanan lagi, akhirnya tersisa satu pukulan saja.

Baca Juga :  Ini Tujuh Orang yang Tak Ditanya Malaikat Munkar dan Nakir di Alam Kubur

Kedua malaikat itu langsung memukulkan ‘gada’nya kepada orang itu. Kuburan itu pun dipenuhi api karena saking kerasnya pukulan malaikat tersebut. Orang itu pun lalu bertanya, “mengapa kalian tetap memukulku? Padahal aku ingin meminta syafaat lagi agar tidak dihukum.”

Malaikat pun menjawab, “suatu ketika kamu melewati seseorang yang meminta pertolongan karena dizalimi (mazhlum) tetapi kamu mengabaikannya, padahal kamu mampu menolongnya. Itulah akibat dari perbuatanmu.”

Bisa dibayangkan jika tidak menolong orang yang dizalimi adalah perbuatan dosa, maka apalagi orang yang berbuat zalim kepada orang lain?! Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here